
...Biarkan aku mencintaimu dalam diam, memelukmu lewat doa dan menjagamu lewat tangan Tuhan ~~ Suara hati sang pelakor....
๐ค๐ค๐ค๐ค
๐จ"Maaf, aku nggak bisa melanjutkan hubungan terlarang ini" Riley mengetik pesan kepada Melinda. Pilihannya tetap pada Vivi, sang wanita yang hampir sempurna di matanya.
Beberapa saat kemudian.
๐ฉ"Aku ingin bahagia bersama kamu" balas Melinda. Wanita ini coba menelpon Riley tapi panggilannya selalu di tolak Riley.
๐จ"Tapi aku sudah nggak bisa bahagia bersama kamu" Riley memilih berkomunikasi lewat pesan singkat saja.
Ada rasa sangat tersakiti pada diri Melinda.
๐ฉ"Aku harus apa agar kamu kembali bahagia?."
Riley memandang pesan balasan Melinda dengan nanar, tubuhnya bersandar pada kursi sebuah cafe pinggiran sungai. Seakan ada beban besar yang tersimpan di dalam dadanya, Riley menghembuskan nafas kasar. Sekira dia mampu untuk kembali berinteraksi dengan Melinda lewat aplikasi berwarna hijaunya, jempol-jempolnya pun mengetik sebuah keputusan yang sangat berat namun harus tetap dia katakan kepada Melinda.
๐จ"Pergi menjauhlah dari kehidupanku!."
Anakan sungai mulai mengalir dari kedua pipi Melinda. Nampaknya inilah akhir dari kisah cintanya.
๐ฉ"Oke, aku akan melepasmu. Silahkan keluarkan surat kerjaku ke Jepang. Aku akan berangkat lebih cepat dari jadwal sebelumnya."
๐จ"Tapi pelatihan komunikasi kamu bagaimana?."
๐ฉ"Masih bisa di lanjutkan di Jepang kan?. Aku melakukan semua ini demi kamu. Aku menghargai keputusan kamu untuk meninggalkanmu, jadi tolong hargai pula keputusanku untuk lebih cepat menyembuhkan luka hatiku."
๐จ"Kamu gadis yang baik Melinda. Kamu sangat perhatian dan baik kepadaku selama kita bersama."
๐ฉ"Ya, dan ku kira dengan sikap baikku maka aku akan mendapatkan pasangan sebaik kamu pula. Sayangnya kamu telah menjadi jodoh orang lain." Isak tangisnya tertahan, dia barus bertahan. Ini bukanlah akhir dari segalanya.
๐จ"Terkadang kita harus rela melepaskan untuk menerima seseorang yang jauh lebih baik dari yang meninggalkan."
Kata:kata terakhir Riley sudah nggak mampu Melinda balas. Tubuhnya telah lunglai dengan tangis yang terus menggenangi kedua pipinya. Beberapa menit berlarut dalam kesedihan, Melinda menyeka air mata dan menepuk dadanya keras.
"Hati kecilku yang malang, bertahanlah!. Aku akan menyembuhkanmu. Dunia nggak akan kiamat meski tanpa Riley. Sejatinya selama ini aku telah salah menempatkanmu pada hari suami orang."
...****************...
Suasana hati Fatur dalam keadaan ceria banget pagi ini. Bayangan ketika Mey mengenakan gaun pengantin kemarin membuat jantungnya berdegup kencang hingga pagi ini.
"Akh!! untung ini jantung buatan Tuhan. Kalau buatan manusia udah lama meleleh setiap kali Mey bersikap manis kayak kemarin." Dia bahagia sekarang, sangat-sangat bahagia.
Penuh semangat Fatur melangkah ke kamar mandi, segera bersiap ke kantor. Tak lupa sebelum berangkat ngantor dia menyempatkan diri menghubungi sang calon istri via Video Call.
"Waw udah cakep aja, udah sarapan belum?" Mey mendapati sang kekasih sudah rapi banget dalam setelan kerjanya. Rambut hitam legamnya juga sudah tertata begitu rapi.
"Belum Sayang" jawabnya singkat. Dia meletakan ponsel di nakas menghadap ke arahnya, sedangkan dia sibuk menyemprotkan parfume ke tubuh.
"Hey!! jangan ganteng maksimal dong!. Cuman mau ngantor doang kan" keluh Mey.
"Yeee, aku mau kencan tau Yang" goda Fatur. Seraya meletakan botol parfume dan meraih ponsel, kemudian berjalan mengambil ranselnya.
"Ouch!! kencan?. Kamu sudah bosan hidup Tur!?" hardik Mey. Kedua matanya mendelik seakan ingin meloncat keluar karena kesal dengan candaan Fatur.
Fatur tersenyum lebar di depan ponsel"Banyak cing-cong deh. Buruan siap-siap, aku on the way jemput nih."
Mey terkekeh dengan kata-kata Fatur"Hehehe, bilang dong kamu mau jemput Sayang. Aku mandi dulu ya."
