
...Happy reading...
"Iya, kak Rani kalo nginep dikamarku jangan mau dikamar kak Nanda sudahlah berantakan ga terurus lagi" ucap Dinda tiba-tiba menyeletuk.
"Enak aja, kamarku bersih ya! emangnya kayak kamarmu?" sergah kak Nanda.
"Lagian kalo nginep pun, yakali aku sekamar sama laki" ucapku, Dinda meringis sepertinya sedang membayangkan apa yang terjadi jika aku memang sekamar dengan kak Nanda. Ya walaupun waktu di penginapan ga terjadi apa-apa hanya saja waktu itu karena terpaksa dengan keadaan, sedangkan kali ini beda lagi.
"Ya udah aku nginep malam ini dikamar Dinda ya" ucapku menyetujui.
"Kalo mau dikamarku juga ga papa kok Ran iklas kok aku lahir batin" goda kak Nanda tersenyum jahil menatapku.
"Kakak emang iklas tapi kak Rani yang ga iklas" Dinda menyela.
"Dari tadi motong omongan orang tua aja" ucap kak Nanda menatap Dinda sinis.
"Setua itukah kakak, sampai bilang diri sendiri orang tua?" Tanya Dinda mengejek dengan Umur kak Nanda yang sudah menginjak 21 tahun.
"Iya kakak udah kepala dua, puas?" Ucap kak Nanda mulai kesal, aku hanya tertawa melihat tingkah dua bersaudara tersebut. Mungkin akan lebih indah jika aku juga punya saudara namun dikarenakan kandungan ibuku yang lemah membuatnya untuk mendapatkanku saja harus bersusah payah apalagi jika ingin menambah adik untukku.
"Udah pada mau tidur ni?" Tanya kak Nanda.
"Nanti lah kak jarang-jarang Dinda ada temen" bujuk Dinda.
"Enaknya ngapain ya berhubung besok hari minggu jadi bisalah kita begadang malam ini" godaku.
"Nonton film hantu yok?" Ajak Dinda.
"Boleh boleh" sahutku, Dinda menatap kearah kak Nanda seolah meminta persetujuan kepada kakaknya.
"Iya" jawab kak Nanda singkat.
"Yeeeeyy" teriak Dinda kegirangan.
"Tapi jangan teriak-teriak udah malam ga enak sama tetangga kalo kita ribut" ingat kak Nanda karena suara Dinda memang cenderung agak melengking.
"Yang penting bukan suara yang aneh-aneh" jawab Dinda.
"Aneh? Yang gimana maksudnya?" Tanyaku bingung.
"Kayak yang ditonton kak Nanda hari itu 'aaahhh... aahh' hahaah" goda Dinda di iringi dengan tawaku yang membuat pipi kak Nanda memerah.
"Dinda!" Segah kak Nanda dengan matanya yang melotot seolah Ia tak ingin rahasianya diketahui orang lain selain adiknya.
"Ya udah kita mau nonton film apa ni?" Tanya kak Nanda mengalihkan topik pembicaraan.
"The conjuring atau anabell?" Tanyaku menyarankan.
"Anabell aja kak" pilih Dinda.
kak Nanda mengambil laptopnya dari kamar dan menyetel persiapan untuk nonton, Dinda menyiapkan air minum dan cemilan agar saat nonton mereka ga ketakutan kedapur hanya karena kehausan.
Selama film berlangsung kami bertiga menikmatinya walaupun sesekali cemilan berhamburan karena Dinda maupun aku kaget karena hantunya muncul tiba-tiba. Pukul 00.40 kami selesai menonton, kami menguap karena rasa kantuk mulai tiba.
"Din tidur diluar aja ya kakak takut sendirian" ucap kak Nanda tampak tak yakin.
"Eehh, kakak takut?" tanyaku meremehkan.
"Ga lah, mana mungkin aku takut cuma nonton film gitu doang" jawab kak Nanda tak mau diremehkan.
"Ya ya tidur diluar" Dinda yang paham dengan gengsi kakaknya mengiyakan karena tak mau mencari masalah kalo dia harus dibangunkan tengah malam karena ia ga bisa tidur.
***
- Kak Nanda
Ran, selesai ujian nanti kita belanja kebutuhan buat mendaki yok?
^^^- Rani^^^
^^^Ayok, kabarin aja nanti kalo udah selesai ujian.^^^
Berhubung hari itu adalah ujian terakhir dan dalam beberapa hari lagi mereka akan mendaki gunung bersama Devisi Litbang yang lainnya aku mengiyakan ajakan kak Nanda tersebut.
***
"Ran kakak di hall, kamu dimana?" Tanya Nanda disebrang sana.
"Aku lagi koridor ni otw otw" jawabku dan mempercepat langkahku karena tak ingin Kadivku menunggu terlalu lama.
"Kak" sapaku dan menepuk punggung kak Nanda pelan.
"Ayok jalan" ajak kak Nanda, dan kami berlalu meninggalkan hall.
***
"Udah lengkap semua?" Tanya kak Nanda.
"Udah" "udah" "udah" jawab yang lainnya kompak.
"Ayok kita jalan" kak Nanda masuk kemobil melesatkan mobilnya kearah tujuan, mulanya semuanya tertawa bercanda ria hingga kantuk menyerang dan membuat beberapa staff tertidur.
