Meet You Again

Meet You Again
Tiga puluh hari menjelang sah



Selepas Sholat Isya, Masjid di perkampungan kediaman Wita selalu mengadakan tadarusan barang setengah jam atau lebih. Suasana nyaman dan damai sangat terasa, menenangkan hati di sana. Kala itu Miya yang sedang guling-gulingan di depan televisi nampak tak bergerak lagi, terdengar napas nya mulai teratur, dia tertidur lelap.


"Bu Wita, Non Miya sudah tidur" ujar Isal sang pengasuh.


Juwita yang baru saja selesai sholat Isya dan belum mengenakan kerudungnya lagi, menghampiri Miya.


"Kamu istirahat ya Sal. Itu ada buah di meja makan, kamu bawa ke rumah aja" ujar Wita sambil duduk di dekat Miya.


"Iya bu, terimakasih buahnya" sahut Isal sembari berjalan ke dapur untuk mengambil buah, yang di katakan Wita tadi.


"Iya, pintunya di tutup lagi ya Sal" pinta Wita ketika Isal pamit kembali ke rumahnya. Sebenarnya itu bukan rumahnya sih, lebih tepatnya rumah milik keluarga Wita.


Pak Solihin si tukang kebun, merupakan kakak beradik dengan Bi Minah si koki sekaligus pembokat di kediaman Juwita. Bi Minah bekerja menjaga dan merawat Villa itu sudah sejak Juwita masih SMP, sedari pertama kali Villa itu di bangun. Pak Solihin yang mengajak adiknya itu untuk mengabdi kepada keluarga Subroto. Kala itu Bi Minah masih bersama sang suami dan dia juga pekerja di keluarga Subroto. Namun kini Tuhan sudah menjemput suami Bi Minah terlebih dahulu. Karena sudah sangat dekat dengan Pak Solihin dan Bi Minah, jadinya pak Subroto mempersilahkan mereka untuk tinggal di area Villa itu, dengan menempati rumah berukuran sedang yang terpisah dari bangunan Villa.


"Assalamualaikum" terdengar suara yang mulai akrab di telinga Wita.


"Waalaikumsalam" sahutnya sembari membukakan pintu.


"Lho, kerudungnya mana Mi?" tanya Wahab kaget, sembari langsung menutup pintu.


Wita memegangi kepalanya"Astaghfirullah, lupa Bi" ujarnya hendak cepat-cepat berbalik.


Dengan sigap Wahab yang sudah memasuki rumah itu menarik lengan Wita hingga membuat Istrinya tersentak, berbalik menabraknya .


"Hm, main tubruk aaja si Ummi" goda Wahab


"Abi kan yang narik" sahut Wita.


"Mana ada?. Abi cuman narik lengan Ummi, bukan minta peluk kayak gini" godanya lagi.


Wita tertawa dengan candaan suaminya"Ya sudah Ummi beneran peluk nih" sekuat hati dia mengapit tubuh Wahab dalam pelukannya .


"Aw, sesak Mi!!. Iya maaf deh, Abi ngaku salah" pekik Wahab terkekeh.


"Makanya jangan suka godain orang" sungut Wita lagi. Kini dia sudah nggak canggung lagi berhadapan dengan Wahab. Juga udah nggak jaim lagi di hadapan Wahab. Gimana Enggak, Kemarin malam mereka sudah perkenalan lebih dalam sebagai suami istri. Hohoho nggak usah Author jabarin ya adegan perkenalan mereka, cukup mereka sama Allah aja yang tau.


"Besok mau ikut ke kebun nggak?. Abi mau panen semangka" tawar Wahab. Selain mengajar, Wahab juga petani sayur dan buah-buahan. Dia mempunyai lahan yang sangat luas dengan tanaman yang subur. Dia juga mempekerjakan beberapa karyawan untuk membantunya mengelola usahanya itu. Di antara nya si Khoril sama si Syukur. Mereka sahabat sekaligus orang-orang kepercayaan Wahab untuk mendampinginya menjalankan usahanya. Mereka juga lulusan pertanian sama seperti Wahab, jadi mereka paham betul dengan pekerjaan yang sedang mereka lakoni.


"Mau!!. Kan belum pernah ke sana" sahut Wita.


"Itu kata Ummi, kenyataanya berbeda" Wahab berujar lagi. Dia melepaskan sarung dan baju kokonya. Sekarang nampaklah seorang Wahab yang sangat berbeda. Mengenakan celana pendek selutut dan baju kaus sedikit gombrong.


"Dapat suami seumuran, mantan bintang kampus pula. Terimakasih kasih ya Allah, kau hadirkan Imam yang baik untuk hamba" gumam hati Wita.


Setelah resmi menikah Syukur dan khoiril sering menceritakan masa-masa Wahab menjadi seorang idol di kampus. Meskipun banyak di sukai wanita namun tak sekalipun dia pernah memacari mereka. Nasihat Abah begitu melekat dalam dirinya. Apalagi selama di rumah, dia selalu di suguhi kitab-kitab agama milik sang Abah, yang notabennya lulusan pesantrean ternama. Jangan heran kalau dia sekarang menjelma menjadi seorang Ustadz. Kalau kata Syukur mah"Wahab kalau istirahat bukannya ke kantin, tapi ke perpustakaan, buat ngemil buku-buku di sana."


