Meet You Again

Meet You Again
Pertukaran



Di tengah keresahan keluarga Mey, tatapan tajam Lian lurus ke arah Kaila. Wanita itu terkulai lemas bersama Ibunda Mey. Ingin sekali dia menghampiri dan menenangkan Kaila, namun janjinya terakhir kali kepada Kaila, nggak bisa dia langgar begitu saja.


Lian lebih memilih memapah Fatur dan menenangkannya Tanpa sepatah kata, Lian hanya bisa menepuk pundak sang sahabat. Memangnya apa yang bisa dia ucapkan kepada Fatur, sedang mengurus masalahnya saja dia nggak becus, gimana dia bisa sok memberi nasihat kepada Fatur, yang nyatanya lebih pro dalam masalah resah dan gelisah karena cinta.


"Bu, ampuni saya!!" Fatur duduk sejajar bersama Ibu Mey yang terkulai lemas di lantai bersama Kaila.


"Pukul saya bu, pukul saya!!!" dia mengambil tangan wanita yang sedang meratapi nasib anak gadisnya.


"Hick Hick, ini jalan yang di ambil anak ku. Aku nggak berhak menghakimi kalian" ucapan Ibunda Mey mematahkan rasa malu dan ke angkuhan dalam diri Mega.


Ternyata gadis yang sangat di bencinya itu, di besarkan oleh seorang wanita berhati besar dan sangat penyabar. Dia sangat salah menilai Mey selama ini. Tak terasa kakinya melangkah mendekati Ibunda Mey"Aku benar-benar malu kepada anakmu. Aku selalu bertindak kasar kepadanya, maafkan aku!!."


Fatur tersentak"Mamah" ujarnya dengan bibir bergetar"Sudah terlambat, Mah!!."


Sang Ibu yang tidak tau menahu perihal kekejaman Mega terhadap anaknya, hanya bisa menatap wanita yang di panggil Fatur Mamah itu dengan sayu"Aku tidak tau seperti apa perlakuanmu terhadap anak ku. Namun kalau kamu memang berasa bersalah, tolong selipkan nama anakku dalam setiap doa-doa mu. Bantu aku meminta kepada sang Ilahi agar mengembalikan kesadaran anakku seperti sedia kala."


Dada Mega terasa sesak, dia sangat merasa hina. Wanita ini baru tersadar betapa keji dan memalukan perlakuannya selama ini terhadap gadis yang selalu dia sebut kampungan.


Tak berapa lama Baskoro keluar dari ruang operasi, dan Mey menyusul di belakang. Wajah kecilnya terlihat putih pucat.


"Dok, dia akan selamat bukan??" tanpa sungkan Fatur mengguncang lengan dokter yang menggiring Mey. Namun sang dokter terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Fatur.


Tangis Kaila semakin pecah, tanpa sadar Lian yang berada di hadapannya menarik gadis itu kedalam pelukannya.


Sang Ibu menatap wajah anak gadisnya dengan berderai air mata"Ayah yakin kamu bisa melewati ini, Nak" bisik sang Ayah di telinga Mey.


Mega sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Mey seperti bertukar nasib dengan suaminya. Kenyataan gadis yang selalu melawannya dengan garang, sekarang diam tak bergerak demi menolong suaminya. Dalam peristiwa ini Mega mendapat pukulan keras.


Dokter dan para perawat membawa Mey ke ruangan berbeda, sementara Fatur dan Mega di persilahkan menggiring Baskoro ke ruangan lain pula.


"Sudah, Kaila. Mey akan sangat sedih kalau melihat kamu kayak gini." Di sapu Lian air mata yang menetes di kedua pipi Kaila.


Gadis itu masih tertunduk menahan tangisan yang sangat ingin dia teriakan. Tangannya bergetar mengepal menahan sesak di dada.


"Nih, gigit deh kalau pengen meluapkan kekesalan hati kamu." Dengan suka rela, lengan berotot itu Lian serahkan kepada Kaila.


Tatapan kaila berpindah dan beradu pandang kepada Lian"Huwwaaa~~~, kenapa kamu masih memperdulikan aku??!!."


"Aku jadi semakin nggak bisa merelakan kamu bersama Rani!."


Untung saja hanya mereka berdua yang tertinggal di lorong itu. Kaila memukul dan mencubit tubuh Lian"Buk Buk!!" punggung Lian menerima amukan Kaila.


