Meet You Again

Meet You Again
[S1] 22. Sepeda motor



...Happy reading...


"RANI" teriak seseorang dari luar mengagetkanku, aku yang tengah menegak air minum tersedak karena teriakan itu yang ku yakin pemilik suara itu adalah Yuli.


"Masuk aja ga dikunci" sahutku kembali merebahkan tubuhku membuatku enggan untuk bangkit kalau bukan ada hal yang mendesak.


"Ayok berangkat" ucapnya berdiri diambang pintu sambil melepaskan sendalnya.


"Kemana?" Tanyaku masih asik dengan ponselku membaca komik online untuk mengisi kegabutanku.


"Rapat Devisi loh" ucapnya mulai jengah, Yuli memang mudah terpancing emosi belum lagi wajahnya yang mendukung kegalakannya membuat menjadi semakin cocok dengan image yang garang.


"Hah kok aku ga tau?" Tanyaku dan mulai duduk, ku geser layar ponselku mencari-cari grup devisiku dan membawa satu persatu pesan yang masuk. Dan benar saja sebentar lagi akan ada rapat devisi.


Buru-buru aku bangkit dari kasur kemudiam menarik handukku dan berlarian ke kamar mandi. Yuli menatapku bingung melihat tindakanku yang sembrono membuatnya geleng-geleng kepala.


"Ran lu ada hubungan apa sama kak Kusuma?" Tanya Yuli tiba-tiba, aku yang berada diambang pintu toilet meresponnya seadanya.


"Hah? Ga ada apa apa" jawabku sambil berjalan kearah lemari pakaianku sambil memilih baju yang akan kukenakan nanti.


"Tapi kalian keliatan dekat lo, apa lagi waktu malam itu dia ngotot banget mau nganterin lu pulang" tutur Yuli terlihat penasaran sambil mengamati gerak gerikku.


"Gak kok seriusan cuma sekitar satu tahun terakhir dia ngedeketin aku terus" jawabku sambil menyisir rambutku, dan kemudian memoleskan bedak tabur diwajahku.


"Haduh PDnya" ucap Yuli geleng-geleng kepala tak percaya dengan pernyataanku barusan.


"Seriusan dibilangin malah ga percaya" ucapku meyakinkannya, mungkin saja ada gosip atau desas desus yang mengatakan bahwa aku menjalin hubungan dengan kak Kusuma.


"Ayo berangkat" ajakku sambil menyemprotkan parfum dan berjalan keambang pintu, Yuli mengekoriku dari belakang. Aku mengunci pintu kamarku dan kami melaju tempat pertemuan rapat, dikarenakan rapat dilaksanakan tidak disekre.


"Saya buka rapat perdana devisi litbang hari ini, sebelumnya perkenalkan dulu saya Lilis selaku sekretaris devisi yang akan membantu kalian selama satu periode kedepan mengenai proker (program kerja) yang akan kita laksanakan kedepannya, bla bla bla" Lilis mengoceh menyampaian maksud dan tujuan rapat yang dilaksanakan sore ini.


Selanjutnya rapat diambil alih oleh kak Nanda yang bergaris miring ketua devisi. Rapat sore ini mambahas mengenai proker yang akan dilaksanakan, pemilihan ketua panitia kegiatan dan beberapa hal mengenai devisi itu sendiri.


Aku ditunjuk menjadi ketua panitia olimpiade akuntansi untuk periode kepengurusan tahun ini. Aku terhenyak sejenak aku benar-benar seperti katak dalam tempurung pengalamanku sangat minim untuk hal yang demikian.


"Tapi Lis aku belum pernah mimpin kegiatan yang kayak gini, gimana dong?" Tanyaku takut-takut dan merasa tak enak karena sudah mengajukan protes.


"Ran semua yang ada disini akan jadi ketua panitia kecuali sekretaris divisi dan ketua divisi, hal itu karena kami yang akan membimbing dan memberikan arahan kepada kalian saat melaksanakan kegiatan nanti. Tenang aja kamu ga kerja sendirian kok yang lain juga akan ambil bagian, diasetiap kegiatan nanti akan ada sekretaris dan bendahara panitia yang akan membantumu" tutur Lilis panjang lebar mencoba meyakinkanku.


