Meet You Again

Meet You Again
[S1] 28. Bukan siapa-siapa



...Happy reading...


"Bukan siapa-siapa lagi" jawabku melemah.


"Berarti dulu pernah jadi siapa?" Tanya kak Nanda penasaran.


"Emm" tak terasa air mata mengalir dari pipiku mengingat perlakuan Doni dimasa lalu kepadaku, memori lama pada otakku kembali terputar karena permohonan yang kuanggap konyol barusan.


"Maaf aku ga sopan, udah jangan nangis" ucap kak Nanda sembari menyeka air mataku.


Tak tau mengapa setelah perlakuan kak Nanda membuat air mataku tambah deras mengalir, aku merasa jadi orang spesial hanya karena kata maaf dan pada orang yang mau mengelap air mataku.


"Udah udah" ucap kak Nanda menenangkanku. Ia membawaku kepelukannya ditepuknya pelan punggungku memintaku agar tenang dari kesedihanku.


Setelah tangisanku mereda, kami hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. cukup lama kami berdiam sampai suara detak jantung kak Nanda pun terdengar jelas.


"Kita balik yok" ajak kak Nanda.


"Nanti dulu" jawabku mengeratkan pelukanku, kusadari mataku sembab, ingusku kemana mana dijaket kak Nanda membuatku malu jika kak Nanda harus melihatku dengan kondisi yang sekarang ini.


"Ya udah aku tunggu sampai kamu tenang dulu" ucap kak Nanda kembali menepuk pelan punggungku, tanganku sibuk mengelap air mataku dan membersihkan hidungku yang tampak memerah.


Agak lama setelahnya aku melepas pelukanku raut wajah kak Nanda tampak khawatir, namun kak Nanda sepertinya tak mau mengungkit hal tersebut.


"Makasih kak" ucapku pelan.


"Buat?" Tanya kak Nanda bingung sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Buat hari ini udah mau nemenin aku" gumamku pelan.


"Harusnya aku yang bertrimakasih karena kamu udah mau jalan sama aku" ucap kak Nanda pelan.


"Mau pulang sekarang?" tanya kak Nanda lagi.


"Terserah" ucapku cuek.


"Waduh ngeri nih kalo udah keluar kata terserah" sanggah kak Nanda bergidik ngeri.


"Hahaha, ya udah ayok pulang" tawaku pecah melihat wajahnya yang tadinya mulai panik.


"Nah gitu dong jawabnya" kataku sambil tersenyum.


"Emm, kak" panggilku sambil menarik jaket kak Nanda


"Ya" jawabnya lembut.


"Aduhh gimana ya bilangnya" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Hah?" Mengangkat alisnya.


"Itu, jaketnya aku bawa aja" tunjuknya kemudian menunduk malu.


"Ngapain?" tanya kak Nanda bingung.


"Kotor soalnya tadi waktu nangis, ini" ucapku sambil menunjuk hidungku yang memerah.


"Ya udah bawa aja" ucap kak Nanda begidik ngeri sembari melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepadaku.


Aku tersenyum melihat perlakuankak Nanda, Khayalan gilanya waktu tiba tadi ternyata ada disaat kami hendak pulang.


"Ayok" ajak kak Nanda tiba-tiba menggenggam tanganku, kami berjalan berbarengan melewatin pepohonan tinggi.


Tiba diparkiran kami masuk kemobil dan berlalu meninggalkan hutan pinus, selama diperjalanan kami banyak ngobrol membuat senyumku kembali mengembang diwajahku, disela percakapan itu kami tertawa bersama.


Tiba di kosku, saat aku hendak turun dari mobil tiba-tiba saja kak Nanda melayangkan ciumannya ke pipi kananku, aku kaget awalnya aku ingin marah tapi tiba-tiba perasaanku menjadi berbunga-bunga.


"Aku siap dengerin apapun curhat kamu kok, jangan sungkan kalo lagi ada yang mengganggu pikiranmu" ucap kak Nanda berbisik disamping telingaku.


"Emm iya kak" jawabku pelan dan bulu kuduk berdiri seketika.


"Ga jadi turun?" Tanya kak Nanda.


"Atau mau keliling kota sebentar?" Tanya kak Nanda lagi.


Aku meraih hpnya dilihatnya baru jam 9, mungkin gapapa masih belum terlalu larut untuk mengelilingi kota.


"Apa ga kemalaman nanti baliknya kak? Aku ga enak ngerepotin temen kos buat bukain gerbang nantinya" ucapku menjelaskan.


