
"Aku nggak menyangka jariku mendadak cantik seperti ini." Kaila tersenyum malu-malu memandangi jari manis tangan kirinya.
...🌷🌷🌷🌷...
Dengan di hadiri para sahabat dan keluarga inti, akhirnya Kaila resmi menjadi tunangan Lian.
Lian dan Kaila duduk di antara para sahabat mereka malam itu.
"Cie cie cie, mau aku kasih jurus icip-icip maper nggak?" Vino gabut ingin menyebarkan ilmu percintaannya, kepada mantan rivalnya di masa lalu itu.
PLETOK!!. Bogem mentah mendarat di tengkuknya. Seraya meringis Vino mengangkat pandangannya.
"Cukup kamu aja yang berpikiran absurd. Tolong calon suamiku jangan di bawa-bawa!."
"Cieee, calon suamiku katanya guyysss!!." Si biang rusuh kembali ber cie-cie, meledek Kaila dan Lian. Meskipun sudah mendapat peringatan keras dari tinju Kaila, dia nggak kapok untuk mengolok-olok pasangan baru malam ini.
Tampang garang Kaila perlahan memerah, Membuat mereka semakin puas dengan hasil kejahilan Vino.
"Makanya, jangan bilang nggak mau dulu. Ini kamu baru tunangan, nggak tau kan nanti kalau sudah resmi menikah, bakal kayak apa secara Lian kan kekar gitu."
Kaila semakin terpojok malu. Kata-kata Ben benar-benar membuatnya mati kutu.
"Kamu ngomong begitu di depan Enda, coba ngasih contoh yang baik dong depan anak kamu" seloro Kaila membuang rasa malu.
"Dianya bobo anteng begini" tunjuk Ben pada Enda, yang tertidur pulas di sampingnya. Sontak mereka semakin mentertawakan kecanggungan Kaila.
Dan apa kabar dengan Lian, kok nggak ada suarannya?. Tenang, Lian ada di situ kok, cuman saking happynya udah nggak bisa berkata apa-apa lagi dia.
Sementara Kaila melarikan diri ke balkon, menatap langit malam yang luas"Aku nggak menyangka jariku mendadak cantik seperti ini" Kaila tersenyum malu-malu memandangi jari manis tangan kirinya. Ketakutannya untuk melangkah lebih jauh bersama Lian, telah terpatahkan kemarin malam. Dan malam ini mereka semua khusus berkumpul untuk merayakan pesta pertunangan mereka di apartemen Kaila.
"Gimana rasanya, La?" kedatangan Mey mengejutkan gadis dengan rambut sebahu itu.
"Ya gitu deh" ujarnya singkat. Sumpah, dia malu, tapi dia nggak bisa menyembunyikannya dari Mey. Orang wajahnya udah kayak kepiting rebus begitu, merona sekali.
"Jangan di tahan. Ungkapin aja perasaan senang kamu. Nggak asik deh pake menyendiri segala. Kita ke sini mau berbagi kebahagiaan sama kamu" ujar Mey.
Mey memahami keadaan Kaila. Dia sebatang kara, bisa di bilang begitu. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan Nenek yang mengasuhnya juga sudah meninggal. Ada sih abangnya, tapi nggak tau entah di mana. Perginya udah ngalahin bang Toyib. Setidaknya bang Toyib tiga kali lebaran ada pulangnya.
"Vino tu lho, remnya blong kali. Ngomongin yang vurgar melulu, aku jadi ngebayangin yang aneh-aneh Mey.x
"Hupfhh!!." terdengar suara tawa yang tertahan.
"Kan!! kamu ngetawain kan. Jahat ih" cibir Kaila lagi.
Mey terkekeh melihat keluguan Kaila. Ini sangat berbanding terbalik dengan sikap yang biasa dia tunjukan.
Kaila tu tegas, mandiri, kuat dan tangguh. Tiba-tiba kalem dan melarikan diri gegara di godain masalah kenikmatan malam pertama, jelas saja membuat mereka semakin tertarik untuk lebih menggodanya.
Fatur menyusul Mey ke balkon. Melihat Kaila bersama Mey spontan Fatur pun memanggil Lian"Pak Lian, tolong calon istrinya di jemput. Kami mau kencan di sini."
Kaila membulatkan kedua mata menatap Fatur.
"Minggir!!. Klian udah tunangan. Kasih aku kesempatan buat merayu mbak Mey-mey ini dong. Aku juga pengen kursus masalah maper sama Vino kali."
Mey juga membulatkan kedua matanya kepada Fatur"Gila ya, cowok&cowok pikirannya mengarah ke situ melulu." hardik Mey.
