
Di sebuah kediaman super mewah dengan berbagai perabot antik dan mahal.
Dengan sapuan kasar Andara memandang wajah penuh air matanya di cermin berbingkai silver..Kali ini Frans melancarkan tamparan di pipi kanannya.
"Maaf sayang!. Aku kebawa emosi" Frans mengelus pipi Andara. Nampak bingkai jemarinya tercetak jelas di pipi putih Andara, yang kini tlah nampak merah..
"Sudahlah Frans. Aku lelah.Aku bukan apa-apa di mata Ibumu.Aku----menyerah saja. Carilah wanita yang dapat memberimu keturunan" ada keseriusan di dalam bait kata-kata Andara. Wanita itu menyeret koper dan dengan langkah pasti meningggalkan Frans, yang ternyata mengekor langkahnya ke luar kamar.
...☘☘☘☘...
Pagi ini di saat matahari baru mengintip sedikit kebumi, sang Ibu mertua datang ke kediaman mereka tanpa permisi. Saat itu Andara sedang menemani pembantu memasak di dapur sebelum kejadian tak terlupakan itu terjadi.
"Ini Frans. Pilih wanita mana yang menarik hati kamu" beberapa Foto gadis belia berpenampilan cantik, dan menarik dengan kulit putih kinclong, di susun berjejer di meja makan. Dari yang berambut panjang sampai yang berambut pendek, Frans tinggal menentukan gadis mana yang dia mau.
"Bu!!. Andara saja sudah cukup buat Frans---."
"Tapi tidak buat Ibu!" Clara memotong kalimat Frans. Dia menginginkan lebih dari seorang Andara. Selain menantu yang patuh dan taat seperti Andara, Clara menginginkan seorang cucu laki-laki yang akan menggantikan posisi sang Papah suatu saat nanti.
"Ingat ya, seorang cucuk laki-laki yang murni darah daging kamu Frans!" tekannya lagi.
Andara. Wanita cantik berkulit putih yang delapan tahun terakhir dengan setia mendampingin Frans mengarungi bahtera rumah tangga. Dia memang istri yang baik bagi Frans, juga menantu baik pula bagi Clara. Saking menganggap baiknya, Clara dengan gampang mengutarakan keinginannya pada Andara untuk menikahkan lagi anak tunggalnya.
"Bu----. Maaf kali ini Andara nggak bisa menuruti keinginan Ibu. Andara nggak siap di madu" ucapnya pelan.
"Ya sudah kamu mundur saja" kata-kata itu lolos dengan begitu mudah dari mulut Clara"Lagian di sebut mandul tapi nyatanya kamu punya anak dari lelaki lain."
"Bu!!" sentak Frans.
"Frans!!. Ibu cuman mau keturunan kamu, dan dia nggak bisa ngasih. Apalagi yang bisa dia lakukan selain mundur dari kehidupan kamu" tatapan sinis Clara menyapu setiap lekuk tubuh Andara.
"Dia juga nggak pandai mengurus diri sendiri, lihat betapa kurusnya dia. Bagaimana kamu bisa bertahan dengannya sampai beberapa tahun ini, dia bahkan nggak menarik di ajak menghadiri sebuah pesta" kata-kata sinisnya perlahan merambat menyakiti hati Andara.
Dia memang kurang memperhatikan diri setahun belakangan ini. Semenjak Enda dia tinggakan bersama Ben, kehidupannya semakin sulit. Bukan karena kekurangan materi, dia lebih kekurangan rasa menyayangi kepada Enda. Ibu mana yang bisa hidup dengan tenang setelah di paksa berpisah dengan putra tersayangnya. Di tambah lagi dia harus hidup dalam rumah tangga yang di kendalikan penuh oleh sang Ibu mertua.
"Ada sih cara agar kamu bisa Ibu pertahan kan---" lirik penuh makna Clara kepada Frans"Kakau kepepet Ibu bersedia sih menerima Enda---."
Mengingat keinginan besar Clara akan seorang cucu laki-laki, seketika raut wajah Frans berubah pias.
"Jangan bilang Ibu menginginkan anak sialann itu!!" bentak Frans. Sampai detik ini dia masih sangat muak dan benci kepada Enda. Wajahnya yang menjiplak wajah Ben benar-benar membuatnya kalah telak dari Ben. Sebab dia tau Andara sangat mencintai Ben. Dan bisa saja sampai sekarang keberadan Ben di hati istrinya masih tak tergantikan.
