Meet You Again

Meet You Again
Menyerah pada Rindu



Tit!!..tit!!..cekrek!!pintu flat terbuka.


Jova muncul dari balik pintu. Dia nampak kelelahan, jam sudah menunjukan pukul 22:45.


Kedatangan Jova di sambut senandung merdu Vino dari dalam kamar mandi.


"Ngapain jam segini di kamar mandi??" Jova bertanya-tanya dalam hati. Ternyata pemuda itu sedang mencuci pakaian. Tangannya begitu cekatan memencet tombol-tombol mesin cuci, kemudian terus bersenandung memasang hanger pada pakaian yang sudah di keringkan.


Begitu tertata rapi, Vino sepertinya menyukai aktivitas menjemur pakaian. Setelah semua pakaian usai di jemur, dirinya menyilangkan kedua tangan di dada, menunggu pakaian selanjutnya selesai di keringkan.


"Ehem" Jovana berdehem. Spontan Vino membalikkan badan.


"Sis!! kapan masuknya? kok nggak ada suara?!." Kedua alisnya terangkat naik, dengan mulut sedikit terbuka menahan raga terkejut.


"Barusan sih. Kamu ngapain??" Jova menanyakan pertanyaan yang sudah terlihat jawabannya.


"Harus di jawab ya??" ujar Vino menatap mbak Jova yang manis, dengan senyum yang manis pula.


Senyuman itu lantas menghinggapi Jovana. Tanpa diduga wanita cantik ini memeluk erat tubuh Vino"Kami rajin sekali."


"Harus rajin dong. Ngomong-ngomong nih sis, kalau aku tahu dengan berkelakuan baik dan juga menjadi pria yang rajin, akan mendapat pelukanmu, aku akan memasak juga mencuci mulai hari ini" ujar Vino mulai ngelunjak.


"Ish! dasar Vino!!" Jovana membuang muka. Tertawa namun menatap arah lain. Seraya meraih jemari wanita itu, Vino menanyakan kabar sang Ibunda"Gimana dengan Ibumu?."


Tiba-tiba suasana menjadi tegang. Meskipun meninggalkan kesan dingin dan cuek, bagi Jova Ibu tetaplah Ibu. Pernikahan mereka memang nggak akan di rayakan besar-besaran, tapi tetap saja ini sebuah pernikahan. Setidaknya sang Ibu harus hadir, menyaksikan dirinya melepas masa lajang.


"Kamu harus kasih tau, kita nggak bisa mengabaikan Ibu kamu sayang" brondong ini meskipun lebih muda, ada kalanya dia bersikap sangat dewasa dalam menghadapi masalah.


"Aku juga telah memikirkan hal itu sebelumnya. Besok aku akan menanyakan kabarnya melalui tante Rosa, hari ini tante nggak ke Cafe jadi aku tidak sempat membahas hal ini dengannya" Jova melepas pelukannya dan melepaskan pakaian kerjanya.


"Baiklah, semoga beliau bisa hadir di pernikahan kita nanti." Ucapan Vino di angguki Jova.


Setelah ngusap pucuk kepala Jovana, Vino dengan telaten melanjutkan pekerjaan. Kali ini ada beberapa pakaian dalam mereka yang harus di jemur"Kedepannya kita nggak boleh menyimpan rahasia ya, apapun itu harus selalu jujur dan terbuka.


Jova melirik Vino seraya berkata"Iya bang, Vino" di iringin tawa yang meledek.


Baru pertama kali mendapat panggilan seperti itu, Vino yang petakilan ini wajahnya berubah menjadi merah merona"Dek Jova, jangan main rahasia-rahasiaan ya" ujarnya menatap Jova nakal.


"Hahaha, iya deh bang Vino" sungguh rasanya menggelikan sekali. Tawa seorang Jova nggak tertahankan. Baru sekarang dia tertawa terbahak sejadinya di hadapan Vino.


Entah sihir apa yang Vino gunakan kepada dirinya. Hingga dia terjatuh terlalu dalam mencintai lelaki yang sekarang berada di hadapannya.


Pria lebih muda begitu gigih mengejar Jova, begitu kuat menangkis penolakan Jova. Dan ketika akhirnya bersama dia bahkan sangat manis memperlakukan Jova. Seperti sekarang ini, tanpa di minta dia mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan cucian piring kotor pun sudah dia selesaikan.


