
...Happy reading...
"Kak aku butuh penjelasan!" bentakku.
"Iya benar aku pacaran sama Tiwi" jawab kak Nanda.
Aku mundur beberapa langkah, dan berbalik kemudian melangkah menjauhi gazebo, lenganku ditahan aku tahu persis pemilik tangan tersebut, aku tak berani menoleh kebelakang. Dadaku sesak menahan emosi yang membara, bibirku bergetar menahan tangis yang ku bendung, dan bahuku bergetar menahan perasaan yang membuatku menyesal pernah membuka hati untuk orang sepertinya.
"Lepasin!" perintahku.
"Ran dengerin dulu penjelasanku" ucap kak Nanda lirih, aku menyeka air mataku dan menoleh kearahnya.
"Penjelasan? Aku rasa sekarang semuanya sudah jelas" ucapku.
"Aku pikir kita pacaran.." ucapku menggantung ucapanku.
"Kita cuma teman" sambung kak Nanda lesu.
"Lalu perhatian itu, tawa itu, dan ciuman itu..." ucapku lirih.
"Hahaha,,, semuanya palsu termasuk perasaan kakak ke aku, semuanya palsu" ucapku penuh emosi.
"Kita melakukan semua itu atas dasar suka sama suka, aku tak pernah memaksamu untuk berciuman denganku" ucap kak Nanda membela diri, kulihat disekeliling kamu tampak sepi.
"Kakak pikir aku menerima ciuman itu tanpa perasaan hah?" bentakku semakin kesal.
"Lagian aku tak pernah memintamu menjadi pacarku!" sergah kak Nanda.
"Tapi dua hari yang lalu kamu mencium leherku dan mengatakan aku ini milikmu, maksudmu apa?" aku balas membentaknya.
"Berhentilah menjadi perempuan murahan yang mau disentuh laki-laki disana sini" ucapnya.
Plakk
Tamparanku mendarat dipipi kirinya, aku melakukannya dengan semua emosiku, tanganku bahkan perih dan memerah setelah menamparnya.
"Jaga mulutmu, aku bukan perempuan ******!" sergahku sambil menunjuk kearah bola matanya.
Kak Nanda tak begeming, bibirnya diam tertutup rapat, aku melangkah meninggalkannya dan berlari tanpa tahu arah. Aku berjalan ke arah toilet air mataku terus mengalir, tanpa bisa ku hentikan, aku masuk ke toilet tersebut dan aku kaget setengah mati ternyata aku masuk ke toilet laki-laki.
"Maaf" ucapku buru-buru keluar dan menutup wajahku dengan totebag.
Aku masuk kepintu sebelahnya dan masuk kedalam bilik, aku menangis sejadi-jadinya. Patah hati memang menyakitkan, tapi aku yakin aku akan kembali pulih setelah aku mengiklaskan semua yang bukan untukku.
Setelah kupikir-pikir mungkin seharusnya dari awal aku memberikan hatiku untuk kak Uncum yang dengan sabar dan bertahap mendekatiku. Bukan seperti kak Nanda yang menciumku dan berani mengklaim bahwa kami hanya berteman.
"Sialan" ucapku meraih tisu dan mengelap air mataku.
***
Rapat.
Itu yang tengah kulakukan sekarang, aku yang biasanya pergi dijemput kak Nanda sekarang tidak lagi, aku yang biasanya duduk disamping kak Nanda sekarang pun tidak lagi. Aku duduk disamping Yuli dan berusaha fokus pada rapat yang tengah berlangsung saat ini, namun perhatianku selalu saja ke lengan kak Nanda yang digandeng oleh Tiwi terus-terusan, sesekali kulihat kak Nanda menepisnya dan kadang ia mengabaikannya.
Aku mengalihkan perhatianku, ku coba mengiklaskan semuanya apapun itu, luka hatiku bahkan belum sepenuhnya pulih karena Doni dan sekarang kak Nanda kembali merobek luka yang baru mau sembuh. Melepaskan seseorang dan aku pernah memilikinya memang menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan bila aku melepaskan seseorang yang bahkan belum sempat aku miliki.
Sekarang profesionalitasku sedang diuji, disisi lain aku ingin keluar dari kepanitiaan Comsit ini, dari devisi Litbang, atau BEM sekalian, namun disisi lain aku memikirkan janji dan sumpahku saat dilantik dulu. Aku tertunduk merasakan air mataku mulai mengalir dipipiku, kuhapus dan kembali kutatap wajah ketua panitia, kupusatkan pikiranku untuk rapat ini, aku tak ingin karena masalah pribadiku aku dicap tidak profesional.