Dan kata Khoiril lagi"Udah gitu kalau di rumah di kasih makanan kitab-kitab kepunyaan Abah pula. Aku suka bingung sama otaknya Wahab, apa nggak meleleh ya belajar mulu" ledek mereka saat itu.


"Emang belum pernah ke sana Bi!!" sahut Wita.


"Iya deh Abi percaya kok" perkataanya sedikit mengundang tanya di hati Wita, namun ya masa bodolah. Dia memang nggak pernah ke sama kan.


Berbeda dengan Wahab yang sebenarnya sudah sangat lama mengenal Wita. Dulu keluarga Wita sering berlibur ke kampung ini, dan Subroto pernah mengajak Wita ke kebun Abah yang sekarang sudah di wariskan kepada Wahab.


"Abi, kalau gini kamu kaya bukan Ustadz deh" Wita memandangi wajah Wahab dalam-dalam. Wanita ini memegangi rambut Wahab yang biasanya tertutup peci.


"Nggak asik. Kamu kayak gini cukup di dalam rumah aja ya!. Kalau di luar rumah nggak boleh kayak gini!" kata-katanya mengundang rasa penasaran Wahab.


"Kayak gini gimana Ummi?."


"Itu, rambutnya. Kalau berantakan terlihat aneh tau!" sebenarnya bukan aneh, tapi Wita merasa dia jadi makin cakep, dengan tampilan seperti ini. Kayak oppa-oppa bad boy gitu.


Wahab memegangi rambutnya yang memang berantakan karena nggak memakai wax.


"Jangan!!" spontan Wita melarang.


"Katanya aneh."


"Ya aneh lah. Kamu jadi kayak bad boy gitu!."


Wahab diam sebentar, otak kecilnya berpikir sejenak.


"Curang banget sih. Bengong aja cakep" guman batin Wita.


"Begtu amat liatinnya, Mi!?" Wahab memergoki Wita senyam-senyum memandangnya .


"Abi ganteng ya?."


"Iya" sahutnya Wita spontan lagi.


Tertawa"Abi jadi besar kepala lho. Jadi pengen peluk-peluk nih."


Mendapati suaminya yang mulai main nyosor, Wita sedikit menggeser duduknya.


"Geser aja terus. Abi gendong ke kamar selesai deh Ummi" tanpa canggung dia menggoda sang istri yang baru kemarin malam di bobolnya.


"Abi ngomong apa sih?. Maksudnya Abi apaan?" Wita menekuk lututnya ke dada, seakan takut di apa-apain sang suami.


"Enggak deh. Tenang aja ya. Abi hanya bercanda."


Mendengar itu Wita kembali tenang . Wahab lelaki bugar dan cukup berotot , Wita cukup kewalahan melayaninya kemarin malam. Setidaknya dia hendak beristirahat dulu malam ini mengingat bukan hanya sekali mereka memadu kasih kemarin malam.


Dengan seringai nakal Wahab mempersiapkan tenanganya " Nggak lama lagi Umi !!". Wahab menggendong Wita memasuki kamar dengan enteng . lha wong Witanya bertubuh nggak lebih dari 164 doang . berbanding jauh dengan wahab yang tingginya 175 .


" Biii!!". pekik Wita .." Miya sendirian !!".


" Abis ini Umi temenin bobo ke kamarnya deh Mi..". Ujarnya merebahkan Wita di kasur mereka . " Sekarang temenin Abi nya dulu sayang ".


Nungguin adegan ๐Ÿ”ž nya ya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… ..di past in aja dulu ya .


๐ŸŒท๐ŸŒท


" Jadi bulan depan kita akan sah menjadi besan ". Ujar Baskoro ngombrol ringan bersama Ayah Mey di teras . sementara Wulan dan Mega di meja makan ngemil buah yang mereka bawa ke kediaman Mey tadi .


" Jadi gimana lagi ceritanya ..Si Mey emang kurang ajar tu anak . kadang mulutnya perlu di tabok biar nggak lemes ". Ujar Wulan .


" Ya begitu deh , saya mana bisa menang beradu mulut sama dia ". Sahut Mega nyengir .


" Besok besok kalo dia balik kurang ajar kaya dulu lagi sama kamu langsung telpon aku aja yah Jeng..kalo sama aku mah sekali babat selesai dia !!". Wulan begitu greget setelah mengulik habis gimana hebohnya perseteruan Mey dan Mega .


" Di gibahin tuh .." Bisik Fatur ..dia bersama Mey duduk di ruang tamu sambil nontonin Acara buka aib lagi . heran deh ni acara masih tayang aje . dan lebih herannya lagi si Mey sama Fatur masih doyan aje nontonin ini acara .


" Biarkan mereka bercerita jaman jaman Jahiliyah aku sama mamah kamu ..nostalgia masa masa gila ". Celetuk Mey cuek .


Fatur merangkul Mey ..dia lega akhirnya bulan depan dia akan lebih sering nge teh sama Mey .


๐Ÿ˜…Si Fatur Yang di pikirin malah nge teh ...


Fatur: Kan udah halal thor ..biar sering sering kan nggak papa , Malah jadi ladang pahala kan .


Author : Jangan banyak cingcong ..aku yang pegang kendali kalian di sini ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž".


Fatur: Ampun Thor ๐Ÿ˜… .


~~โ™กโ™ก Happy reading . Jangan lupa like , Vote dan Komen ya teman ^,^