
...Happy reading...
"Rani" sapa seorang laki-laki lembut, dan turun dari sepeda motornya.
"Oh kak Nanda" ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman bertanda simbol kekeluargaan pada BEM, sehingga setiap menemui pengurus BEM yang lain secara tidak langsung mereka akan bersalaman.
"Udah selesai ngampus?" Tanyanya sambil merogoh dompetnya yang berada disaku celananya.
"Iya" jawabku singkat sambil memasukan dompetku kedalam ransel yang tengah ku bawa.
"Mau pulang? Ayok bareng biar dianterin" tawarnya sambil tersenyum kearahku dan berdiri diantara antrian orang-orang yang bertengger didepan ATM.
"Ga usah kak, aku juga mau mampir ke kos Yuli" tolakku dan beralasan agar ia tak perlu repot-repot mengantarku pulang, mungkin kalau perempuan pada umumnya akan sangat senang bila diantar oleh doinya namun aku berbeda aku malah tak ingin merepotkannya.
"Ga papa sekalian lewat aja nanti, bentar ya aku narik dulu, ga ada penolakan tunggu disini" paksanya, dan menatapku dengan tatapan tajam yang mematikan.
Aku menurutinya dan menepi dari antrian orang yang bertengger didepan pintu ATM, kulirik kak Nanda keluar dari pintu tersebut menyisir rambutnya kebelakang membuatku terpesona akan auranya tersebut. Berkulit putih, berhidung mancung, beralis tebal, dengan rambut bervolume.
"Ayok Ran" suara tersebut mengagetkanku hingga beberapa buku yang ku genggam terjatuh. Aku berjongkok meraih buku-buku tersebut namun kak Nanda hanya berkacak pinggang memperhatikanku.
Padahal aku berharap kak Nanda membantuku mengutip buku-buku, agar akan senyerupai cerita novel anak muda, namun itu adalah novel sedangkan ini adalah kenyataan hidupku yang pahit dan getir untuk dirasakan.
"Ga peka" aku bergumam sambil terus mengutip buku-buku tebal yang berserakan diujung kakiku.
"Em?" Tanya kak Nanda, aku mendongak keatas dan kulihat ia mengangkat alisnya meminta jawaban dariku namun aku terlanjur kesal melihatnya.
"Oh ga kok" ucapku bangkit dari jongkok, ia menarik semua buku-bukuku dan dimasukannya kedalam Ranselnya, aku tersenyum simpul melihat tingkahnya dia memang tak membantuku mengutipnya namun ia membatuku membawakannya.
"Ya udah ayok naik" perintahnya dan aku menaiki sepeda motor yang dikendarainya, duduk dibelakang laki-laki yang berstatus kepala devisiku sekaligus seseorang yang ku idamankan.
Aku mematung duduk dengan perasaan canggung berharap cepat sampai ke kos Yuli agar semuanya cepat berlalu, baik aku maupun kak Nanda tak ada yang mau angkat bicara duluan sampai akhirnya kami tiba didepan kosan Yuli.
"Makasih kak" ucapku sembari turun dari sepeda motornya, dan berdiri sejenak menunggunya untuk berlalu dari hadapanku.
"Iya sama-sama" sanggahnya dan tersenyum ramah dan berlalu dariku.
"YULI" teriakku dari depan pintu kamarnya dan sesekali mengetuk pintu.
"uuyy" teriak Yuli dari dalam dan kulihat bayangannya mengintip dari balik tirai dijendela.
"Aku Rani bukain pintu dong" perintahku kepada Yuli masih sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
"Iya iya, brisik ih" sunggut Yuli dan Pintu terbuka kepala Yuli menongol keluar menarikku masuk, Yuli ini merupakan salah satu teman sedevisiku dan sekaligus teman satu kelompokku saat Lapinsar dulu.
Aku melengos sambil senyum-senyum, Yuli yang melihat tingkahku membuat timbulnya tanda tanya besar. Padahal kepalaku baru saja ingin meledak karena matakuliah akuntansi biaya namun semua bebanku bisa hilang seketika hanya karena dibonceng Kadivku
"Eh lu kenapa? Kayak orang habis minum bir aja ngefly gitu" ejeknya meringis melihatku yang henti-hentinya tersenyum tanpa sebab seperti orang gila dijalanan.
"Oh gak" jawabku masih saja tersenyum kegirangan, pipiku bersemu merah dan sesekali kupukul pelan pundak Yuli.
"Gak apanya liat pipi lu aja merah gitu, hayo habis ngapain lu" tanya Yuli tampak penasaran dan menggaruk kepalanya bingung karena tingkahku yang tak dibisa dimengerti olehnya.
"Habis kelas akuntansi biaya" jawabku enteng tanpa beban padahal seharusnya bukan raut wajah demikian yang cocok dengan jawabanku.
