Meet You Again

Meet You Again
Rani



Udara dingin terasa menusuk hingga ketulang. Ada sepasang pengantin baru yang semakin berpelukan erat di bawah selimut berwarna biru muda.


"Sayang, matiin AC nya dong. Dingin banget ini!." Suara itu datang dari sang istri, berharap kepinginnya di sadari sang suami. Namun sayang, sang suami tak cukup peka.


Kaki mulus Jovana bergerak leluasa mengusir Vino keluar dari balutan selimut"Matiin dong AC nya!."


"Akh!!curang nih, kamu nggak mau bagi selimuti. Itu remotnya di nakas sebelah kamu Sayang, matiin sendiri dong!" balas Vino berusaha masuk kembali ke dalam selimut.


Tangan Jova menjulur keluar selimut dan secara acak dia mematikan AC, untungnya bener.


Vino yang sudah kembali menyelinap kedalam selimut berbisik"Sayang, main satu ronde lagi yuk."


Jovana menyibak selimut, kedua mata yang sedari tadi sangat malas untuk terbuka seketika melek, menatap lurus wajah brondong yang sekarang telah sah menjadi suaminya.


"Biar semangat kerjanya, Sayang" tatapan nakal Vino sungguh menggoda iman Jovana.


"Sisain buat nanti malam dong Vin. Kayak nggak ada hari lain aja" rasa lelah sudah benar-benar menggerogoti tenaga Jovana. Mentang-mentang sudah sah, si brondong maunya nge-teh melulu, seperti nggak kenal rasa lelah.


"Kan udah jadi pahala, Sayang" tanpa basa-basi Vino mendekap Jova ke dalam pelukannya.


"Abang kedinginan, gimana kalau kita saling menghangat" ujarnya menggoda.


"Huppffhh!!"Jova menahan tawa, benteng es batunya benar-benar telah di runtuhkan Vino.


"Yang tua siapa sih??" ujarnya memandang intim Vino yang sekarang sudah mengurungnya dengan kedua lengannya.


"Mau tua mau muda, sstri tetaplah di bawah suami. Kayak sekarang ini" awal nya Vino mencium Jova pelan, lama-lama permainan mereka semakin memanas. Di tambah pengalaman bercinta yang semakin pandai, Jova sedikit kewalahan mengatasi hasrat lelakinya ini.


Dingin yang menusuk perlahan berubah menjadi keringat yang mengucur dari tubuh mereka. Di tengah aktivitasnya, Vino menekan tombol On pada remot AC.


"Kok di idupin lagi??" tanya Jova di napas menderu.


"Biar makin lama, aku nggak kuat panas Sayang" bisiknya di telinga Jova.


Meninggalkan Vino dan Jova yang sedang memadu kasih, di tempat lain Lian terbangun karena suara berisik dari arah dapur. Pemuda ini mencari cari ponsel dan jam menunjukkan pukul 04:50.


"Mamah..!!"serunya.


"Iyaaaa!!." Rupanya Mamah yang membuat suara berisik barusan.


"Berisik Mamah!!" jeritnya dari dalam kamar.


"Cekrek!!" Mamah Vivi nongol di muara pintu Lian.


"Berisik apanya, Mamah masak buat Papah kamu. Pagi ini dia harus berangkat keluar kota, buat bekalnya sekalian."


"Ngh, oke oke. Lian lanjut tidur lagi. Masih ada waktu 40 menit" sangat malas dia menyahut perkataan Vivi, rasanya masih sangat mengantuk.


"Eh, gimana si Kaila." Tiba-tiba suasana hati Lian menjadi buruk.


"Emang Kaila kenapa nah?" dia balik bertanya.


"Ajakin kawin!!"


"Bisa di tabok mlMah kalau ngajakin Kaila kawin. Ini tentang nikah apa kawin?."


Sontak Vivi menggebuki anak tunggalnya"Berani ya kamu mau ngawinin Kaila, Mamah gorok leher kamu!."


"Katanya di ajakin kawin!!" Lian berusaha menangkis serangan Mamah Vivi yang bertubi-tubi.


