Meet You Again

Meet You Again
[S1] 4. Sepenggal harapan



...Happy reading...


Aku berharap akan lulus di salah satu Universitas ternama di kotaku dan berada disatu kampus dengan Doni. Aku memilih program study Teknik Sipil dan Manajemen, kedua jurusan yang aku pilih tidak berhubungannya dengan akuntantsi. Entah setan apa yang membuatnya ingin jurusan Teknik.


Aku lumayan jago menggambar, dan jurusan manajemen aku pilih karena sudah muak dengan pertemuan antara debet dan kredit, belum lagi kalau udah capek-capek ngitung dan hasil akhirnya tidak balance, rasanya aku ingin makan kertas saja saking kesalnya.


Kulirik jam di dinding kamarku yang bertengger dengan manisnya menunjukan pukul tiga sore, dengan antusias yang luar biasa menggebu-gebu akhirnya kubuka website laman pengumuman.


Deg deg deg


Duar..


Bagai disambar petir jantungku, wajahku yang tadinya antusias tiba-tiba berubah murung melihat tulisan berlatar merah yang bertulis 'mohon maaf anda belum beruntung, jangan menyerah tetap semangat'


"Semangat palak lo" aku berdecak kesal sambil melotot kearah laptop yang berada diatas meja kayu dikamarku.


Aku beranjak keatas ranjang dan berbaring menghadap ke langit-langit kamar menerawang jauh sejauh samudra antartika dan berusaha tenggelam didalam lamunanku.


"Aku memegang juara kelas tiga tahun berturut-turut nilaiku semuanya menyentuh angka sembilan dimana masalahnya?" Tanyaku pada diri sendiri, mencari-cari letak kesalahanku mengapa bisa hal ini terjadi begitu saja.


Aku berguling kesana kemari memikirkan segala yang melintas dibenarku seribu kali ku berfikir tak ada alasan Universitas itu menolakku. Aku gusar dan sedih aku beranjak dari kasur dan berjalan menghampiri ibuku yang tengah duduk disofa sambil menikmati tontonannya.


Aku meraih salah satu cemilan yang berada diatas meja, dan memposisikan diriku duduk disofa bersantai bersama ibuku. Aku berniat mengatakan kesedihanku sore ini dan berharap ibu mau menghiburku.


"Bu, Rani ga lolos SNMPTN" ucapku mulai membuka percakapan, kulirik ibuku tengah asik dengan kuaci-kuaci yang berhamburan diatas meja, dan membuang kulitnya kedalam bungkus.


"Ya udah ikut SBMPTN" jawab ibu singkat dan tetap fokus pada siaran TV yang ditontonannya.


"Ibu sih Rani udah dibilang pengen kuliah dikampus ayah dulu" ucapku memelas sambil terus menyuapi cemilanku.


"Udahlah ga usah mimpi mau sekolah jauh-jauh" ucap ibu menyindirku secara tiba-tiba, aku tahu dia tak akan menyetujui ideku karena dia ingin aku tetap berada dibawah keteknya setiap waktu.


"Padahal aku bisa lolos lewat nilai raport loh bu" ucapku mencoba meyakinkan, namun ibu tetap saja tak tertarik untuk menuruti kemauanku.


"Apapun alasannya pokoknya ga boleh kuliah jauh-jauh" ibu memperingatiku karena kampus ayahku dulu memang jauh dan terletak dipulau lain.


Aku tertunduk lesu dan berjalan menuju kamar, melengos begitu saja berharap ibu memanggilku dan dengan senang hati menuruti kemauanku. Aku hanya ingin kuliah dikampus ayah dulu jika aku memang tak bisa berada dikampus yang sama dengan Doni.


***


Aku menatap tak bernafsu ke arah makananku yang terletak diatas meja kayu, aku merasah letih dan capek padahal aku tidak sedang melakukan olahraga yang berat.


"Yah, aku ga lulus SNMPTN" ucapku kepada ayah, berharap ayah dapat mengabulkan keinginanku.


"Ya sudah coba ikut SBMPTN saja, oh ya kemarin kamu ambil prodi apa?" Ucap ayah menyarankan dengan jawaban yang sama dengan ibu. Benar-benar tak ada yang bisa ku harapkan kepada kedua orang tuaku ini.


"Teknik sipil sama manajemen" jawabku mulai menyuap nasi ke mulutku, aku keasal dan meluapkan amarahku disetiap kunyahan dimulutku.


"Kok ga bilang kalo mau ngambil teknik, wajar aja kalo kamu ga lulus kamu dari SMK udah akuntansi kok malah ngambil teknik" omel ayahnya tak percaya dengan kemampuan gambarku, padahal bakat yang aku miliki adalah aliran dari tangannya.