"Ya udah lain kali aja" balas kak Nanda tersenyum menatap raut wajahku yang sedang bingung.


"Hati-hati kak, daaa" ucapku kemudian keluar dari mobilnya.


"Daaa" balas kak Nanda kemudian berlalu meninggalkan kosanku.


Aku buru-buru berjalan masuk kekamar dan menghempaskan tubuhnya kekasur, sejenak kejadian tadi sore beputar dikepalaku membuatku senyum-senyum sendiri mengingat perlakuan kak Nanda padaku.


Namun terlintas kejadian saat Doni menelponnya membuat wajahku kembali meringis dan perlahan senyumanku pudar lagi.


"Emm Doni ya" gumamku pelan.


***


- kak Nanda


Ran kamu di mana?


Ke gazebo ya ada Yuli sama Erni.


Aku yang baru selesai kelas setelah membaca chat tersebut langsung buru-buru ke gazebo karena tak ingin yang lainnya lama menunggu.


"Wey" sergahku tiba di gazebo.


"Nah kebetulan Rani udah datang kita harus nentuin tanggal ni buat Olim" ucap kak Nanda.


Bla bla bla bla, kami berdebat cukup lama dan akhirnya menemukan tanggal yang tepat untuk pelaksanaan acara tersebut.


"Proposalnya udah dicicil, untuk anggarannya masih ada beberapa bagian yang belum, soalnya kemarin aku sama Rani udah kerjain sebagian jadi kalian tinggal lanjutkan aja" ucap kak Nanda menjelaskan.


Erni mengeluarkan laptopnya memasukan flashdisk menyalin beberapa file dan fokus pada layar monitor laptopnya.


"Kak kalo sendainya dibuat segini bisa lolos ga ya?" tunjukku ke layar monitor.


"Dicoba aja dulu nanti bakal direvisi juga kok, kalian buat anggaran seadanya aja dulu nanti bakal diarahin sama rektorat seberapa banyak anggaran yang diperlukan, soalnya aku belum pernah ngurus proposal buat Olim" jelas kak Nanda.


"Oh gitu" ucapku, Yuli dan Erni manggut-manggut.


"Aku minta proposal minggu depan udah mulai masuk ke Lilis ya" ucap kak Nanda tiba-tiba.


"Minggu depan?" Ulang Erni.


"Iya minggu depan, santai sekarang baru hari senin kok" ucap kak Nanda menenangkan.


***


Drrrtt drrtt drrrtt. 'Nomor tak dikenal'


"Siapa?" tanyaku ramah.


"Halo Ran, ini aku Doni" jawab seseorang dari seberang sana.


"Mau apa lagi?" tanyaku menghela nafas panjang.


"Siapa cowok yang waktu itu bareng kamu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.


"Waktu kapan?" tanyaku lagi.


"Waktu aku nelpon kamu pakai hp Sania" jawab Doni terdengar tenang.


"Oh itu ketua devisiku" jawabku cuek


"Yakin? Bukan pacar baru kamu?" tanya menyelidiki.


"Bukan" jawabku cuek lagi.


"Tapi kok aku ngerasa dia pacar baru kamu ya Ran" ucap Doni yang sepertinya sedang memancingku untuk buka mulut.


"Bukan" ucapku dengan penuh penekanan.


"Kalo iya juga ga papa kok Ran" balas Doni dengan suara melemah.


"Kalo aku bilang bukan ya bukan" ucapku mengulangi jawabanku sebelumnya.


"Oh berarti ada ya?" tanya Doni lagi.


"Ga ada, aku ga ada pacar" ulangku memperjelas.


"Ga mungkin cewek kayak kamu ga ada yang mau" ucapnya dengan suara menggoda.


"Kayak kamu? Maksudmu apa?" tanya ku lagi.


"Playgirl!" ucapnya cuek.


"Sudah lah Don kalo kamu nelpon aku cuma buat ganggu aku mending ga usah hubungi aku, aku bener-bener capek sama sikap kekanak-kanakan kamu ga pernah berubah, kapan si Don kamu bisa dewasa. Benar-benar dah" aku mengoceh panjang lebar dan memutuskan telpon Doni.


"Dasar cowok gila, ga pernah capek gangguin aku" ucapku mengoceh lagi.


Kuaih buku dirak mencari sebuah halaman yang sudah ditanda dengan stikynote, aku menulis sesuatu di dibinder dan sibuk menghitung sesuatu.


Drrtt drrttt drrtt.


"Astaga sekarang apa lagi Doni?" tanyaku kesal.


"Hah? Kok marah marah Ran" tanya seseorang diseberang sana lembut.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...