Meet You Again

Meet You Again
[S1] 19. Mahasiswa kura-kura



...Happy reading...


"aku semester 5" ucapnya memperkenalkan diri padaku, aku mematung sejenak setelah mengetahui ternyata Nanda yang sedang berbicara denganku dan ada kenyataan lain yang baru saja ku ketahui bahwa dia merupakan kakak tingkatku.


"Aku Rani kak semester 3, aku pikir kakak satu angkatan denganku" timpalku tersenyum kecut, aku sudah bersikap padanya seperti teman sebaya padahal dia lebih tua dariku. Aku taku ia akan ilfeel padaku karena sudah bersikap kurang ajar padanya.


"Santai, ayok ke sekre bentar lagi rapatnya mau dimulai" ajaknya dan bangkit dari dudukya, aku menurutinya dan mulai berjalan berbarengan dengannya terasa canggung karena dia hanya diam saja sepanjang jalan menunju sekre.


Aku berdiri didepan pintu sekre agak lama mengamati orang-orang didalam ruangan tersebut, tak ada seorangpun yang kukenal dengan akrab seperti Uci atau Ratna. Hanya ada beberapa anak kelasku namun aku tak akrab dengan orang-orang tersebut membuatki merasa semakin berat saja jika harus terus bertahan di organisasi ini.


"Ran kok ga masuk?" Ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dari belakangk, yang tak kuketahui entah sejak kapan mengamati tingkahku.


"Udah ayok masuk ga usah malu, nanti kalo udah kenal juga malu-maluin" ucap Nanda mulai akrab padaku, ia menarik tanganku agar aku ikut masuk ke sekre bersamanya. Kusuma yang berada dibelakangku langsung menunjukan muka tak senang, kak Kusuma selalu bersikap demikian jika ada orang lain yang mencoba mendekatiku.


Satu persatu semua anggota pengurus mengenalkan diri tapi aku rasanya tak bisa mengingat semua nama dan wajah itu dalam satu waktu sekaligus. Kepalaku terasa pusing, entah apa yang dibicarakan oleh mereka, aku benar-benar buta jika ditanya mengenai pengalaman berorganisasi.


Ku amati ditengah kepusinganku rapat ini membahas bagaimana revolusi Lapinsar tahun lalu dengan tahun ini, semua pengurus diminta menjadi panitia tanpa terkecuali dan semuanya harus mengajukan pendapat atau ide-ide baru demi kelangsungan acara tersebut.


Aku yang duduk disamping Nanda, ia mengajakku mengobrol disela-sela rapat tersebut. Hanya sekedar menyakan asal tempat tinggal, ngekos dimana, dan beberapa pertanyaan perkenalan ringan lainnya.


"Kak aku mau tanya boleh?" Tanyaku ragu, sebetulnya ada seribu pertanyaan yang ingin ku pertanyakan padanya namun aku mengurungkannya, aku memilih untuk menanyakan hal yang berhubungan dengan kepentingan organisasi saja.


"Tanya aja kali ga usah sungkan" jawabnya setengah berbisik sambil tersenyum kearahku, aku menundukkan kepalaku aku tak sanggup menatap matanya.


"Kakak di BEM sebagai apasih kok berani-beraninya mintain aku jadi pengurus?" Tanyaku tanpa berfikir panjang, raut wajahnya mulai berubah seketika.


"Aku ni ketua devisimu Ran" jawabnya dengan penekanan yang jelas membuatku kaget atas jawabannya.


"Hah? maaf kak sumpah aku ga tau kalo ketua devisi litbang yang baru itu kakak" tuturku merasa tak enak karena menanyakan hal yang tak seharusnya ku pertanyakan.


"Haha, ga papa santai aja" ucapnya tersenyum sumringah tanpa merasa tersinggung dengan pertanyaanku sebelumnya. Ternyata ia merupakan sosok yang periang, siapapun yang sedang bersamanya kemungkinan besar akan dibuatnya tertawa.


"Tapikan kak, kakak masa pengkaderan bareng aku kok bisa jadi ketua devisi?" Tanyaku lagi merasa penasaran dan sekaligus mencari wawasan tambahan sebelum aku masuk lebih jauh kedalam dunia pengorganisasian.


"Jadi gini, ketua devisi itu punya syarat tertentu yaitu IPK diatas 3,00 sama pernah menjadi anggota pengurus. Nah akukan pernah jadi anggota pengurus UKM lain sewaktu menjadi kader di BEM jadi aku udah punya pengalaman berbarengan dengan masa pengkaderanku" ucapnya menjelaskan panjang kali lebar. Aku manggut-manggut mendengar penjelasan tersebut.