Aku mengangguk meng-ohkan mencoba menerima tugas terberat yang harusku laksanakan dalam kurun waktu lima bulan lagi. Aku pasrah dengan keputusan tersebut aku mengikuti saja alurnya karena jika aku mundur dari kepengurusan akan ada konsekuensi yang harus aku terima.


...***...


"Ran, pulang sama siapa?" Tanya kak Nanda sambil menatapku, Lilis, Yuli, Eka, Erna dan kak Putra menatap kearahku dan kak Nanda secara bergantian.


"Sama Yuli kak" jawabku seadanya, dan yang lain berhenti memandangi kami berdua membuatku kembali bernafas lega.


"Tadi kak Kusuma sekarang kak Nanda besok mungkin kak Putra yang kau curigai" ucapku gusar meyakinkan semua orang agar tak salah paham, karena aku belum berstatus untuk apa menhumbar-umbar hal yang belum pasti.


"Kok aku?" Tanya kak Putra bingung dan yang lain mulai beranjak dari duduknya merasa hal tersebut hanya ilusi Yuli saja.


"Hehehe" Yuli menyengir kearah kak Putra dan mengeretku kearah sepeda motornya.


Kak Nanda berjalan kearah sepeda motor yang dibawanya, aku mengamatinya kurasa pernah melihat sepeda motor tersebut. Seperti sepeda motor lelaki yang pernah menggodaku dan Lesi waktu itu kalau tidak salah sudah dua kali.


"Mungkin cuma mirip, mana mungkin kak Nanda suka godain cewek dijalanan, ngomong aja seadanya" gumamku, aku mengamati nomor kendaraannya namun aku tak ingat angka kendaraan laki-laki penggoda tersebut.


"Ngomong sama siapa?" Tanya Yuli menoleh kearahku dan menatapku sinis.


"Eh ga" jawabku sambil menggeleng dan Yuli menstater sepeda motornya kemudian melaju mengantarkanku pulang.


...***...


Kutatap langit-langit kamarku, aku yakin sekali itu motor lelaki yang pernah menggodaku dan Lesi waktu itu. Aku mencoba mengingat nomor kendaraan sepeda motor laki-laki penggoda tersebut namun angka tersebut menolak untuk muncul diotakku.


"Apa iya itu kak Nanda?" Aku bertanya-tanya jika tidak sangat bagus berarti kak Nanda bukan tipe laki-laki yang demikian, tapi jika iya mana mungkin orang itu kak Nanda. Otakku berulang kali menolak kenyataan wajah dibalik helm dua orang laki-laki penggoda.


Tapi seingatku kak Nanda tak mengendarai motor itu sewaktu mengantarkanku kekos Yuli hari itu, atau mungkin ia mengendarai motor itu hanya saja aku tak menyadarinya.


"Aahh entahlah" gumamku gusar mengacak-ngacak rambutku dan bangkit dari kasur dan duduk ditepi ranjang.


...***...


Hari-hari berlalu aku mulai disibukan dengan persiapan kegiatan Lapinsar, mulai dari survei kebeberapa rumah makan yang menerima cathering, serta survei dibeberapa toko snack ringan. Aku berkeliling kota bersama kak Nanda yang bergaris miring penanggung jawab seksi konsumsi dikarenakan teman satu seksiku sedang berhalangan.


Tiba di kos aku langsung mengempaskan tubuhku dikasur empuk kesayanganku, seketika aku kembali teringat mengenai sepeda motor yang laki-laki penggoda itu.


"Tapi tadi dia ga bawa motor yang waktu malam itu" gumamku setelah mengamati sepeda motor kak Nanda yang dikendarainya tadi.


"Ah terserahlah" gumamku dengan kegusaran sambil menggesek-gesekan kakiku kekasur posesif kesayanganku.


Drrtt


- kak Nanda


Ran jangan lupa nanti malam rapat


"Em? Tu kan dia mulai ngechat aku" ucapku kegirangan dan bangkit dari kasur dan meloncat-loncat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Aku tak berhenti tersenyum sambil memandangi chat darinya, wajahku terasa panas dan kuraih bantal diatas kasur untuk metutupi wajahku.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...