Meet You Again

Meet You Again
Mega yang manis



Sebuah pemandangan yang langka. Seorang Mega Baskoro memohon ampun dan maaf kepada gadis, yang sangat di bencinya selama bertahun-tahun.


Sekali saja tindakan kebaikan atas dasar kemanusiaan yang di lakukan sang gadis terhadap keluarganya, maka terpatahkanlah segala kesombongan dan keangkuhan dalam diri seorang Mega Baskoro.


"Bagaimana keadaan kamu, Mey??" kata pertama yang keluar dari mulutnya ketika duduk menghadapi Mey, yang masih terbaring di ranjang pesakitan.


Mey hanya bisa memasang wajah datar di hadapannya. Hal ini sangat di luar dugaan. Tak pernah sekalipun Mey terpikir hal se-aneh dan se-canggung ini akan memerangkap mereka berdua. Mereka yang biasanya terlibat dalam percakapan penuh hujatan, cacian dan makian.


"Sudah lebih baik tan---te" nada bicara Mey terdengar aneh. Lempeng nggak ada selera. Dia sendiri saja bingung dengan suara yang dia keluarkan.


Tiba-tiba jemari yang biasa menunjuk tepat di hadapannya, kini menggenggam erat jemari-jemari kecil Mey.


"Ah!!----"Mey tersentak.


"Maaf!!." Kedua mata Mega perlahan membentuk anakan sungai, yang semakin lama semakin membanjiri kedua pipinya. Nafasnya terasa berat, sebab menahan begitu banyak rasa penyesalan di dalam sana.


"Aku bahkan mengancam akan memutuskan hubungan dengan Fatur, jika kamu menolak meninggalkannya."


Wulan, Ibunda Mey tercengang mendengar perkataan Mega. Ingin rasanya ikut berargumen bersama mereka. Namun anak gadisnya bukanlah anak ingusan lagi, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Wulan akan maju kalau Mey memang meminta perlindungan.


"Aku terlalu berpikiran jahat tentang kamu. Aku menepis kenyataan kebaikanmu dan meracuni diriku sendiri hingga beranggapan kamu bukan wanita yang pantas untuk putraku."


Ujung mata Fatur melirik nanar kepada Mega.


Sruk!!, Mey menarik ujung jemarinya, seakan memintanya duduk menghadapi sang Mamah, dengan dirinya sebagai perantara.


"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya tante. Nggak mudah sih melupakan semu pujian-pujian tante, tapi nggak akan ada habisnya kalau kita terus menatap kebelakang. Sedangkan masa depan sedang menunggu kita untuk menatanya menjadi masa depan yang cerah."


"Wuiiihhh, sadar dari koma gadis kesayanganku menjadi bijaksana begini" gumam hati Fatur.


"Hick!!hick!!, bodohnya aku memalingkan pandangan dari kamu, yang sangat baik ini Mey" isak tangis Mega mengundang Wulan untuk mendekat. Tangannya menepuk pelan pundak Mega.


" Sekarang semuanya sudah membaik. Kalau Mey nggak mau maafin kamu, serahkan semuanya kepadaku!!."


"Eh, udah di maafin kok tante. Jangan sampai ada campur tangan Ibu. Bisa babak belur saya" Ibu dan anak itu mencairkan suasana dengan sedikit guyonan. Perlahan kesedihan di wajah Mega pun semakin memudar.


''Jadi, Mamah nggak akan menghalangi kami lagi kan?."


"Iya, Mamah nggak akan mengulangi kesalahan yang sama Fatur. Maafin Mamah ya, meskipun ini sangat terlambat."


"Di maafin kok tante, kalau Ibu yang pegang kendali diri saya, maka saya yang pegang kendali Fatur." Mey terkekeh menatap Fatur penuh arti.


"Huh, aku juga bisa pegang kendali kamu" balas Fatur.


Cukup lama mereka bercincang dan mengobrol. Kecanggungan di antara mereka kini telah sirna. Jam menunjukan pukul delapan pagi. Dokter dan perawat memeriksa keadaan Mey, dan seperti kata Wulan hari ini Mey sudah bisa kembali ke rumah. Sungguh, angin segar bagi mereka semua.


...****************...


Sebuah mobil mewah terparkir di dalam gang kecil. Seorang pria berpakaian rapi nampaknya sedang menanti seseorang.


Sudut bibirnya menukik naik ketika sosok gadis cantik melenggak lenggok berjalan mendekati mobilnya. Dengan nakal mengintip pada jendela mobil yang terbuka sedikit.