...***...


"Rapat malam hari ini saya akhiri, terimakasi untuk semua teman-teman yang sudah hadir pada malam hari ini" tutur Riza dipenghujung rapat malam hari ini.


"Rani pulangnya sama siapa?" Tanya kak Nanda sambil membereskan buku catatannya.


"Sendirian kak, kenapa?" Sahutku sambil bangkit dari tempat dudukku, aku memutar pinggangku sejenak merasa linu karena sudah duduk hampir tiga jam.


"Jalan kaki?" Tanya lagi memastikan dan ikut bangkit juga dari duduknya.


"Iya kak" jawabku sambil melangkah menuju ambang pintu.


"Ya udah bareng aja nanti kakak anterin" ajaknya, pandanganku lekat kearah seseorang yang tengah berdiri ditepi pintu.


"Eh eh.." teriakku kaget dengan tindakan kak Kusuma yang sangat tiba-tiba, beberapa pengurus lainnya menoleh kearahku, aku menepis tangannya dari pergelangan tanganku.


"Nda aku duluan ya" ucap kak Kusuma cuek kearah kak Nanda, kak Kusuma kembali menarik lenganku dan aku paham maksudnya.


"Kak Nan aku duluan ya" ucapku sembari melambaikan tangan kearahnya, kemudian mengekori kak Kusuma dari belakang.


"Apaan sih kak?" Tanyaku sembari menepis kembali genggamannya pada lenganku, terasa hangat dan nyeri disana ku lihat lenganku memerah karena ulahnya.


"Ngajakin kamu balik lah" jawabnya enteng dan kembali menarik lenganku tanpa ampun.


"Ya jangan ditarik-tarik juga lah, tuh kan udah merah" ucapku padanya, Ia meraih lenganku terlihat memar akibat cengkraman tangannya.


"Sorry sorry aku ga maksud gitu Ran" Uncum mengamati lenganku dan terlihat sedikit samar kemerahan pada lenganku.


Tanpa sengaha aku mengamati kak Kusuma dengan seksama, ia tampak menyayangkan kejadian barusan. Wajahnya meringis melihat lenganku, padahal yang memerah adalah lenganku lalu mengapa dia meringis?


"Kenapa liatin aku sampai kayak gitu?" Aku terkejut dengan ucapannya yan menyentakku seakan dia adalah cenayang yang tau tanpa melihat kearah lensa mataku.


"Oh gak kok kak" aku menarik tanganku dari genggamannya, situasi yang demikian benar-benar membuatku merasa tak nyaman.


...***...


"Biaya produksi meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik bla bla bla"


Aku memangku daguku menatap lurus kearah dosen yang sedari dari menjelaskan materi yang membuat kepalaku akan terbakar karena pusing untuk memahami materi yang sedang disampaikannya.


"Cukup sekian perkuliahan pada hari ini, sampai jumpa minggu depan" ucapan dosen tersebut menandakan bahwa kelas telah berakhir, hal tersebut membuat mahasiswa seketika berhamburan meninggalkan ruang kelas.


"Ran main ke Kos ku ga?" Tanya Ratna menghampiriku bersama dengan buku-buku tebal yang digenggamnya.


"Ga deh Rat lain kali aja mau langsung pulang istirahat" jawabku, aku memang benar-benar lelah dan ingin segera merebahkan tubuhku dikasur.


"Ok, sampai jumpa besok" ucap Ratna melambaikan tangan kearahku dan melangkah meninggalkan kelas.


Akuntansi biaya memang matakuliah yang paling banyak dibenci oleh mahasiswa akuntansi pada umumnya, pasalnya materinya yang ribet serta hitung-hitungan dan berbagai kolom pengerjaan yang berbeda membuat kepala terasa akan meledak.


Jadi wajar saja jika aku merasa sangat lelah dan ingin segera langsung pulang beristirahat saja, ditambah lagi rutinitas ku kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) membuatku membutuhkan waktu istirahat yang lebih. Ku tatap kelas sudah mulai sepi dan mahasiswa sudah hampir semuanya meninggalkan kelas, aku pun mulai melangkah meninggalkan kelas.


Aku menepi sejenak kuraih dompetku dan kulihat hanya ada selembaran uang berwarna hijau. Aku berjalan kearah ATM melakukan tarik tunai demi menyambung hidup berhubung besok sudah hari jumat, dan aku tidak ada kelas, jadi tak alasan aku harus kekampus hanya karena kehabisan uang tunai.


"Rani"


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...