Sementara itu di apartemen Fatur.


Tanpa sepengetahuan Mey, Bibi kebersihan  sudah melakukan tugasnya. Fatur memang nggak bilang sama Mey bahwa gedung apartemen yang dia tempati ini memiliki layanan kebersihan. Tinggal bayar, maka pekerjaan membersihkan rumah pun selesai.


Setelah membayar pada Bibi"Bagus! semua telah bersih kembali" Fatur cukup puas dengan hasil kerja Bibi kebersihan itu. Pelan namun pasti dia mendekati pintu kamar, mencoba curi dengar suara-suara dari dalam.


"Sepi sekali, apa yang sedang di lakukan?" gumamnya. Rasa penasaran membawa Fatur untuk melangkah masuk ke kamar itu. Setelah berada di dalam, seorang Mey sedang merebahkan diri di atas ranjang miliknya, dengan punggung membelakangi pintu.


"Sayang...." memanggil pelan. Gadis itu nggak bersuara, tubuhnya juga nggak bergerak. Merasa nggak ada jawaban Fatur pun melangkah lebih maju.


Wanita kesayangannya itu ternyata sudah tertidur pulas, wajahnya yang galak, garang dan cemberut seharian ini terlihat manis dan cantik ketika tertidur.


"Sayang, kalau lagi jinak begini kamu makin gemesin" jemari Fatur rasanya handak menerkam wajah Mey.


Sudah jam sebelas malam. Rasanya nggak tega kalau harus membangunkan wanitanya ini. Lagipula wajah menggemaskan itu terlihat begitu nyaman dalam tidurnya. Seraya berpikir bagaimana caranya untuk mengantarkan gadis ini pulang, Fatur merebahkan diri di sampingnya.


"Mey..., Sayang" panggilnya pelan. Jemarinya menyematkan rambut yang menutupi wajah Mey ke daun telinga.


"Bawel amat sih. Orang lagi tidur juga!" hardik gadis itu dengan mata terpejam.


"Kamu nggak pulang, Sayang??, aku udah selesai beresin rumah."


"Pulang kemana??" mengoceh dengan mata terpejam.


"Pulang----"


"Berisik!!. kamu ganggu banget sih. Mending kamu tidur juga!" Mey melepaskan lengan Fatur dan menepuk sisi nya, mengajak pria itu tidur seranjang. Dengan mata masih terpejam.


"Kamu mengigau?. Jangan macing-mancing dong Mey, takut aku khilaf" rasa gelisah mulai merasuki diri Fatur.


Mey membuka mata, menatap Fatur sekilas dan berbalik membelakangi pria yang sebenarnya sangat di rindukannya. Alih-alih menjawab gadis ini kembali tertidur.


Di bilang tidur tadi dia ngoceh, di bilang bangun tapi dia beneran tidur. Fatur bingung harus ngapain, akhirnya dia menarik bantal ke samping Mey, dan menaikan selimut ke tubuh sang kekasih.


Di pandanginya punggung gadis yang sangat dia cintai itu, perlahan dia pun merebahkan diri"Sayang, aku udah bangunin kamu ya. Besok jangan nyalahin aku ya" bisiknya di telinga Mey. Namun Mey nampak benar-benar tertidur, dia nggak menanggapi bisikan Fatur.


Setengah takut Fatur memegang jemari Mey, memperhatikan jari manisnya"Kapan jari manis ini bisa aku selipkan cincin?" berguman pelan, dan mendekati tubuh Mey.


"Malam ini aja, ijinkan aku tidur memelukmu" bisiknya lagi, pelan. Dengan hangat dia pun memeluk tubuh Mey dari belakang. Menggenggam jemari gadis manisnya, dan nggak berapa lama dia pun terlelap dalam tidur. Mungkin dia sudah berkelana dalam mimpi indahnya.


Mata gadis itu memang terpejam, namun ada air yang merembes di tepiannya. Sedari tadi dia nggak benar-benar tertidur. Mey mendengar semua yang di bisikan dan di katakan Fatur. Ingin rasa nya dia berbalik memeluk Fatur, namun semua itu sangat gengsi untuk Mey lakukan.


"Oh Tuhan, malam ini saja. Aku benar-benar merindukanya" bisik hati Mey.


To be continued....


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.