"Jangan ngintip-ngintip, ayo masuk!" suara pria itu terdengar berat. Gadis semok berpakaian serba ketat itu duduk manis di belakang.


"Lho, kok di belakang?, aku bukan supir kamu!."


"Kalau sudah di beliin tas yang aku bilang kemarin, aku akan duduk di depan" dia berlagak merajuk dan bicara dengan nada mendesah, menggoda.


"Iya deh, nanti malam kita beli."


"Ahh!!, kamu baik banget sih. Aku ke depan ya Sayang!!" belahan rok sepan di bawah lututnya nampak tersibak, ketika kaki jenjang nan mulus itu melangkah keluar dari mobil untuk berpindah ke kursi depan.


"Tidurnya nyenyak??" tanya si pria penuh perhatian.


"Nyenyak dong Sayang, kan sudah kamu kelonin."


Ash!!! siapa gerangan pasangan nakal ini??!.


CEKITT!!. Lian buru-buru memarkir mobilnya di basement gedung tempat tinggal Kaila. Dengan langkah cepat dia menuju lift dan menekan lantai empat. Kaila sedang maskeran ketika seseorang menekan bel di luar pintu.


Kaila menekan camera bell dan nampak Lian melambaikan tangan di depan pintu.


"Lho, kok belum siap-siap?" tampilan santai Kaila mengenjutkan Lian.


"bla!! bla..??" Kaila ngomong nggak jelas. Takut menimbulkan kerutan di wajahnya yang sedang menggunakan masker.


"Ngomong yang jelas!!" sekali tarik lepaslah masker itu dari wajah Kaila.


PLETOK!!"Enak aja main cabut, baru juga di pake!!."


Tanpa menghiraukan jidatnya yang di tampol Kaila, Lian fokus menyuruh Kaila bergegas bersiap mengantarnya ke kantor


"Ya elah, berangkat aja sana!!."


"Kamu yang nganterin!!" rengek Lian.


"Bawel amat sih!!" gadis itu acuh ingin membuka kemasan masker lagi.


''Entar malam aku mau ngomong serius" dengan paksa Lian mendudukan Kaila di meja rias.


"Buruan dandan seadanya!!.kalau nggak kayak gini aja deh, entar aku telat ngantornya!!."


Kaila baru juga sedikit bersolek, Lian sudah seperti orang kebakaran jenggot. Berisik pula meminta Kaila bergerak cepat. Untuk neng Kaila sudah mandi, kalau nggak dia mana sudi dandan secepat koboy demi nganterin ni cowok ngantor.


"Bisa sabar nggak??" tatapnya dingin.


''Jadwal aku kerja tuh jam 9:30. Ini baru jam delapan lewat sedikit, nggak bermoral banget nyuruh cepet-cepet dandan."


"Sudah deh, gini aja Sayang. Sudah cantik, yang penting kan sudah mandi" kayak anak SD minta di anterin ke sekolah, rengekan Lian memekakkan telinga Kaila.


"Oke deh, pake bedak sama lipstik doang. Fix kamu bawel abis pagi ini!!!"Kaila menyerah.


di sabetnya ponsel dan segera meluncur bersama Lian. Bagaikan pembalap Lian dengan cepat memacu kendaraannya di jalan yang lengang. Ya, untungnya jalanan lengang.


"Thank's Sayang, nanti kita makan siang bareng kan" Lian turun dari mobil tergesa-gesa.


"Eh, main kabur aja. Bagi duit!!" hardik Kaila.


"Hah?" Lian berbalik.


"Aku cuma bawa ponsel,nnggak bawa duit. Mau beli sarapan, minta duit!!."


Lian tertawa mengelus pucuk kepala gadis manisnya"Nih" dia menyerahkan sebuah kartu kepada Kaila.


"Tunai!!, kamu kira tukang roti jalanan bisa main gesek, duit kes aja Lian!!."


"Iya iya" setelah menyerahkan beberapa lembar uang kepada kaila, Lian bergegas memasuki pintu utama perusahaan.


"Cieee, di anterin istri ya pak?, pake minta duit jatah pula. Saya kan jadi ngiri pak?" goda para karyawan.


"Kalian ngawur deh, tapi aku Amiin-kan aja deh. Kalian mau duit jatah juga?."


"Mau pak, mau!!" mata para karyawan itu berbinar-binar menatap Lian.


"Kerja dong. Bweeekkk!!!" Lian ngacir meninggalkan mereka yang sempat di beri harapan palsu.


"Pak Lian kejam!!" teriak para karyawan itu bersamaan.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.


Salam anak Borneo.