
...Happy reading...
"Ran" panggil kak Nanda.
"Eh iya" jawabku terkejut tiba-tiba kak Nanda muncul entah dari mana.
"Ngapain?" Tanya kak Nanda lagi, aku langsung meletakkan hpnya kembali keatas meja.
"Eh anu, itu, aku tadi.." Aku menggantung ucapanku dan melirik kearah kak Nanda yang menaikan alisnya menatap bingung ke arahku.
"Aku tadi liat chat di hp kakak" ucapku pelan sambil menundukan kepalaku.
"Chat siapa?" Tanya kak Nanda santai dan mengambil posisi duduk dihadapanku.
"Tadi Tiwi nelpon kakak, mau ku angkat udah keburu mati" aku mengalihkan topik.
"Tiwi ya? Eemmm hah Tiwi" ekspresi wajah kak Nanda mendadak berubah sepertinya Ia melewati sebuah janji penting dengan Tiwi.
"Emang kakak mau kemana sama Tiwi?" Tanyaku penasaran.
"Itu, dia minta ditemenin beli sepatu, tapi yah sudah lah lupain aja" jawab kak Nanda kembali menatap dan menikmati suasana disekitar kami.
"Kasian kak udah siap-siap dia" ucapku memelas.
"Ya kali aku harus bela-belain balik cuma karena nemenin dia. Biar naik gojeklah" sanggah kak Nanda.
"Pesanannya mas mbak" ucap wanita paruh baya sambil meletakan nampan berisi satu porsi nasi goreng dan satu mangkuk mie rebus pesanan kami.
"Oh iya makasih" jawabku ramah.
"Doyan mie ya?" Tanya kak Nanda tiba-tiba.
"Iya, soalnya aku dirumah ga bisa makan mie" jawabku sambil mengaduk bumbu pada mienya.
"Kenapa?" Tanya kak Nanda yang juga sibuk menyuapi nasi goreng ke mulutnya.
"Ibu ga bolehin, katanya ga sehat" jawabku polos.
"Bener emang ga sehat" sanggah kak Nanda.
"Eh nyicip dong mienya kayaknya enak tu" ucap kak Nanda tiba-tiba membuatku tercengang.
"Nih" aku menyodorkan mangkuk mieku.
"Suapin lah" goda kak Nanda.
"Eeehh" aku melototkan mataku kearah kak Nanda, aku tak terima dengan permintaan konyolnya.
"Ga ga, suap sendiri lah" sanggahku dengan wajah cuek.
"Ayolah Ran" bujuk kak Nanda memelas.
"Rani" goda kak Nanda mencubit lembut pipiku. Aku meraih sendok pada mangkok dan mulai menuruti kemauan kak Nanda.
"Aaa" ucapku, meminta kak Nanda membuka mulutnya.
"Kaoo gini daii tadi kan eaak (kalo gini dari tadi kan enak)" omel kak Nanda tak jelas.
"Ditelen dulu baru ngomong" sergahku menatapnya sinis.
Kami melanjutkan makan kami menatap kearah bibir pantai tampak ombak tidak terlalu tinggi dan banyak orang sedang bermain pasir serta ada juga beberapa orang yang berenang.
Selesai makan kak Nanda beranjak membayar makanannya dan aku juga demikian, karena setiap makan aku tak pernah mau dibayarin oleh siapapun baik itu kak Nanda ataupun orang lain. Menurutku uang jajan saja masih mintak ke orang tua jadi jangan belaga'an mau neraktir.
"Mau pulang jam berapa kak?" Tanyaku tiba-tiba.
"Baru juga habis makan masak langsung pulang" sanggah kak Nanda.
"Kasian Tiwi" ucapku memelas.
"Haduh Ran jangan dihiraukan lah" jawab kak Nanda santai.
"Kak" panggilku lembut.
Kak Nanda meraih bahuku menatapku lekat pemilik bola mata berwarna coklat tua dihadapanku.
"Kalo kita lagi berdua, jangan bahas siapa pun diantara kita, aku mohon" ucap kak Nanda memohon agar aku tak memperdulikan orang lain sejenak.
"Maaf" jawabku pelan.
"Udah ga usah ditekuk gitu mukanya" ucap kak Nanda sambil melepaskan tangannya dari bahuku.
"Kak, lusa udah mulai ya rapat bedah soal. Terus minggu depan juga rapat perdana kunjungan industri" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Iya, kamu ikut kepanitiaan?" tanya kak Nanda.
"Iya di bedah soal aku konsumsi, di kunjungan industri aku humas, kakak jadi penanggung jawab ga?" Tanyaku.
"Iya aku penanggung jawab seksi humas sama konsumsi di kunjungan industri" jawab kak Nanda.
Kami bermain pasir, dan sesekali berenang dipinggiran pantai hingga tak terasa terlihat matahari mulai turun dan menandakan hari sudah mulai sore. Bayangan sudah benar-benar panjang dari pada benda menandakan bahwa sudah lewat pukul 17.00 sore.
Kak Nanda meraih lenganku menarikku balik salah satu batu karang besar, aku melepaskan diri darinya dan berlarian dipinggir bibir pantai sedangkan ia mengejarku dari belakang. Ia melajukan langkahnya dan menggapai lenganku kemudian merangkul bahuku.
Jarak wajah kami hanya beberapa cm saja, aku duduk bersandari dipinggir batu karang dan sesekali melihat pengunjung sepi dibalik batu karang ditempat bersandar. Ia menarik lenganku dan membalikkan posisiku menjadi ia yang bersandar dibatu karang sedangkan aku berada dipangkuannya.
