Meet You Again

Meet You Again
Syarat dan ketentuan berlaku



Tengah berhadapan dengan ujian cinta, Jovana meminta kepada Vino untuk tak menemuinya dahulu. Bukan karena benci, apalagi akan menyerah dalam cinta mereka. Hanya saja Jovana merasa sedikit takut ketika melihat Vino. Rasa cinta yang terus berkembang, mengundang rasa takut akan kehilangan si brondong kinyis-kinyis.


Merasa kehadirannya ditolak oleh sang kekasih, Vino pun dengan terpaksa menikmati makan siang di kantin. Melangkah dengan kaki terseok-seok, kehilangan semangat karena hari ini belum berjumpa dengan Jovana"Memangnya aku hantu!?. Kenapa dia harus takut melihatku" gerutu Vino seraya mendudukan diri di kursi kosong"Aku tuh kangen berat!!. Kenapa sih dia kayak nggak ngerti banget sama aku."


Pelayan kantin gegas mendatangi Vino, menanyakan hidangan apa yang akan dia nikmati siang ini. Pemuda tinggi dengan kulit putih ini memesan mie ayam. Namun saat hidangan itu telah tersedia di depan matanya, tanpa selera dia menyantap mie itu, tanpa saos dan kecap.


Di tengah keresahan Vino, Fatur datang bersama Pak Ridwan. Dua pria ini pun mengambil duduk di tempat yang sama dengan Vino"Nah!!! galau melanda ya?. Baru juga dapat ujian segitu" Fatur berucap.


"Pak Vino Kenapa sih?. Saya perhatikan dari tadi kayaknya nggak semangat banget" Ridwan menimpali.


"Biasalah, urusan hati."


Kedatangan Fatur dan Ridwan seolah tak disadari oleh Vino. Pemuda ini masih terhanyut dalam pikiran yang mengusik hati.


Mie ayam yang pucat pasih itu tak jauh beda dengan raut wajah orang yang menyantapnya"Tok tok!!" meja di ketuk.


Tatapan Vino beralih kepada Fatur"Si biang kerok!!!. Sekarang kamu senang hubungan kami jadi seperti ini karena mulut embermu" gerutu Vino dengan kedua alis menyerngit, menatap tajam pada Fatur.


"Ya elah, baru juga segitu. Selow bro, selow!!. Kamu nggak semangat banget sih. Itu mie ayam apa kabar?, enak putihan kayak gitu?" Fatur cuek kembali mengetuk meja. Sedangkan Ridwan, dia hanya cengengesan memperhatikan Fatur dan Vino.


"Jangan tanyain masalah rasa deh!, udah untung aku masih mau makan. Gara-gara kamu Jovana jadi nggak mau makan siang sama aku."


"Oho, beneran masalah hati rupanya. Ya sudah sini aku bantuin tambahin saos sama kecapnya mie ayam itu" Ridwan dengan senang hati melayani pasien galau karena cinta ini.


"Tuh, kalau kayak gini kan sedep juga di pandang, rasanya juga lebih mantul cuy."


"Terserah deh, hati aku bener-bener sepi nih. Ibarat ambulan tanpa wiuw-wiuw- wiuw" sendok dan garpu Vino letakan di pinggir mangkok.


"Buakakakkaa, lebay mah lebay aja. Baru juga nggak makan siang bareng. Bagaimana aku yang nggak ketemu bertahun-tahun" Fatur geli sendiri melihat penderitaan Vino yang di anggapnya berlebihan.


"Hfffuph!! cinta emang ribet. Mending kayak aku nih, nggak pusing mikirin pasangan" dengan bangga Ridwan pamer status jones abadi yang di sandangnya.


"Ini lagi, jomblo menahun di pamerin. Jangan lama-lama membujang, Ridwan. Entar lapuk di makan usia."


"Kucrut..!!" Ridwan melempar kotak tisu ke lengan Fatur.


Di kediaman Vino.


Bunda bersiap mengunjungi suaminya ke kantor. Hatinya belum tenang karena masalah Vino. Usai berdandan rapi dia berangkat menuju kantor.


Para karyawan memberi salam dan menyapa ketika Bunda memasuki area perkantoran. Hingga sampailah dia di depan pintu ruangan Hermanto.


"Bapak ada ??" dia bertanya pada karyawan yang bertugas di depan ruangan Hermanto.


"Ada bu. Mari saya antar ke dalam" segera karyawan itu mengawal Bunda masuk ke dalam ruangan Hermanto. Setelah karyawan itu permisi, merekapun mulai berdiskusi panjang lebar.


"Bunda nggak usah pusing, kita nikahkan saja mereka. Toh Vino sudah cukup umur untuk menikah" Hermanto nampak masih sibuk dengan beberapa dokumen, sesekali dia menatap ke layar komputer. Meski begitu, dengan setia Hermanto mendengarkan segala keluh kesah sang istri.