"Kebiasaan deh, buruan ya!. Kalau aku sudah sampai terus kamunya belum siap awas aja."
"Awas apa!!." tantang Mey.
"Aku culik kamu" kelakar Fatur.
"Suka-suka kamu deh Yang. Aku kan sudah di gadaikan Ibu sama kamu" sahut Mey kembali terkekeh.
Dia membuka kulkas dan menyiapkan roti dengan selai kacang kegemarannya"Buruan mandi sana, baunya sampai keliatan tau" berujar Fatur meletakan ponsel di meja makan"Aku sarapan dulu Yang."
"Iya iya" balas Mey memutus panggilan. Dia bergegas mandi ala koboi dan bersiap secepat kilat.
...๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ...
Berbeda dengan Fatur dan Mey yang semakin langgeng bersiap melangkah ke jenjang pernikahan. Lian dan Kaila sedang terjebak dalam rasa saling percaya yang semakin menipis.
"Mukanya kenapa? kucel amat kayak cucian nggak di setrika" Lian menghampiri Kaila di counter drink, sembari memesan minuman.
"Papah Yang" Lian menghela nafas berat.
"Oh, kenapa Om Riley?" sahut Kaila sibuk menyiapkan ice coffea pesanan Lian.
Lian masuk ke area Counter dan berbisik di telinga Kaila"Aku ada berita besar, tapi kamu bisa jaga rahasia kan Yang?."
Merasa di ragukan sang kekasih, Kaila menjitak kening Lia"Buset dah!!. Kamu meragukan aku?. Calon istri kamu?" tatap Kaila sebal.
Lian menyilangkan tangan di dada"Enggak gitu bebs, ini masalah sensi banget."
"Makanya buruan cerita" ice Coffea telah siap sedia. Dia menyodorkan pipet langsung ke mulut Lian"Makan siang kita apaan nih Yang?" ujarnya bermanja ria, lengannya menyisir lembut rambut Lian.
"Makannya nanti aja deh"Balas Lian setelah menyeruput minumannya.
"Papah punya cewek lain Yang!" ujarnya dalam satu tarikan nafas.
Kaila spontan membuka matanya lebar lebar, sedetik kemudian dirinya baru menyadari dan teringat perihal Riley dan Melinda.
"Jadi kamu sudah tau Yang??" kedua matanya kini berkedip-kedip, memastikan kabar yang baru saja Lian ungkapkan.
Lian memandang Kaila lekat-lekat"Udah tau??" batin Lian.
"Kamu---udah tau juga?" Lian balik bertanya.
Kaila sadar akan keteledorannya. Rahasia itu tlah di ketahui Lian dan Lian juga tau bahwa dirinya telah merahasiakan masalah itu darinya. Bukan merahasiakan sih, lebih tepatnya belum sempat dia ceritakan kepada Lian.
"Kaila!" sentak Lian.
"Aku yang mergokin mereka Yang----" jelas Kaila terbata-bata.
Tatapan putus asa Lian membuat Kaila panik.
"Sejak kapan?"
"Pas kemarin aku keluar kota, waktu kamu sama Jova jemput aku" jelas Kaila dengan wajah menunduk.
Lian mengusap wajahnya kasar, selama ini Kaila diam saja. Nggak ada sedikitpun niat untuk berbagi rahasia itu kepadanya.
Kedua matanya menatap Kaila nggak percaya"Itu udah lama La, dan kamu nggak pernah cerita ke aku?."
"Aku----."
"Wah parah kamu La!!. Kamu senang dengan kelakuan Papah aku?. Kamu dukung mereka?. Mamah aku kurang baik apa sama kamu La!!." Lian beranggapan yang bukan-bukan terhadap Kaila.
"Lian, kamu salah paham!"
"Oke!! aku lagi yang salah. Selalu aku yang salah" tekan Lian.
Raut wajah kaila semakin panik, Lian benar-benar marah sekarang.
"Aku nggak sempat cerita Yang. Aku selalu lupa kalau mau cerita ke kamu" cicit Kaila gelisah.
"Tipis banget alasan kamu La. Aku bukan anak kecil. Kamu kok tega sih."
Kaila menarik Lian ke sudut sepi dari Cafe"Lian, kamu salah paham. Aku akan jelasin semuanya sama kamu."
Lian menarik diri"Alah!!, udah basi La. Aku udah tau semuanya. Kamu tau nggak separah apa rasa terpuruk aku pas tau Papah selingkuh?!. Aku banyak diam dari kemarin karena kepikiran itu La."
Kaila diam mendengarkan ocehan Lian yang penuh emosi.
"Kalau kamu cerita duluan sama aku, setidaknya aku nggak terlaku terpukul!" Lian menatap Kaila nanar, perlahan dia meninggalkan Kaila.
"Lian!!. Kaila menarik lengannya.
"Aku pengen sendiri La" di tepisnya tangan Kaila dan pergi dari Cafe dengan langkah cepat.
To be continued...
~~โกโกHappy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya guys ^,^
Salam anak Borneo.