"Aku udah capek sama akuntasi ayah" jawabku mulai jengan dengan topik pembahasan ini dan membuatku mulai sensitif.


"Kan ibu juga udah bilang lanjutkan saja di program study akuntansi kenapa harus mengalihkan jurusan?" Tambah ibu mengompori amarahku, padahal kepalaku sudah mengeluarkan percikan api dan ibu malah menyirami bensin diatasnya membuatku menjadi berkobar dan memerah karenanya.


"Sudah sudah, segini saja besok waktu daftar SBMPTN pilih prodi akuntansi jangan belok-belok lagi, mana tau itu adalah faktor kamu ditolak oleh Universitas" ucap ayah menenangkan, dan rasanya aku menemukan jawaban dari kegusaranku yaitu sedikit kesalahan pada tidakanku saat mendaftar SNMPTN. Benar aku memilih prodi yang melenceng dari jurusanku, yang benar saja dari akuntansi kok malah ke teknik sipil.


"Iya yah" jawabku lirih dan melanjutkan makanku.


***


Aku termenung sejenak melihat pilihan prodi yang tertera dilayar laptopnku. Aku sedang mendaftarkan kuliah lagi melalui jalur SBMPTN, kuharap kali ini aku bisa lulus di Universitas yang sama dengan Doni.


"Udah lah manajemen sama pendidikan bahas inggris ajalah" gumamku, aku memang bukan anak yang penurut namun setidaknya aku harus belajar dari pengalaman bahwa mungkin aku hanya ditakdirkan kuliah apabila memilih prodi akuntansi. Tapi aku sudah tak mau lagi bergelut dengan debet dan kredit yang tak balance-balance.


Klik, tombol submit sudah kuklik, dan nasibku untuk kuliah lagi-lagi sedang dipertaruhkan.


Aku beranjak dari kursi dan berganti pakaian menyemprotkan sedikit parfum kepergelangan tanganku, aku meraih kunci motorku dan melangkah keluar.


"Mau kemana?" Tanya ibuku yang duduk disofa sambil menonton siaran TV favoritnya.


"Ke bank, transfer uang SBMPTN" jawabku karena aku sendiri memang tak memiliki tabungan. Ibu melarangku untuk mendaftarkan karena menurutnya tidak terlalu diperlukan, lagian siapa juga yang mau mengirim uang untukku.


Aku menstater sepeda motorku dan melaju kesalah satu bank terdekat dari rumahku. Aku memarkirkan sepeda motorku, melangkah masuk keruangan tersebut mengambil nomor antrian dan duduk dikursi tunggu.


"Antrian nomor 197" ucap salah seorang teler bank, membuatku kaget dan membuyarkan lamunanku.


"Oh, nomor antrianku" Gumamku, buru-buru menuju meja teler, kuraih tas selempangku yang ternyata resleting tidak di tutup.


BRAAKK


Beberapa barangnya berserakan dibawah kursi tunggu. Hp, handset, dompet dan beberapa barang lainnya. Kumasukkan barang-barang yang berserakan tersebut kemudian berlari kecil menuju meja teler.


"Ga papa santai, jangan buru-buru" ucap mbak teler tersebut sambil tersenyum menertakan kebodohanku.


"Bukti setorannya bisa saya terima" ucapnya lagi, dan aku menyodorkan kertas tersebut kepadanya.


***


Dua minggu setelah hari pendaftaran tersebut akupun mengikuti ujian SBMPTN untuk masuk ke Universitas yang sama dengan sebelumnya, namun dengan pilihan prodi yang agak berbeda dari pada sebelumnya.


Sendiri ku pijakan ruang ujian tersebut berharap akan ada yang kukenal diruang ujian ini. Kuedarkan pandangan untuk memastikan ada seorang saja yang mengenalku, namun hasilnya nihil entah anak dari sekolah mana yang mengisi ruang ujian ini tak satupun ada yang kukenal.


Pengawas telah membagikan lembas soal beserta lembar jawaban. Ku isikan lembar jawabannya tersebut kurang dari satu jam aku sudah meninggalkan ruang ujian untuk ujian pertamaku.


***


Kulirik arlojiku menunjukan pukul 13.30 menandakan ujian kedua akan segera dimulai dalam waktu sepuluh menit lagi, ku persiapkan peralatan dan perlengkapan untuk ujian nanti sembari menunggu pengawasnya datang.


Setelah lembar soal dan jawaban sudah berada ditanganku bergegas kukerjakan semua soal yang memuakan ini, aku mulai jengah dengan keadaan ini berharap waktu segera berlalu agar aku bisa meluruskan punggungku diatas kasur posesif dikamarku.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca***...