Meet You Again

Meet You Again
[S1] 15. Gangguan mantan



...Happy reading...


Alarm berdering membuat telingaku berdenging karena suaranya yang melengking, aku terduduk sejenak, tidurku masih kurang aku butuh waktu tambahan untuk tidur. Akhirnya ku putuskan untuk bangkit dari kasur dan berniat bersih-bersih dan bersiap-siap kekampus.


Drrrttt drrtttt drrrttt


"Siapa lagi nelfon sepagi ini, masih setengah 7 pagi malah" omelku kesal, aku mengapit ponselku diantara telinga dan bahuku, sedangkan tanganku sibuk mengikat tali sepatu.


"Kenapa?" Jawabku kesal, aku bergegas mengunci pintu dan mulai melangkah ke kampus.


"Good morning Rani, lagi apa? Udah makan belum" tanya Doni mewawancarainya dari seberang telefon, aku memutar bola mataku jengah, udah jadi mantan kok aku masih disayang, kalo sayang ya jangan dimantanin dong.


"Berisik, aku mau berangkat ngampus, ku matikan" ucapku tanpa menunggu jawaban apapun dari seberang sana langsung saja kuputuskan sambungan telefon yang mengusik pagiku. Ku mantapkan langkahku dan kembali fokus ke materi kuis yang akan ku hadapi pagi ini.


...***...


"Ran, udah mau pulang?" Tanya Kusuma menghampiriku, aku menoleh kearah kedatangannya yang mendekatiku.


"Ran aku duluan ya" ucap Ratna terburu-buru, entah apa maksudnya meninggalkanku berdua dengan Kusuma didepan hall. Ratna melambaikan tangan kearah kami dan kembali melangkat meninggalkan lingkungan kampus.


"Nanya apa tadi kak?" Tanyaku teringat keberadaan Kusuma yang tengah menatapku lekat. Aku mengerutkan dahi bingung dengan tingkah terhadapku, terkadang aku juga takut karena tatapannya agak berbeda dari orang-orang biasanya.


"Oh itu, kamu udah selesai kelas?" Tanyanya sambil menyunggingkan senyum semeringai, bulu kudukku berdiri melihat senyumnya seperti menginginkan satu hal yang melekat padaku.


"Oh, iya udah selesai kak" jawabku sambil memegangi tengkukku dan berwajah datar, sejujurnya aku takut saat dibiarkan berdua dengannya saat kondisi seperti sekarang.


"Pulang bareng yok, ga ada penolakan" ucapnya yang bahkan belum kusetujui, pemaksaan yang halus, senyumannya berubah menjadi senyum ramah seperti pertama berjumpa dengannya. Aku menarik nafas lega, setidaknya aku bisa tenang hanya dengan melihat ekspresi wajahnya yang melembut, walaupun aku tak tahu isi hatinya bagaimana.


"Ayok" ucapnya menarik lenganku dan menyeretku kearah parkiran, aku menyeimbangi langkahku dengannya agar aku tak tersandung dan membuat kejadian memalukan lainnya.


Aku baru saja tiba dikosan, ku masukan kunci dan memutarnya untuk membuka pintu, tak ada yang aneh, kak Kusuma seperti cowok-cowok kebanyakan. Pengungkapan rasa sukanya kepada seseorang seperti orang pada umumnya, berusaha mendekatinya atau berusaha untuk selalu menemuinya.


Drrrttt drrrttt drrrtttt


"Mau apa lagi ni mantan posesif" gumamku mengomel sendiri menatap layar ponselku, hampir setiap waktu dia menghubungiku bahkan melebihi sewaktu masih pacaran.


"Hmm?" Aku tak ingin beribicara terlalu banyak padanya, aku hanya malas meladeninya yang akan berujung pada permintaannya untuk balikan.


"Lagi dimana Ran, lagi ngapain? Udah mandi belum?" Masih seperti biasa dengan pertanyaan basa-basi yang sering dilontarkannya.


"Kalo nanya tu satu-satu, kayaknya kamu lebih cocok jadi wartawan deh dari pada CEO" omelku sambil merebahkan tubuhku dikasur, kepalaku agak pusing karena terlalu hanyak berfikir hari ini, aku baru saja melalui tiga matakuliah hitung-hitungan dari pagi sampai sore ini.


"Wartawan ya? Boleh juga tu, kalo yang wawancarai wartawan ganteng pasti narasumber ga akan nolak" ucapnya, kuputar bola mataku jengah mendengar kepedeannya yang melewati batas.