"Frans !!" Enda anak aku.Jangan mengatainya seperti itu" Andara yang sedari tadi banyak diam kini berdiri di antara Clara dan Frans, dengan wajah siap berperang. Habis sudah kesabarannya. Sudah cukup penghinaan yang dia terima dari Clara dan keterpaksaan hidup yang dia jalani karena Frans. Satu-satunya yang dia inginkan saat ini hanyalah menemui Enda dan berkumpul lagi bersamanya.
"Lihat Frans, dia begitu berani membentak mu!" Clara angkat bicara"Kamu salah telah memungut sampah ini dari jalanan!!" hinaan itu semakin menyayat hati Andara.
"Bu----."
"Ibu!!" sudah cukup Ibu mencaci dan memaki saya. Kalau Ibu begitu ingin menikahkannya dengan wanita lain, silahkan!!. Tapi Frans----." Matanya berpindah menatap kepada Frans dengan nanar"Ceraikan aku Frans!!."
Andara jatuh terjungkal ke sofa, dan Clara spontan tertawa renyah.
"Hahaha rasakan kamu menantu kurang ajar. Kamu itu bukan apa-apa sebelum di angkat Frans menjadi Nyonya Frans Aditya!."
"Akh---" Frans terdiam menatap tangan bergetarnya yang telah menampar Andara"Maaf Andara, aku nggak terima dengan kata-kata kamu."
"AKU MINTA CERAI FRANS!!" teriak Andara berlarian ke kamar, untuk segera mengepak barangnya.
Frans mengejar Andara ke kamar. Tinggalah Clara yang merasa puas pagi ini.
"Roman-romannya mereka akan segera berpisah. Jadi Enda adalah titik lemah Andara..Oke deh, aku akan menjadikan cucu kesayanganku itu sebuah ancaman, jika Andara nggak mau mundur dari pernikahan ini" rencana liciknya terdengar menjijikan.
Frans begitu putus asa membujuk Andara mengurungkan niat berpisahnya , Sebab tak sedetikpun Andara bersedia mendengar penjelasan tamparan yang Frans layangkan di pipi nya . Lagi pula ini adalah kesempatan langka bagi Andara , Ini bisa menjadi alasannya untuk keluar dari kehidupan yang penuh penderitaan ini.
"Kalau kamu ngak mau, aku yang akan melayangkan gugatan cerai kepadamu, Frans" tangannya begitu cepat mengepak pakaiannya ke dalam koper. Tak kalah cepat dengan mulutnya, begitu pandai menghalau usaha Frans yang ingin menjelaskan kelhilafannya barusan.
"Andara!!" bentak Frans.
"Bentak aja terus Frans" Andara balas membentak.
"Aku nggak ada bedanya dengan babu di rumah mewah ini.nHanya pakaianku saja yang membuatku berbeda dengan mereka. Ibumu begitu membenciku, aku bahkan melarikan anakku demi kamu. Tapi aku masih saja nggak pantas mendampingimu Frans" sungai air mata telah mengalir dari kedua mata Andara. Inilah akhir dari semua kesabarannya. Cukup sudah!!!. Jalan satu-satunya agar dia bisa bahagia menjalani hidup adalah, BERPISAH.
...☘☘☘☘...
"Ayah nggak usah jemput Enda ya. Nanti siang Bu Nana nemenin Enda main di sini kok" mulut penuh tersumpal makanan, membuat Enda tersengal-sengal ketika berbicara .
"Aduh aduh!. Santai dong makannya" Ben menuangkan susu ke gelas kecil dan menyerahkannya kepada Enda.
"Nih kasih air dulu biar nggak seret tenggorokannya" ujarnya menyerahkan gelas itu pada Enda.
"Glek glek" lolos juga susu itu ke tenggorokan Enda"Bwahhh!!. Manisnya kayak Bu Nana."
Ben terkekeh dengan celoteh sang anak"Suka banget ya sama Bu Nana?."
"Iya dong Yah. Jadiin Ibunya Enda dong" lagi-lagi Enda meminta Nana agar di jadikan Ibu kepada Ben.
Ting tong!!. Bel berbunyi di tengah obrolan ringan dua lelaki tampan beda generasi tersebut.
To be continued..
~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote Fav dan komen ya guys .
Salam anak Borneo.