Dengan bersusah payah aku memfokuskan pikiranku, akhirnya Rapatpun selesai. Rapat yang biasanya adalah hal yang aku tunggu-tunggu sekarang aku ingin waktu segera cepat berlalu saat rapat berlangsung, aku tak ingin melihat kak Nanda dulu untuk saat ini, hanya itu saja.
"Rani" sapa kak Uncum, membuyarkan lamunanku.
"Aku minta maaf untuk masalah dua hari yang lalu..." ucapku dipotong oleh kak Uncum.
"Gak papa tenang aja, aku ngerti kok kamu cuma butuh waktu, aku selalu nungguin kamu kok" ucapnya tersenyum kearahku.
"Nanti pulangnya aku anterin ya" ajaknya.
"Tapi Yuli..." ucapku dan lagi-lagi dipotong.
"Yul, Rani pulang sama aku ya" ucap kak Uncum.
"Hah?" Yuli mengangkat sebelah alisnya dan aku mengangguk kearahnya menandakan aku setuju untuk pulang dengan kak Uncum.
"Ya udah hati-hati, jagain Rani baik-baik ya" ucap Yuli memperingati.
Aku dan kak Uncum berlalu dari sekre, aku melewati dua pasang mata yang menatap sinis kearahku, aku berusaha untuk tak menoleh sedikitpun, dan akhirnya aku berhasil hingga tiba diambang pintu kemudian berlalu dari sekre bersama kak Uncum.
***
Hari demi hari berlalu, satu bulan lagi kami akan ke Bali melaksanakan acara Comsit, aku sudah mengurus semua obat-obatan beserta perlengkapan kesehatan lainnya. Semua hal ini kulakukan dengan ditemani oleh kak Uncum, dia bahkan setiap malam mengajakku keluar untuk makan malam bersama, nonton bioskop atau hanya sekedar jalan saja. Kalau kami rapat setelah rapat kak Uncum mengajakku makan, atau mengobrol di cafe.
Jika ku tau kak Uncum jauh lebih perhatian, jauh lebih manis memperlakukanku, jauh lebih pengertian, mungkin aku tak akan pernah dekat dengan kak Nanda. Dunia memang penuh kejutan, tuhan memberikan ujian dan setelahnya aku belajar dari pengalamanku.
Aku dan kak Uncum sedang duduk disebuah cafe, cafe yang biasanya ku datangi bersama kak Nanda, kulihat kak Nanda datang bersama Tiwi malam ini, Tiwi menggandeng lengannya hal itu membuatku cemburu.
"Ran, aku anterin pulang ya, udah malam" ajak kak Uncum, aku mengangguk dan berjalan dibelakangnya.
"Eh ada Nanda sama Tiwi" ucap kak Uncum berhenti dimeja mereka.
"Kak uncum sama siapa kesini?" tanya Tiwi basa-basi, jelas-jelas ia melihatku berdiri dibelakang kak Uncum.
"Oh sama kak Rani, duduk sini kak ayok gabung" ajak Tiwi dengan sok polosnya, kak Nanda yang semula menunduk tiba-tiba mendongak setelah mendengar namaku. Dia menatapku aku segera meraih lengan kak Uncum dan menariknya untuk keluar dari cafe menyebalkan ini.
"Kami duluan ya" pamit kak Uncum.
"Ran, kamu kenapa?" tanya kak Uncum lembut sambil menyibakkan rambutku kedaun telinga.
"Gak papa, ayok pulang" ajakku.
Kak Nanda mengenakan helmnya dan mengenakan helm untukku juga, dan kami melaju meninggalkan cafe tersebut.
Kami tiba dikosanku kak Uncum membukakan helmku, menyisirkan rambutku yang agak berantakan karena diterpa angin, hanya dengan perhatian kecil yang dilakukannya hatiku seakan meleleh dibuatnya.
"Ran, aku mau minta kepastian dari kamu" ucap kak Uncum lirih.
"Kepastian apa?" tanyaku bingung.
"Kamu sebenarnya suka gak sama aku?" tanyanya menatapku lekat.
"Aku sendiri juga belum yakin dengan perasaanku kak" jawabku lembut.
"Aku hanya ingin semuanya jelas Ran" balas kak Uncum.
"Aku ingin kita lebih dari sekedar teman, aku cinta sama kamu Ran"
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...