
Sepasang calon pengantin terlihat sibuk memilah gaun pengantin di sebuah butik ternama di kota itu. Rambut panjang nan hitam lebat sang calon mempelai wanita di gelung ke atas, memperlihatkan leher jenjang nan putih mulusnya.
"Sayang, jangan pamer yang mulus-mulus dong" tegur Fatur.
Tanpa sepengetahuan para sahabat mereka, minggu depan Mey dan Fatur akan bersanding di pelaminan. Mereka sengaja menyembunyikan perihal pernikahan ini, hanya ingin membuat kejutan aja. Sekalian pengen bikin Lian sama Kaila iri juga.
#Flashback beberapa hari yang lalu #
Sebuah mobil hitam yang kerap bertandang ke wilayah itu, kini telah terparkir di depan sebuah hunian sederhana.
Dengan gagah seorang pria berperawakan tinggi tegap, turun dari kursi depan dan membukakan pintu belakang sebelah kirinya.
"Hati hati Mah. Anjir, sendalnya kayak mimbar ceramah. Kalau nyungsep Fatur ketawain dulu nih, baru di bantuin" seloro sang anak kurang ajar.
"Pengen Mamah jitak ginjal kamu Tur?. Kamu cuman menegur apa nyumpahin Mamah sih?" Mega berjalan perlahan mengingat teguran Fatur barusan. Baru nyadar dia, ada benernya juga sih ucapan sang putra. Selop sendalnya memang lebih tinggi dari biasanya. Gimana ya, namanya juga pengen ngelamar calon mantu somplak. Dia harus berdandan cetar dong. Setelan bergaya modis dengan tatanan rambut bersanggul ala emak-emak kece di drakor. Nggak lupa rambut di depan di kasih juntaian sehelai dua helai biar lebih terlihat anggun. Dan dengan sepatu tingginya, Mega menjelma menjadi emak-emak modis nan cantik elegan.
"Duh duh!!. Papah ngeri lihat kamu jalan lho Mah. Ganti pake sendal jepit Papah aja yah!." Baskoro ngilu melihat Mega berjalan seakan berjinjit kaki, saking tinggi itu sendal.
"Emang mau ke mushola pake sendal jepit!. Biasa aja dong ngadepin bini modis kayak diriku" jelas Mega menolak. Masa sendal cetar di ganti sendal jepit, yang benar aja ini suami!.
"Ya bener sih itu sandal emang buat Papah ke mushola atau ke masjid, kalau agi di perjalanan. Tapi enakan sendal jepit lho Mah, dari pada sendal kayak gitu. Benar kata Fatur, kalau nyungsep Papah ketawain dulu. Sambil ambil vidio, baru deh di tolongin" dua anak dan Ayah itu terkekeh, menilai penampilan sang wanita tercantik mereka yang berdandan berlebihan malam ini.
"Udah deh Mega. Para lelaki emang begitu. Nggak ngerti Fashion mereka mah" sahut Wulan, yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
"Tau nih!!. Laki-laki memang nggak ngerti perempuan" lenguh Mega mendahului Fatur dan Baskoro memasuki kediaman calon mantunya.
"Gimana kabarnya?" Wulan nampak senang dengan kedatangan keluarga Fatur malam ini. Roman-romannya bakal sah jadi mertua si babang tamvan deh.
"Kabar aku baik. Kalian gimana?" Mega balik bertanya. Setelah melewati badai bertempuran dengan Mey, akhirnya Mega mampu di jinakan dan menerima Mey dengan lapang dada. Yah, meskipun kadang-kadang masih menyebalkan bagi Mega. Pada intinya Mey gadis yang baik kok.
"Alhamdulillah baik juga say. Silahkan duduk dulu ya. Aku nyusulin Ayah ke belakang dulu. Tadi sore aku masakin sambel pete pedes nampol, eh balah bocor itu suami" Wulan langsung ngeloyor ke belakang, meninggalkan para tamunya yang tercengang dengan sikap santainya di ruang tamu.
"Hmmm, jangan heran deh" dengan tertawa kecil, Baskoro memakhlumi sikap nyeleneh Ibunda Mey.
"Santai banget" Mega ikutan nyengir.
"Ibu!!, tamu kok di tinggalin" terdengar rengekan protes Mey dari dalam sana.
"Tamu rasa keluarga mereka itu. Kamu ke depan dulu sana" usir Wulan"Ayah cepetan bokernya!!. Fatur sama keluarganya udah datang."
Mey yang melenggang ke ruang tamu seketika membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangan. Fatur dan kedua orang tuanya terkekeh mendengar teriakan Ibunda Mey.
"Maaf Om, tante. Ibu kayanya lagi kehabisan obat" Mey nggak bisa berkelit di hadapan mereka. Jalan satusatunya hanya menerima apa adanya kelakuan sang Ibunda.
"Hahaha udah lah Mey kamu santai aja. Ibu kamu memang begitu kan. Kami sudah kenal banget kok" ujar baskoro .
"Emaknya unik begitu, anaknya lebih unik."
"Eh!!. Ada Mamah sama Papah! . Jangan goda-godaan" Mega berkacak pinggang dengan bibir mengerucut.
"Tabok tante. Makin hari Fatur makin jago ngegombal. Ngidam apaan kemarin pas bunting, tan?" Mey duduk senderan ke tubuh Mega. Meskipun sempat canggung ketika berhadapan dengan Mega, kini mereka sudah sangat akrab. Usaha Mega dalam mendekati Mey berbuah memuaskan. Hampir setiap hari dia mengirimi Mey pesan dan beberapa kali mengajak calon mantunya makan siang dan Shopping bareng. Bahkan ke arisan dia juga ngajakin si Mey.
"Kaga ada ngidam..Cuman keseringan nonton Marsha and the Near aja, jadinya rada-rada pe'ak begini anaknya" sahut Mega dan membuat mereka yang ada di situ terkekeh tak terkecuali Fatur. Bukan terkekeh karena ucapan sang Mamah, dia lebih senang melihat pemandangan di depan mata sekarang. Dua wanita tercantiknya nampak akur sekarang. Berbanding terbalik dengan mereka setahun terakhir.
"Nihhh, silahkan di minum. Kuenya juga di makan" Wulan datang dengan senampan minuman dan kue-kue.
"Ih Ibu. Harusnya Mey yang bawa ini semua."
"Huh. Udah basi nggak usak sok imut. Lagian kamu mau ibu gadaikan sama mereka, jadi jangan bertingkah sok manis" celoteh Wulan lancar jaya.
"Buset. Kalau begini mah nggak usah ngomongin masalah pernikahan. Fix aku di serahin ke keluarga kamu Tur" ujar Mey.
To be continued...
~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ya teman ^,^ .
Salam anak Borneo.