Meet You Again

Meet You Again
Gundah



Lian kehilangan konsentrasi dalam bekerja. Beberapa kali dia mengucapkan perkataan yang nggak bisa di mengert Klien, seolah hati dan pikirnnya nggak sinkron dengan apa yang di ucapkan.


"Pak Lian, apa kita atur ulang saja pertemuan hari ini?."


Lian panik, bisa bahaya kalau Klien ini sampai kecewa dengan kinerjanya"Maaf pak Rocky, saya kurang berkonsentrasi."


"Biar saya yang ambil alih, kita biarkan pak Lian ini menetralkan pikirannya dulu. Gimana pak Rocky?" ujar Vino dengan ramah.


"Tentu aja, kalian memang rekan kerja yang solid. Saling mengisi kekurangan. Teamwork nya patut di acungi jempol" puji pak Rocky seraya mengacung jempol ke arah mereka berdua.


"Saya pamit ke Counter drink dulu ya" ujar Lian pamit diri yang langsung di angguki Rocky.


Dia memesan kopi hitam dan langsung menyeruput nya di sana. Sungguh, pikirannya terbagi kepada Kaila yang mulai menjauhinya, bahkan...meminta putus.


"Aku aja belum kasih penjelasan. Kenapa dia main putus aja!!" gumamnya putus asa.


Di tengah diskusinya bersama Klien, sesekali Vino melirik Lian di Counter drink.


"Penjelasan anda lebih mudah di pahami pak Vino" ujar rekan kerja Rocky.


"Hehe, pak Lian biasanya nggak seperti ini. Masalah hati memang memusingkan."


"Hahaha, pantas saja" sahut pak Rocky. Mereka semakin terkekeh ketika Lian mendekat dan kembali duduk ke posisi awal.


"Oke, kita lanjutkan via email ya pak" ujar Rocky lagi.


"Sip pak Rocky, kalau begitu kami pamit dulu ya" tukas Vino bersiap beranjak.


"Baru juga di minum dikit Vin" Lian menghentikan Vino yang hendak pergi ke cafe. Sepertinya Vino kangen yayang Jovana.


"Hemm, sedang galau ya pak Lian?."


Lian manyun menanggapi perkataan Heru, rekan kerja Rocky. Karena sesama pria, dan merasa cukup dekat dengan mereka, Lian pun menumpahkan keluh kesah di dada, sekalian meminta masukan dan pendapat tentang apa yang harus dia lakukan terhadap Kaila.


"Jelasin aja kalau pak Lian emang nggak ada hubungan sama Rani" tegas Heru.


"Dia nya nggak mau di ajak bicara" sahut Lian pelan, terdengar putus asa.


Di Cafe Ceria.


Ben menatap tubuh kecil Enda yang tertidur pulas. Dengan terpaksa dia harus ikut Ben bekerja. Anak sekecil itu harus ikut begadang di Cafe, berama Ayah yang baru semingguan ini dia kenal. Dan selama seminggu ini nggak sekalipun dia menanyakan perihal Andara kepada Ben.


Ben mengusap rambut hitam tebal Enda"Kamu harus sekolah, dan mungkin Ayah akan mencari pekerjaan lain" Ujarnya bergumam.


Nggak mungkin dia terus bekerja di bar dengan membawa Enda. Duda satu anak ini berpikir sejenak, mengotak atik nomor kontak ponselnya.


"Sama Lian??" Ben gumamnya"Akh, aku nggak ngerti kerja kantoran."


"Apa balik menjadi Chef??" pikirnya lagi. Tapi tetap saja dia harus meninggalkan Enda jika dia bekerja menjadi Chef lagi. Sementara itu Ben mengingat-ingat uang simpanan di Bank, sepertinya untuk sementara keuangannya sangat kuat kok.


Otaknya terus berputar mencari-cari jalan keluar"Ayah" panggil Enda. Anak kecil itu sudah terbangun dar tidur siangnya.


"Laper nggak??" tanya Ben. Enda mengangguk.


"Ayah bikinin makanan ya" ujar Ben lagi.


"Masakan ayah Enak" sahut Enda dengan senyum manis nan menggemaskan. Ben menanggapi nya dengan senyuman pula.


Enda pun bergegas mengatur meja makan. Berjinjit-jinjit dia meletakan piring dan mengambil air minum untuknya. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya, dan Ben sudah hafal betul. Makan dan berpakaian pun dia terbiasa melakukannya sendiri, Ben seakan tertampar dengan ke-disiplinan yang di tampakkan Enda.


"Enda mau sekolah??" tanya Ben di sela aktivitasnya.


Anak itu menatapnya dengan mata bulat yang mirip seperti Andara"Mau" jawabnya singkat.


