Meet You Again

Meet You Again
Rasa itu masih sama



...***Rindu adalah rasa yang curang!...


...Dimana rindu akan selalu bertambah tanpa tahu bagaimana cara nya untuk berkurang***...


...****************...


Sungguh kebahagiaan itu tengah memeluk erat sosok seorang Fatur. Kalau saja di dalam tubuhnya terpasang sebuah pengeras suara, mungkin suara detak jantungnya yang tak karuan itu akan membuat gaduh seluruh dunia ini. Memikirkan sang kekasih sedang berada di dalam apartemennya, Fatur menjadi salah tingkah. Dia bahkan bolak-balik di depan pintu.


"Lho, Nak Fatur kenapa gelisah begitu?, ada masalah ya? bilang aja, mungkin Ibu bisa bantu" seorang pekerja kebersihan apartemen mendapati Fatur tak kunjung masuk ke kediamannya.


"Eh Ibu, enggak kok saya nggak pa-pa kok" ujarnya cengengesan. Sungguh, kedatangan Mey di kediaman ini membuat nya berlagak seperti anak kecil. Kerjanya senyum-senyum melulu.


"Oh kirain ada masalah, ya sudah Ibu permisi ya" pamit undur diri.


"Iya Bu" Fatur mengangguk mempersilahkan sang Ibu petugas kebersihan masuk ke dalal lift.


Setelah mengatur nafas demi menetralkan dirinya, pelan-pelan Fatur masuk ke dalam apartemen. Tercium aroma masakan yang menggugah selera, mengundang langkah kakinya ke arah dapur.


Baby cumi pedas sudah tersedia di meja makan. Ayam bakar juga sudah tersedia lengkap dengan sambal dan lalapan. Nggak lupa oseng pare ke gemaran mey, juga sudah tersedia di meja makan. Ditemani nasi dan beberapa makanan pendamping lainnya.


Aroma dan tampilan hidangan ini sangat menggugah selera, membuat Fatur langsung menelan saliva"Sayang, kamu masak buat aku?."


Mey muncul dari ruang tamu, membawa setumpuk cucian yang sudah kering. Wanita ini menyanggul rambut panjangnya dengan sumpit, membiarkan beberapa helai anak rambut berjatuhan di sekitar wajahnya.


"Aku masak buat Mamah kamu" jawabnya asal. Meski terlihat berantakan, tapi penampilan Mey yang seperti ini sungguh memikat hati. Fatur terlampau bahagia hari ini.


"Kamu bercanda kan?."


"Sudah tau pake nanya!" ketus wanita itu"Di coba aja dulu. Kalau enak di makan, kalau nggak enak aku bawa pulang."


"Kamu mau pulang ke mana??" Fatur bersiap menyantap hidangan yang terus memanggil-manggil untuk segera di selesaikan.


"Pulang ke rumah aku lah! memangnya mau pulang ke mana lagi, Fatur!" ocehan wanita ini terjeda melihat Fatur langsung menikmati hidangan"Fatur! mandi dulu kek. Minimal cuci tangan dulu" secepatnya Mey menghentikan lengan Fatur yang sudah mencomot ayam bakar"Lepasin!!" hardiknya.


"Aku mau icip dikit Yang. Dikiiiittt doang!" hampir aja tu ayam bakar sampai ke mulut Fatur.


Ttuing!!, Mey mencubit sedikiiiiitttt ayam dan menyuapkan ke mulut Fatur.


"Kok segini doang?!" protes Fatur.


"Tadi katanya icip doang, kalau nggak mau ya udah! mandi aja dulu sana."


Menekuk wajah, Fatur menyerah. Dia mengikuti perintah Mey, membuka jas kerjanya dan meletakannya di atas sofa.


"Aku baru selesai membersihkan ruangan ini, tapi kamu sudah meletakan pakaian di sembarang tempat!" Mey kembali berbicara.


"Ups!! Sorry" Fatur mengambil jas itu dan menggantungnya di kamar.


"Dasar betina menggemaskan, semakin banyak mengomel semakin cantik saja" Fatur bergumam.


Sementara Fatur melaksanakan ritual mandinya, Mey terus menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Menyirami tanaman yang hidup segan mati nggak mau di beranda apartemen"Hayyaaa~~~ kalian pasti jarang sekali di siram" berkomentar pada sang tanaman yang sedikit layu.


Selesai mandi Fatur pun berpakaian. Entah kenapa atasan putih polos yang dia kenakan bersama jogger pant pendek itu, terasa sangat pas untuknya.


Rambutnya nampak masih setengah basah. Aroma segar sehabis mandi menguar dari tubuh nya, sedikit meng-olengkan pandangan Mey"Kamvret, sampoan doang kok cakep banget sih!!" gerutu hati Mey.