Kurasakan perlahan jarak antara kami menghilang bahkan suara detak jantungnya terdengar jelas ditelingaku, kak Nanda meraih tengkukku dan mencium bibirku tanpa permisi. Awalnya mataku membulat karena kaget dengan perlakuannya namun ia memaksaku untuk tetap berada dipangkuannya.
Aku mencoba melakukan perlawanan sebisaku namun entah setan apa yang merasukiku akhirnya aku luluh dengan ciumannya mencoba membalasnya walaupun aku tau ciumanku sangat amatiran.
"Maaf Ran, aku khilaf" ucapnya pelan.
"Ciuman pertamaku" ucapku memegang bibirku.
"Ran aku janji jika aku yang menciummu pertama kali maka aku juga yang akan melakukan ciuman terakhir denganmu" ucap kak Nanda menyatukan ujung hidungku dengan hidungnya.
"Ran kamu percaya kan?" tanya kak Nanda lembut, aku mengangguk pelan sambil memejamkan mataku dan kembali hanyut dalam ciumannya.
"Ayok pulang, nanti kemalaman dijalan" ajakku melepaskan ciuman dan mengelap bibirku, aku bangkit dari pangkuannya dan beranjak ke parkiran motor dan berlalu dari pantai dengan pakaian basah kuyup.
***
"Gimana LPJnya?" tanya Lilis.
"Udah direktorat kok katanya lusa baru bisa diambil soalnya belum ditanda tangan sama rektor, rektor lagi ke Jakarta" jawab Yuli.
"Yang olim juga?" Tanya Lilis lagi.
"Iya" jawabku.
"Ya udah aku mau balik dulu udah sore juga, nanti malam jangan lupa datang rapat bedah soal, ini proker terakhir litbang" Lilis mengingatkan kemudian menyandangkan tasnya dan berlalu dari gazebo.
"Pulang ga Ran?" Tanya Yuli dan aku mengangguk pelan.
"Ayok" ajak Yuli dan kami juga berlalu dari gazebo.
***
- Yuli
Ran, aku didepan.
Aku bergegas keluar dari kamar dan bergegas berjalan kearah gerbang karena aku malas mendengar ocehan Yuli karena aku tadi lama bersiap-siap.
"Ayok" ucapku menaiki sepeda motor Yuli, dan berlalu ke dari kosku.
Diperjalanan dari parkiran kesekre aku sesekali bercanda dengan Yuli namun ada hal yang mengganggu pikiranku, dihadapanku terdapat sepasang orang sedang berjalan yang berjarak sekitar sepuluh meter dari kami.
"Kok kayak kenal ya" gumamku.
"Eh iya, siapa ya?" Yuli malah balik bertanya.
"Kak Nanda bukan ya?" Ucap Yuli lagi.
"Kak Nanda!" Teriak Yuli.
"Yul" sergah ku, dan yang benar saja orang tersebut menoleh mencari asal suara yang memanggil namanya. Ketika menemukan sosokku dan Yuli, kak Nanda memberhentikan langkahnya menunggu kami agar berjalan beriringan.
"Tiwi kak" ucap Tiwi sambil mengulur tangannya ke arah Yuli, namun tak digubris oleh Yuli, tampaknya Yuli peka tentang perasaanku, dia bahkan membenci Tiwi tanpa pernah tau cerita Tiwi dariku.
"Kak LPJ udah direktoran lusa baru bisa di ambil nunggu rektor balik dari Jakarta" ucap Yuli menjelaskan.
"Yang sabar, dia emang gitu" ucapku merangkul bahu Tiwi.
"Hehe iya kak" Tiwi tersenyum kecut menatap malas ke arahku dan Yuli.
Tak terasa langkah demi langkah membawa kami tiba di sekre, beberapa panitia menyapa dan begitu juga dengan Lilis dan kawan-kawan.
"Nah kebetulan panitianya udah lengkap dan kadivnya udah ada kita mulai aja ya" ucap Eka selaku ketua Panitia.
Para panitia mulai mengambil posisi duduk melingkari ruangan dan rapat dimulai.
"Ran, dia ngapain disini?" Tanya Yuli sambil melirik ke arah Tiwi.
"Mungkin panitia" jawabku santai, dan Yuli manggut-manggut paham.
Semua panitia diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan dari seksi apa agar bisa saling mengenal satu sama lain.
"Perkenalkan saya Pratiwi Mutia Dewi, saya sebagai seksi konsumsi" ucap Tiwi memperkenalkan diri.
"Oke Tiwi nanti partnernya kak Rani ya sesama seksi konsumsi" ucap Eka.
"Iya kak" jawab Tiwi tersenyum semanis mungkin.
"Wah manisnya" ucap Eka lagi.
"Wueeekk" ucap Yuli malas.
"Kenapa Yul?" ucapku menoleh kearah Yuli.
"Tu anak ngapa sih kok caper banget" sunggut Yuli mulai kesal.
"Udah biarin aja" ucapku menenangkan.
Rapat pun berlanjut dengan penyampaian teknis kegiatan hingga membahas mengenai jobdesk perseksi. Stuktur kegiatan dari awal hingga selesaikan dijabarkan semuanya oleh Eka agar Panitia bisa memahami acara yang akan dilaksankan.
Waktu terus berjalan malam semakin larut, Eka menutup rapat pada malam ini menandakan rapat telah selesai, aku merogoh tas selempangku meraih hpnya sudah menunjukan pukul 09.10.
"Ran kamu pulang sama siapa?" Tanya kak Nanda, belum sempat Aku menjawab Tiwi sudah lebih dulu bergelayutan pada kak Nanda.
"Kak ayok balik" jawab Tiwi tiba-tiba menggandeng tangan kak Nanda.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...