Meet You Again

Meet You Again
Biarkan aku sendiri



"Sampai kapan mau mandangin jalanan??" tegur seraya Jovana berkacak pinggang, kayak emak-emak nungguin anak-anaknya lagi berantem.


Berkat tegurannya Lian pun berakhir di depan Cafe. Kini dia dan Kaila duduk berhadapan namun Lian enggan menatap Kaila, yang tertunduk sedih menyesali perbuatanya.


Udah hampir setengah jam mereka begitu betah dalam diam. Semenjak kedatangan Lian tangisan Kaila berhenti begitu juga dengan kata-katanya. Gadis ini bungkam, dia marah, tapi kesalahan jelas terletak pada dirinya. Entah sampai kapan dia harus bertahan dalam diam. Begitu pula dengan Lian, kesalahan Kaila kali ini sangat mengecewakannya.


"Tok-tok" Mey mengetuk meja.


Kaila mengangkat kepala memandang Mey.


"Tuh, matanya sembab begitu. Nggak berniat mau ngomong duluan??" Mey menyikut lengan Lian. Berharap hati Lian tersentuh melihat mata sembab sang kekasih.


Sayangnya Lian cuek. Ego nya begitu keras kali ini. Kedua tangannya terlipat di dada, membuatnya nampak angkuh di mata Kaila.


Jova benar-benar gemas dengan tingkah mereka"Ayolah!! selesaikan masalah kalian!."


Mereka masih saling diam.


"Kalau nggak Kaila, Lian nih yang aku pukul. Kalian pada mau ngobrol nggak??" ancamnya. Tangannya terangkat naik di hadapan Kaila.


Kedua mata Kaila mengedip ngeri, namun Lian masih tak bergeming. Di depan matanya Jova hendak menghantam sang kekasih, dan dia diam saja.


Hati Kaila sangat terluka. Lian terlihat sangat acuh kepadanya. Meskipun nggak mungkin Jova benar-benar memukulnya, se-enggaknya dia bisa bergerak menahan tangan Jova. Sekedar berbasa-basi saja.


Mey menggigit bibir"Kakal runyam nih, serius marah si Lian??" batin Mey.


Jova manyun melenguh putus asa, percuma dia emosi menghadapi Lian. Usahanya sia-sia, dia masuk ke dalam Cafe dan menenggak air es untuk mendinginkan amarahnya.


"Terserah kalian deh!" Mey bangkit dari duduknya.


"La!! kalau kamu di putusin Lian, aku bakal cariin cowok secepatnya buat kamu. Diam-diaman nggak jelas. Kalau marah ya marah aja, sekali ngambek mendadak bisu. cupu kamu Lian!!" dia melenggang meninggalkan Lian yang masih kekeh pada pendiriannya.


Kaila juga bangkit dari duduknya. Dia mengemasi laptopnya dan juga barang-barang lain miliknya yang berserakan di meja.


" Jadi gini rasanya di kacangin??, aku nggak langsung ngasih tau kamu biar Papah kamu melakukan tugasnya sendiri. Nggak kebayang kan malunya Mamah kamu kalau hal ini harus aku yang ngasih tau??" Kaila coba menjelaskan.


Akhirnya pandangan Lian bertemu dengan kedua mata Kaila. Ya, mata itu telah bengkak karena terus menangis.


"La----."


"Kamu nggak tau kalau aku mati-matian menolak rasa takut karena perselingkuhan Papah kamu. Kamu tau kan dengan pribahasa buah jatuh nggak jauh dari pohonnya."


"Kamu menganggap aku se-licik Papah La??" sentak Lian. Ini kali pertama dia menaikan nada berbicara kepada Kaila.


"Enggak!! makanya aku melawan pemikiran itu" sanggahnya.


"Terus kenapa nggak langsung bilang ke aku??" sambar Lian. Matanya terlihat menyimpan dendam kepada Kaila. Tanpa dia sadari hanya dengan tatapannya saja Kaila hampir menyerah dengan hubungan mereka.


"Kamu yakin?? kamu nggak malu??" tanya Kaila dengan suara bergetar.


Lian diam. Perkataan Kaila ada benarnya. Dia mungkin nggak akan langsung percaya dengan ucapan Kaila, tapi emosinya lebih dulu menguasai hatinya.


"Aku----sudah selesai mengeluarkan segala beban di hatiku, aku pulang ya."


"Aku antar ya."


"Nggak usah, beberapa hari ini aku mulai terbiasa sendiri. Aku juga semakin pandai menjaga diri. Berhenti sok peduli kepadaku, aku baik-baik aja kok". Langkahnya terlihat ragu, namun beberapa detik kemudian dia mempercepat langkahnya menjauh dari Lian. Tak ada panggilan, apalagi kejaran. Diamnya Lian memandangi kepergian Kaila membekukan hatinya.


"Selamat tinggal Lian" gumamnya lirih.


To be continued...


~♡♡Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya teman ^,^.


Salam anak Borneo.


Pangkalanbun, 6 April 2023.


Tepian sungai arut. Kalimantan tengah.