Lian yang senyum-senyum menjemput sang kekasih agar menjauh dari pasangan yang satu ini"Ayo. Mereka datang buat kita sayang. Kangan sok malu begini deh, biasanya juga kamu malu-maluin kan."
"Ehem!!. Jadi begitu toh cara ngerayunya" Fatur mengejek.
"Kamu biasanya malu maluin lho Sayang" ujar Fatur lagi berlagak menirukan dialog Lian.
Kwkwkwkw. Mereka terkekeh lagi.
"Awas yah, tiba saatnya giliran kalian. Awas kamu Mey!!" pekik Kaila di sela langkahnya, mengikuti Lian ke ruang tengah lagi.
Puas mengejek Lian, Fatur dan Mey terdiam. Beberap detik mereka mendadak canggung.
"Eh?." Mey berpura-pura tuli.
"Kenapa sih para gadis mendadak kalem malam ini, aneh tau!. Kaya si Kaila tuh, dia kan biasanya nyablak, tiba-tiba diem di pojokan."
"Terus apa salahnya" sahut Mey lagi. Dia bicara tanpa membalas tatapan Fatur. Dia tau sedari tadi pandangan Fatur tak pernah lepas darinya.
"Kayak Jova dong, nggak jaim. Bebas aja dia mah. Apa karena udah nikah duluan ya."
Dan akhirnya Mey pun balas menatap Fatur" Maksudnya?."
"Ya kamu harus cepet-cepet aku kawinin biar nggak jaim kayak gini" dia nggak bisa menahan keinginan untuk menarik Mey, kedalam pelukannya.
"Kata Ibu nikah, bukan kawin." Fatur tertawa renyah. Mey mengingatkan dengan camer idolanya itu.
"Lagian Jova emang bagitu. Terlalu santuy orangnya. Terus semenjak menikah dia rada-rada gitu."
Pria yang memeluk Mey itu melonggarkan pelukannya, di rengkuhnya wajah Mey. Membuat gadis bertubuh mini itu mendongak jauh menatapnya.
"Rada-rada apanya?" tanyanya.
"Rada-rada mesum" jawab Mey dengan senyum termanisnya.
Fatur tergoda dan mengecup bibir merah Mey. Sungguh sangat ingin seperti mereka, yang akhirnya melangkah lebih jauh dalam hubungan asmara. Namun Mey memintanya untuk sedikit bersabar lagi. Mey ingin lebih mengenal Mamahnya Fatur. Tak terbayang betapa keras dan hebatnya mereka berargumen di masa lalu.
..........
22:05
"Pah, Mamah tidur duluan ya" ujar Vivi.
Riley hanya mengangguk. Dia membuka laptop di tepi ranjang. Cukup lama dia terpaku pada benda itu, hingga konsentrasinya pecah oleh getaran yang di timbulkan oleh ponselnya.
Sekilas dia menatap layar ponsel, kemudian memasukan ponselnya ke saku piyama yang dia kenakan. Dia membawa berkas dan laptop ke ruang kerjanya.
Riley berpapasan dengan Lian di ruang tengah"Kapan kamu balik Lian." Tegurnya.
"Barusan Pah, ini baru juga masuk ke rumah". Lian menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral.
"Jangan main-main sama anak orang ya." Lian mengangguk ketika Riley berbicara dengan menatapnya dalam.
"Bertahun-tahun akhirnya tetap sama Kaila. Kamu atau Kaila yang cinta banget" Riley mulai menggoda anak bujangnya.
"Hehehh, kayaknya Lian deh Pah." Dengan malu-malu pipinya mencetak lobang kecil itu lagi. Senyum-senyum sendiri.
"Woo, cengengesan!!. Tapi kamu beruntung Lian, sekian lama perasaan kamu nggak berubah sama Kaila."
"Terkadang cinta yang begitu dalam bisa terkikis oleh waktu. Entah karena perubahan prilaku, atau memang merasa nggak begitu cinta lagi sama pasangan."
Lian nyengir mendengar Kuliah tengah malam sang Papah"Berat amat omongannya Pah. Ilmu Lian nggak nyampe."
"Dasar anak jaman sekarang. Tau nya I LOVE U terus di ajak jadian. Pas udah I HATE U langsung di tinggalin, ckckckck." Riley menggelangkan kepala dengan ucapannya sendiri.
"Itu mah cabe-cabean Pah."
"Terus kamu apa?. Terong-terongan?" sahut Riley kembali merasakan getaran pada ponselnya.
"Yee, enggak dong Pah. Susah ya Lian masuk kamar nih."
"Hemm" sahut sang Papah sembari berjalan memasuki ruang kerjanya.
To be continued...
~~♡♡Happy reading.jangan lupa like , vote dan komen ^,^ .
Salam anak Borneo.