Kami tiba dilokasi pukul 15.10 dan disambut gembira oleh satu devisi.
"Ayok jalan" ajak Yuli yang tampak tak sabar untuk mulai mendaki.
"Santai santai jangan buru-buru nanti cepet capek" ingat kak Nanda.
Kami berjalan mendaki terus mendaki hingga tiba dipuncak hari sudah gelap. Kami menegakkan tenda sebanyak 3 unit yang berukuran kecil, setelahnya kami mengutip kayu untuk membuat api unggun agar tak kedinginan karena kebetulan siang tadi hujan turun.
"Boleh" sanggah Eka.
"Siapa dulu ya?" Goda Lilis memulainya dengan memutar botol sprite diatas rerumputan yang tampak rapi.
"Ekaaa" "Eka" ucap yang lainnya setelah ujung botol sprite itu menunjuk ke arah Eka.
"Thurt" jawab eka singkat.
"Aku aku" ucap Yuli mengajukan diri untuk bertanya.
"Pernah ciuman ga? Kalo pernah dimana? Sama siapa? Habis itu ngapain aja?" Ucap Yuli dengan rentetan pertanyaannya.
"Yul kok ngegas?" tanya Erni tampak bingung.
"Ayok Eka dijawab" minta kak Putra tampak tak sabaran.
"Pernah, dikamar, sama guling, habis itu tidur" jawab Eka tanpa Rasa bersalah membuat yang lainnya melongo.
"Sudah sudah, dia ga jelas pinggirin-pinggirin" ucap kak Putra medorong Eka pelan menjauh dari anggota devisi yang lainnya.
"Kaaakk!" Teriak Eka.
"Lanjut?" Tanya Riris meyakinkan.
"Lanjoot" ucap Putra mengiyakan.
Botol sprite kembali dibalingkan oleh Lilis dan ujungnya berhenti menunjuk ke arah kak Nanda.
"Kadiv" "kadiv" ucap yang lainnya.
"Daree" ucap Nanda singkat.
"Aku aku" Lilis mengacungkan tangannya menandakan ia ingin memberikan tantangan.
"Apa ris?" tanya Erni.
"Duduk di samping Rani tanpa jarak sampai permainan selesai" ucap Lilis menantang.
"Gimana berani ga?" Tanya Lilis lagi. kulihat kak Nanda tampak Ragu untuk berajak dari duduknya karena merasa tertantang akhirnya memberanikan diri untuk menerima tantangan dari Lilis.
"Oke, siapa takut!" Jawabkak Nanda angkuh, beranjak dari duduknya dan menempatkan diri tepat disebelahku.
Kak Nanda duduk tepat disampingku, bahkan 1 cm pun tam ada celah diantara kami, aku yang merasa tidaknya menggeser dudukku sedikit demi sedikit.
"Eh itu masih berjarak! Lebih dekat lagi." Sergah Lilis menyadari tindakanku.
"Eemm" gumam kak Nanda merapatkan duduknya kearahku.
"Nah itu baru sip" sanggah Yuli.
"Lanjut ya!" Ucap Lilis memberitahukan.
Kembali botol sprite itu dibalingkan dan berhenti menunjuk kearahku.
"Ku mohon jangan yang aneh-aneh" batinku.
"Rani" "Rani" ucap yang lainnya.
"Thurt aja" jawabku.
"Aku aku" ucap Eka mengacungkan tangan.
"Rani sekarang lagi suka sama siapa?" Tanya Eka polos tanpa memperdulikan kondisi.
"Ganti pertanyaannya" ucap Lilis melirik kearah kak Nanda.
"Lah, kan aku ga tau penasaran ih Lilis jangan gitu lah" Eka tampak menantikan jawaban dariku, aku hanya diam menatap anggota devisiku satu persatu.
"Gak, pokoknya ganti" ucap Lilis tetap pada pendiriannya.
"Iya iya aku jawab tapi ada syaratnya" ucapku menginginkan satu hal.
"Apa syaratnya" tanya kak Nanda.
"Kak Nanda sama kak Putra tutup telinga sama merem" ucapku menaikan alisku menunggu jawaban dari keduanya.
"Lah kok gitu" ucapkak Putra tampak protes.
"Kalo ga mau dijawab ya udah" ucapku lagi.
"Isshh kak Putra nurut aja lah" Ucap Eka tampak penasaran. Dengan muka dongkol kak Putra meletakan kedua tangannya disamping telinganya agar tak mendengar apa yang akan aku katakan dan kak Nanda memilih mengikuti alurnya saja.
"Siapa Ran?" Tanya Eka lagi setelah keduanya melakukan persyaratan yang kuajukan.
"Kak Nanda" ucap Rani singkat.
"Oohh kak Nanda, pantesan kamu sering bareng sama kak Nanda ternyata kamu suka sama kak Nanda" ulang Eka.
"Hei hei hei mulutnya jangan lemes tolong dong" ucap Lilis memperingati tampak geram dengan mulut Eka yang seenak jidat koar sana koar sini.
Aku melihat kak Nanda tersenyum dalam pejaman mata dan penutup telinganya.
"Apa dia kedengaran tadi?" batinku dengan pipiku yang bersemu merah merona.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...