"Iya nanti, Lian samperin ke apartemennya. Lian ajakin kawin deh. Kira-kira berapa ronde Mah supaya bisa jadi cucu?."


Mamah Vivi semakin kesal terhadap Liang"Ngomong nya sembarangan!!. bangun cepetan. Otak kamu harus di kuras pikiran kotornya, sana pergi jogging!. Biar udara kotor di otak kamu bisa berganti dengan udara segar."


Kaki Mamah Vivi menghentak meninggalkan kamar Lian. Punya anak satu satunya, kelakuan udah kayak Mr.Bean, aneh pokoknya.


Seperginya sang Mamah, Lian terpaksa membasuh wajah ke kamar mandi. Sambil menyikat gigi dia mengumpulkan jiwa-jiwa yang masih terlepas di alam mimpi.


"Mamah mulai minta menantu, Kaila malah nggak niat nikah" sungguh Lian sedang galau, gundah dan gulana.


"Mana tu cewej makin hari makin judes binti galak" keluhnya lagi. Lian merindukan masa-masa mesranya bersama Kaila di bangkok dulu.


Kembali ke kediaman Jova dan Vino. 07:15 pagi.


Jova keluar dari kamar mandi, bersiap membuat sarapan untuk Vino.


"Sayang, buruan mandi. Sudah jam 7 lho" Vino masih setia di dalam selimut.


"Sayanggg!" panggil Jovana lagi. Suara mesra sang istri akhirnya mampu membuat Vino beranjak dari tempat tidur.


Dengan malas dia melangkah ke dapur, namun mata nya yang tadi terasa sangat mengantuk, kini terbuka lebar melihat pemandangan indah di dapur.


"Morning suamiku"


Langkah Vino begitu bersemangat mendekati istrinya yang nampak sangat menggoda pagi ini.


"Kamu mandi dulu gih, aku siapin sarannya" mungin inilah yang namanya kekuatan wanita seksi, dengan patuh Vinod yang bawel bergegas ke kamar mandi menuruti perintah sang istri.


"Sayang, kamu kalau keluar rumah jangan pake baju kayak gitu ya!!" teriaknya di sela mandi.


"Siap sayangku!!. Sahutan Jova membuatnya semakin bersemangat pagi ini


"Ugh, Papah Hermanto, makasih udah cepet-cepet nikahin Vino. Vino janji akan bekerja keras bikin cucu super ganteng kayak Vino, atau super cantik kayak Jova" ujarnya girang bukan kepalang.


Di lain tempat Lian sudah berolahraga sampai ke taman kota. Kali ini headset terpasang di kedua telinganya. Dan karena headset itulah dia jadi nggak mendengar suara Rani manggil-manggil dia di belakang.


Sekuat hati Rani mengejar lari kecil Lian, hingga akhirnya dia berhasil menepuk lunggung Lian"Hosh!! hosh!! pake headset boleh sih, tapi volume nya jangan full. Bahaya kalau ada kendaraan" Rani berucap sambil sedikit jongkok


.


"Sorry, aku nggak liat ada kamu tadi. Dan sorry masalah headsetnya" Lian tersenyum menampilkan barisan gigi putihnya.


Senyuman itu membuat Rani terpana untuk beberapa saat. Dia jadi canggung kepada Lian, apalagi ini baru pertemuan kedua mereka. Rani merasa dirinya terkesan ngebet banget penggen dekat sama  Lian.


"Karena kita ketemu lagi, kita jogging bareng yuk" ajak Lian. Pria ini tergolong ramah meski baru dua kali bertemu. Dirinya juga kerap tersenyum, membuat Rani semakin tertarik padanya, sebab senyuman Lian sangat mempesona baginya.


"Yoi" sahut Rani setelah tersadar dari lamunan indahnya. Pagi itu mereka ber-olah raga bersama dan sebelum berpisah mereka sempat bertukar nomor ponsel.


"Mungkin kita bisa ngobrol di lain waktu" ujar Rani yang lebih dulu meminta nomor ponsel Lian.


To be continued..


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.