"Cepatlah selesaikan makanmu, aku ingin segera pulang" ujar Mey yang kini telah duduk berhadapan bersama Fatur di meja makan. Selalu tersenyum, begitulah Fatur hari ini. Seraya menikmati hidangan yang diolah oleh Mey, pria ini nggak henti-hentinya melontarkan pujian.


"Kalau makan itu jangan sambil bicara! fokuslah pada makananmu" tegur Mey.


"Aku terlalu senang menikmati hidangan yang kamu olah sendiri untukku" seraya menyuap oseng pare ke dalam mulutnya"Wah masakan ini paling enak ujannya berkomentar."


"Oh ya?, jadi kamu menyukai oseng pare ini?".


Sebenarnya ada niat terselubung dalam masakan yang diolahnya itu. Wanita ini sengaja membuat hidangan yang pedas, juga sengaja menghidangkan masakan berbahan pare yang pahit, agar Fatur enggak menyukai masakannya. Namun ternyata dugaan Mey salah, Fatur menikmati masakannya dalam waktu yang singkat.


"Kalau setiap hari begini bisa naik BB aku, Yang" berseloro usai menandaskan semua hidangan yang tersedia.


"Siapa juga yang mau masakin tiap hari" Mey mengemasi meja makan, membawanya ke tempat cuci piring.


"Setelah ini aku akan pulang. Aku masakin kamu sebagai ucapan terimakasih udah mau menampung aku tadi malam" ocehan terus keluar dari mulut Mey, sementara tangannya sibuk mencuci piring.


Sruk!!, sebuah pelukan hangat menghentikan aktivitasnya.


"Semakin judes Kamu semakin cantik, semakin menggemaskan, semakin menarik" Fatur memeluk Mey dari belakang, aroma khas pria ini tercium jelas.


Deg!!! suara jantung Mey berdetak cepat.


"Kamu---mau hidup lebih lama nggak??" Mey mengancam kelangsungan hidup Fatur"Lepasin nggak? aku tabok pake penggorengan nih."


"Nih, tabok nih" ancaman itu nggak berguna buat Fatur. Dia sekamin mendekap Mey dengan erat.


"Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Aku nggak peduli tentang kedekatan kamu sama Rio. Tolong temui aku beberapa jam setiap hari aja, itu udah cukup buat aku" suara Fatur terdengar sayu.


Mey melanjutkan aktivitasnya. Sejujurnya hati kecilnya menahan sakit, bukan sikap seperti sekarang yang ingin dia lakukan.


Tapi kalaj mengingat Mamahnya yang mencaci maki dirinya dengan lancar, membuat Mey semakin geram"Yaelah, ka Rio cuma temen kantor. Lagian jalan sama cowok bukan berarti kencan kan."


Fatur terkejut"Berarti Mey nggak ada rasa tertarik sama Rio" batinnya berkata.


Akhirnya Mey menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku sudah selesai, aku pulang ya." Mey melepaskan diri dari pelukan Fatur.


"Nggak boleh!."


"Ih bodo amat suka-suka aku dong" ujar Mey cuek melepaskan celemek juga melepaskan sumpit yang sedari tadi bertengger di kepalanya. Wanita ini menyugar rambutnya untuk sedikit merapikan penampilan.


"Terima kasih sumpitnya" sembari meletakan sumpit di meja makan.


"Nanti dulu dong Sayang, gimana kalau kita jalan-jalan dulu" sebisa mungkin Fatur menahan Mey agar nggak pergi meninggalkannya.


"Huppffh!!..aku cuma mau pulang. Nanti kalau Mamah kamu ke sini gimana?, tenagaku lagi nggak fit buat melayani serangannya."


"Kita baikan kan?, kamu milik aku seperti dulu kan??" tiba-tiba Fatur meminta lebih kepada Mey.


"kita tidur seatap, makan semeja, bernafas di dalam satu ruangan, tapi bukan berarti kita bersatu kembali" kata-kata wanita ini sukses membuat hati kecil Fatur berdenyut nyeri.


"Kamu bilang nggak akan ninggalin aku!."


"Itu hanya di depan Mamah kamu" Mey semakin kejam, dia menutupi perasaan yang sebenarnya kepada Fatur.


Fatur terdiam, dia mencoba bernafas dengan santai. Oh!! Ini sungguh menyakitkan. Mey sangat merasa bersalah, dia nggak bermaksud membuat Fatur sesakit ini.


Melangkahkan kaki menghadapi Fatur, sekarang pandangan mereka beradu"Sebuah paku yang menancap pada sebatang pohon akan tetap meninggalkan bekas, meski paku itu telah tercabut" ujar Mey pelan.


"Namun sebongkah batu lama-kelamaan akan berbekas meski hanya di jatuhi tetesan air" kali ini Mey menarik pundak Fatur agar lebih dekat kepadanya.


Perlahan ciuman hangat dia berikan di bibir Fatur. Dengan lembut dia memberikan sebuah ciuman yang telah lama Fatur rindukan. Kemudian pergi dari kediaman itu.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.