"Tapi Ayah cuman bisa mengantar dan menjemput saja. Nanti di sekolah Enda bisa sendiri kan?, Ayah rencananya mau pindah kerjaan" seolah berbincang dengan orang dewasa, Ben sudah mulai terbiasa berbincang seperti itu dengan Enda.


"Sekolahnya jauh enggak Yah?."


"Kalau begitu Enda bisa berangkat sendiri Ayah, pulang juga sendiri. Ayah bikinkan bekal yang enak ya. Enda nggak akan jajan lagi di sekolah."


Serasa pilu di sayat sembilu hati Ben mendengar perkataan Enda. Apakah anak ini mencoba mengurangi pengeluaran biaya hidupnya?. Sekeras apa kehidupannya bersama Frans kemarin?.


Trtrrr!!!, Andara Calling. Sebelum pergi Andara dan Ben bertukar nomor agar dapat saling memberi kabar, tentang Enda kepada Andara atau sebaliknya.


"Ini, Mamah telepon."


"Enda nggak mau ikut Mamah" ujarnya datar.


Ben mengangguk sambil menerima panggilan"Ya, halo" sahutnya.


"Enda gimana?."


"Ini, dia baik-baik saja."


"Tolong rawat dia dengan baik Ben. Aku mohon, Mas Frans sudah tau dia bersamamu."


"Jika dia datang menemuimu tolong jauhkan Enda darinya, aku mohon!."


Ben nggak bisa menahan rasa penasarannya lagi"Sekejam apa perlakuan Frans kepada Enda?, kalian menguncinya dalam lemari?, kalian menculiknya?."


Hanya terdengar isak tangis Andara di ujung telepon, alih-alih jawaban atas semua pertanyaan itu.


"Kamu tau Andara, dia sangat jauh lebih dewasa dari umurnya. Apa yang telah kalian lakukan kepadanya??" ada rasa amarah dalam perkataan Ben kali ini.


"Sejak berusia lima tahun dia banyak menghabiskan waktunya di kamar" Andara mulai bercerita.


"Jika frans menengok ke dalam kamar, bukan belaian sayang yang dia berikan. Frans terus menekankan kepada Enda kalau ingin tetap beramaku, dia harus menjadi anak yang patuh. Anak yang tidak merepotkan. Makanan apapun yang di berikan selalu dia makan hingga habis."


"Dia takut hujan dan petir seperti kebanyakan anak lainnya, namun kalau dia menangis Frans akan mengurungnya di dalam lemari dan hanya di temani sebuah sentar."


"Dia di paksa mandiri sejak kecil, Ben. Dia juga nggak bisa bermain berama anak-anak yang lain. Karena wajahnya yang sangat jauh berbeda dengan Frans, juga nggak terlalu mirip denganku, orang-orang sempat bertanya tentang kebenaran anak siapa dia."


Hati Ben hancur berkeping-keping. Sekeras itu kehidupan yang harus di jalani Enda di rumah yang mewah dan megah itu.


"Kamu, nggak usah mengkhawatirkan Enda. Aku akan mengurus semuanya."


"Dan, jaga Frans mu itu. Jangan sampai aku berhadapan dengannya. Aku bisa mengadukannya ke pihak berwajib, atau mungkin menghajar hingga mati" ancam Ben.


"Baiklah Ben, aku percayakan dia kepadamu." Sahut Andrea terdengar lega, setidaknya Enda sudah pasti aman bersama Ben.


"Aku akan rutin mengirimkan uang untuk biaya hidupnya----."


"Nggak usah. Uangmu adalah uang dari Frans. Aku nggak mau putraku memakan uang dari pria kejam sepertinya!" Ben menegaskan.


"Tapi Ben...Enda---."


"Sudahlah..Enda akan aku sekolahkan. Kamu nggak usah memikirkan dia lagi" Ben menutup panggilan.


"Ayah keren" sambar Enda dengan mengacungkan dua ibu jari ke arah sang Ayah.


Ben yang awalnya kesal jadi terkekeh mendengar perkataan Enda"Kamu memang anak Ayah, selalu ceria ya nak."


"Hihihi, siap ayah" Enda merangkak naik ke meja makan dan memeluk Ben.


Untuk kesekian kali nya Ben terenyuh dengan tingkah laku Enda"Apakah Ayah membebaskanmu dari sangkar emas?" tanya Ben asal.


"Enda bukan burung Ayah" jawabnya polos. Mereka terkekeh, tertawa bersama. Pegangan Enda begitu erat di pundak Ben, dia merasa hidup bebas sekarang. Hari-hari menyenangkan sudah menantinya di depan sana, dan di mulailah kehidupan penuh warna dari kedua lelaki tangguh ini.


To be continued...


~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.