"Kamu benar-benar meninggalkan aku!."


"Kamu nggak pernah mengirim pesan kepadaku!."


"Bahkan mengintip status Whattsapp ku pun kamu nggak sudi!!" kali ini paha Lian harus menerima serangan seribu cubitan jari jemari lentik Kaila.


Pria itu meringis kesakitan namun dia memilih bertahan, merasakan sakit yang di ciptakan Kaila. Toh dia akan berhenti memukul dan mencubitnya kalau sudah lelah.


"Igh!!Igh!!, kali ini kaki Lian yang terbungkus sepatu, menjadi sasaran empuk injakan dan tendangan Kaila.


"Ayo ngomong!!, lawan aku!!, jangan se-enaknya datang dan pergi mempermainkan perasaanku!."


Lian berbalik membelakangi Kaila"Buset, tubuhku jadi samsak kekesalannya" batin Lian menjerit.


"Kata siap aku benar-benar meninggalkanmu??" dengan tenang kini Lian menghadapi gadis kesayangannya, yang baru saja lepas kendali.


"Kamu nggak pernah ke Cafe lagi" ujarnya cemberut.


"Kamu nggak pernah mengirimiku pesan perhatian lagi."


"Kan aku sudah janji nggak akan ganggu kamu lagi" sahut Lian. Tumben-tumbenan si Lian bersikap dingin hari ini.


"Yang nyuruh kamu nggak ganggu aku lagi siapa??" tanya Kaila ketus.


"Kan kamu yang menjauhi aku kemarin-kemarin" Lian menjawab pertanyaan Kaila dengan balas menatap wajahnya.


"Jadi karena itu kamu semakin mendekati Rani?. Jadi sekarang kamu memilih membuang aku dari hidup kamu? terus se-enaknya datang memelukku setelah beberapa hari nggak bicara sepatah kata pun kepadaku?!."


Ada rasa geli di hati Lian menyaksikan sisi berbeda Kaila kali ini, apakah dia cemburu??.


"Emang kamu punya bukti kalau aku ngedeketin Rani?."


Kaila merogoh saku blazernya dan memperlihatkan foto Rani dan Lian di Cafe yang dia lihat kemarin.


"Itu cuma makan siang bareng, ini kali kedua kami janjian Kaila. Itu juga Rani yang ngajakin."


"Ish, Kaila!! Kaila!! biasanya manggil aku Sayang!!" hati Kaila kesal dan geram dengan sikap Lian.


"Kok diam?, nih kalau masih kesal pukul aku lagi" Lian menyodorkan lengan yang satunya lagi. Sebab lengan sebelahnya terasa sangat nyeri karena serangan bertubi-tubi Kaila.


''Sudahlah Lian. Kamu kayak nggak ada niat buat memperbaiki hubungan kita" dia menepis tangan Lian.


"Aku ingin melihat keadaan Mey" Kaila bangkit dan berjalan menjauhi Lian.


BRUKK!!, kalau aku harus menerima kemarahan dan kekesalan mu setiap hari seperti ini, aku akan terima asalkan kamu nggak meminta aku menjauhimu." Lian memeluk tubuh Kaila dari belakang, mendekap erat gadis yang sangat dia rindukan.


"Aku baru tau, jadi seperti ini sakitnya Fatur ketika jauh dari Mey" ucapnya lagi.


"Nggak pernah sekali pun aku mengkhianatimu, aku berani bersumpah, Sayang. Hubunganku dengan Rani nggak seperti yang kamu bayangkan."


"kucrut!!, wah otak kalian mereng sebelah ya?nanti dong mesra-mesraannya!!. Ayo buruan ke kamar inap Mey" Vino terkejut melihat drama romance yang di perankan dua sejoli salah paham ini.


"Mey sudah sadar??" tanya Kaila mengejar langkah Vino, Lian juga menyusul di belakangnya.


"Mey koma!!"..


Whaat!!!. Langkah Kaila terhenti.


"Ih, nanti aja kagetnya" Vino menarik lengan Kaila. Sesampainya di Kamar pesakitan Mey, gadis malang itu memang masih memejamkan kedua mata.


To be continued..


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^ jangan lupa juga tekan simbol hatinya ya teman 😉😉


Salam anak Borneo.