"Ayah!! wanita itu dewasa banget. Usia mereka terlampau lima tahun."


"Bagus dong Bund. Vino kan anaknya manja, suka lenjeh-lenjeh. Wanita itu bisa menjadi sandaran untuk Vino. Setidaknya dengan menikahkan Vino dengannya, beban kita akan sedikit berkurang."


Ucapan Hermanto membuat Bunda geleng-geleng kepala, enggak menyangka sang suami menganggap Vino adalah beban"Kok beban sih Yah!!!. Vino kan anak sama tahu wayang kita!."


"Tentu saja menjadi beban Bunda. Lihat saja kelakuannya, menginap di tempat wanita yang bukan mahramnya. Kalau nggak menikahkan mereka memangnya kita harus apa?. Bunda yakin anak semata wayang kita itu masih polos??" Hermanto menghentikan aktivitasnya dan menata lekat dua manik indah sang istri.


"Ayah---" ucapan Bunda tertahan.


"Ayah berencana menikahkan mereka, dengan catatan Vino harus melepaskan semua fasilitas yang kita berikan. Semua ini adalah konsekuensi atas kelakuan dia sendiri."


Bunda shok dengan perkataan Ayah"Uang gajinya aja di habisin sendiri, malah sering minta sama Ayah lagi kan. Boro-boro mau menikah! mau di kasih makan apa wanita itu!."


"Tapi Ayah----."


"Sudahlah!. Vino ngasih alamat Jova nggak sama Bunda?" tanya Hermanto.


Bunda geleng-geleng lagi kepala"Vino nggak mau ngasih alamat Jova pada kita. Katanya dia nggak mau hubungannya menjadi kacau, seperti hubungan Fatur dan Mey."


Hermanto mengusap wajahnya kasar, bergegas pria paruh baya ini menghubungi sang sekretaris dan berkata"Hubungin Vino, suruh dia menemui saya sekarang juga!."


Wajah bunda terlihat panik. Rasanya nggak rela kalau harus menikahkan sang putra dengan wanita itu. Wanita yang bahkan belum pernah di jumlainya secara langsung.


Hermanto meraih jemari sang istri memegangnya dengan erat"Kamu tenang saja, semua ini akan baik-baik saja. Setidaknya dia nggak menghamili anak gadis orang. Kalau sampai hal itu terjadi, kita akan menanggung derita itu seumur hidup."


Perlahan Bunda mengangguk, dengan terpaksa menyetujui perkataan sang suami.


Tak berapa lama Vino hadir di hadapan kedua orang tuanya. Duduk tegang di hadapan sang Ayah.


"Lekas hubungi Jova sekarang juga, katakan padanya kami ingin bertemu" ujar Hermanto bernada serius.


Wajah Vino semakin tegang, pria ini terdiam, saking terkejutnya.


Brak!!" Cepat!"


Vino semakin terkaget. Tubuhnya sedikit melompat"Bunda! nggak pake pukul meja juga dong." Ujarnya memberanikan diri bicara.


"Memangnya mau ngapain ketemu Jova?"


dia berhati-hati menghadapi Ayah dan Bunda.


"Mau Bunda siarin di televisi?" ujar Bunda kesal.


"Ngapain?? emang Jova artis??" sahutnya ngotot.


"Kami nggak akan nyakitin Jova. Cepat suruh dia ke sini, sekarang!!" ujar Hermanto dengan tampang serius.


Biasanya hermanto nggak begini. Pembawaannya tenang dan santai. Sangat berbeda dengan Vino yang suka jumpalitan kesana kemari.


"Nanti deh, Vino pikir-pikir dulu" ujarnya, masih menolak keinginan kedua orang tuanya.


"Kamu mau di kawinin nggak??!!" hardik Hermanto habis kesabaran.


"Eh??.!!" Vino yang awalnya hendak kabur tiba-tiba duduk kembali.


"Iya, kamu mau Ayah kawinkan sama Jova. Itu kalau dia memenuhi kriteria sebagai istri. Cepat bawa Jova ke hadapan Ayah."


Vino menatap kedua orang tuanya bergiliran. Bunda manyun-manyun" Kita beli kucing dalam karung dong, Yah. Tiba-tiba di ambil jadi mantu" celotehnya.


"Seriusan Yah? kalau gitu nanti malam Vino akan ajak dia ke rumah."


"Oke Bund??" ujarnya ingin lebih memastikan persetujuan kedua orang tuanya itu, terlebih Kepada Bunda.


Hermanto memberikan isyarat mata kepada sang istri agar mengangguk, menyetujui perkataan sang putra. Dan anggukan dari Bunda membuat Vino senang bukan kepalang. Akhirnya tanpa diduga-duga, dia akan segera menikahi kekasih pujaan hati.


To be continued..


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen.


Salam anak Borneo.