"Udah ya aku mau mandi, ku matikan" ucapku tanpa persetujuannya langsung saja aku beranjak dari kasur dan menarik handukku melangkah kekamar mandi.


Aku sedang berbaring memandangi langit-langit kamarku mencari ketenangan untuk segala lelahku hari ini.


"Apa lagi sekarang" gumamku meraih ponselku dan menjawab panggilan dari Doni, mengganggu waktuku saja aku hanya ingin bersantai dengan tenang.


"Ran tadi kamu pulang sama siapa?" Tanyanya tiba-tiba aku bingung dengan pertanyaannya, biasanya dia hanya menanyai kegiatanku atau makanku, kenapa sekarang menanyai hal yang lain.


"Sama kakak tingkat" jawabku santai sekenanya, aku memiringkan tubuhku ke kiri menatap pintu kamarku yang tertutup.


"Cowok kan? Ran jangan sembarangan deket sama orang, kamu ga tau niat orang lain sama kamu tu apa." Bagaimana dia tau aku pulang dengan laki-laki, aku bahkan tak pernah cerita apapun mengenai diriku disini.


"Dasar mantan posesif" ucapku dan memutuskan telefon dengannya, aku bingung padahal sejak awal aku disini tak pernah menceritakan apapun padanya. Dari mana dia bisa tau hal itu, sudahlah mungkin hanya kebetulan saja.


...***...


Aku baru saja selesai membereskan kamarku yang sempat berantakan sewaktu aku UAS kemarin, aku duduk dihadapan meja dan laptopku ku akses sistem akademikku ku harap nilaiku sesuai dengan kerja kerasku selama satu semester ini.


"3,48 ya nyaris tiga setengah" ucapku menghela nafas kecewa, aku hanya membutuhkan 0,02 saja untuk mencapai tiga setengah. Aku beranjak dari hadapan laptopku, ku ambil beberapa peralatan dan bahan masakan yang sudah kubeli kemarin sore.


Kupotong-potong bahan masakanku dan mencucinya hingga bersih, ku panaskan minyak dan menggoreng tempe dan tahu.


"Raaaaannn" teriak Lesi tiba-tiba keluar menggebrakku didapur, aku kaget dan terhenyak sejenak, diapun mematung melihat wajahku dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Ran nilai udah keluar semua" ucapnya histeris dan memelukku tiba-tiba, napasku sesak dekapannya sangat kuat sehingga membuatku sulit untuk bernafas.


"Les aku kecekik jangan kenceng-kenceng" peringatku pada Lesi dan ia segera melepas pelukannya dariku, dia menatapku nanar dan matanya mengembun.


"Ran IPKku cuma 3,16" ucapnya kembali mendekapku, dia merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Aku bingung harus bersikap bagaimana jika aku mengatakan IPKku dia akan semakin putus asa.


"Gapapa kok, kan masih ada semester depan buat memperbaiki nilai" ucapku menenangkannya, semoga saja ucapanku bisa menjadi penyemangatnya.


"IPKmu berapa Ran?" Tanya Lesi tiba-tiba, aku merasa seperti tersengat listrik, aku terdiam sejenak memikirkan kalimat yang pas agar Lesi tidak kembali merengek seperti bayi.


"Kurang lebih sama kok kayak kamu" jawabku tersenyum hampa menatapnya yang masih betah memeluk erat tubuhku.


"Angkanya berapa?" Tanya Lesi lagi, ia tampak tak puas dengan jawabanku yang sebelumnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


"3,48" ucapku cepat agar Lesi tak mendengarnya dengan jelas, ia semakin mempererat dekapannya.


"Tu kaaannnn" rengeknya lagi dan mulai lagi membuat kepalaku berdenyut-denyut sampai ke ubun-ubun.


"Eh Ran kok bau gosong" ucap Lesi tiba-tiba dan aku reflek mengendus-endus mencari bau yang dimaksud oleh Lesi. Lesi melepaskan dekapanku dan dan aku menoleh pada tempe diwajanku sudah menghitam.


"Lessiiii" rengekku manja menirukan gayanya, untung saja Lesi tersadar dengan bau-bauannya kalau tidak mungkin kamipun akan ikut dilahap api. Lesi cengengesan melontarkan senyuman jahilnya, aku membulatkan mataku melotot kearahnya.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...