"Ga ngerti lagi dah gua, mau mandi dulu tunggu disini nanti gua temanin lu balik ke kos sekalian kita berangkat rapat bareng" perintah Yuli, seketika wajahku berubah dari yang senyum-senyum tidak karuan menjadi gelagapan seperti orang ****.
"Hah rapat?" Tanyaku membeo ucapan Yuli, buru-buruku rogoh ranselku mencari keberadaan ponselku dan mengecek digrup lapinsar dan yang benar saja memang ada rapat nanti malam.
"Iya gila ada rapat, lagian napa sih lu senyum-senyum mulu" sunggutnya mulai geram melihatku, Yuli meraih handuknya yang terjemur disamping pintu toilet.
"Aaawww sakit Yul" ucapku memelas setelah handuk yuli melayang ke punggungku. Seketika ingatanku dikembalikan kesaat-saat bahagia yang baru saja terjadi.
"Tau dah ga paham lagi dah gua" ucap Yuli melengos ke toilet, pipiku kembali merona mengingat kejadian barusan padahal aku hanya dibonceng kak Nanda namun aku sudah seperti orang habis minum bir. Kebahagiaan memang tak bisa dibeli, datangnya dari hal kecil yang sederhana saja bisa membuatku seakan merasakan jatuh cinta lagi setelah mantanku mencampakanku setahun yang lalu.
...***...
Aku menyalakan ponselku sejenak kulihat sudah menunjukan pukul 21.00 namun rapat belum juga menunjukkan tanda akan usai membuat kantukku mulai datang dan aku merasa rapat kali ini sangat membosankan.
"Saya ada saran ni" ucap kak Nanda mengacungkan tangannya dan mengajukan beberapa pendapatnya, membuat semua perhatian para panitia tertuju padanya, beberapa ada yang melotot menginginkan rapat untuk segera usai namun kak Nanda dengan lantangnya mengulurkan waktu.
"Keren banget" gumamku, aku tahu para pengurus banyak yang jengah karena tindakannya namun bagiku apapun yang dilakukannya, sekecil apapun itu tetap terlihat berkilau seperti cermin yang memantukan cahaya.
"ah apa tadi lu bilang?" Yuli menyela ditengah gumamanku, membuatku tak berkutik karena pertanyaan yang muncul darinya terlalu tiba-tiba.
"Oh itu, anu, gak kok" jawabku pelan dan gelapan sambil menundukkan kepalaku agar suasana rapat tetap tenang. Yuli menatapku lekat namun ternyata tatapannya terpusat kepada orang duduk sejajar denganku berjarak sekitar tiga orang dariku.
"Eh Ran, liat tu kak Kusuma merhatiin lu terus dari tadi" bisikku Yuli ditepi telingaku, dan aku reflek mengikuti intruksi mencari keberadaan kak Kusuma untuk memastikan perkataan Yuli. Mataku dan matanya beradu pandang sejenak namun akhirnya dia mengalah dan memalingkan pandangannua dariku.
Akupun kembali mendengarkan penjelasan kak Nanda yang sebenarnya aku sendiripun tak ngerti entah apa yang disampaikannya. Berhubung aku memang tak suka beroganisasi membuatku minus pengalaman dan cukup tertinggal dari teman-teman yang lain yang sudah pernah berorganisasi.
"Saya rasa bisa ditampung dulu saran tersebut agar dipertimbangkan untuk dikembangkan nantinya. Bla bla bla.." ketua pantia mengoceh membuat mataku semakin sayu, kulirik kembali ponselku sudah jam 21.10 namun belum juga ada tanda rapat akan berakhir.
Semua orang sibuk berdiskusi mengenai acara sedangkan aku yang ditunjuk menjadi seksi konsumsi hanya manggut-manggut tanpa arti. Sedangkan penanggung jawabnya dipegang oleh kak Nanda selaku kepala devisi LitBang, jantungku ingin meloncat karena kegirangan bisa satu naungan dengannya.
Berulang kali aku mengecek ponselku hingga akhirnya menunjukan pukul 22.00 dan rapatpun di akhiri. Mataku yang semula sudah sayu mendadak kembali mencelang ketika ketua panitia mengakhiri rapat, rapat kali ini memang benar-benar lama dikarenakan mengingat waktu pelaksanaan acara yang semakin dekat.
"Ran" Sapanya beridiri diambang pintu sekre, tersenyum semeringai menatapku lekat. Aku menatapnya sesaat dan membalas senyumnya.
"pulang bareng yok? Biar dianter" ucap kak Nanda, ruang disekitar pintu makin sempit para pengurus keluar berdesak-desakan, kak Nanda yang melihatku terhimpit diantara pengurus menarik ujung bajuku agar menepi dari kerumunan orang-orang. Tarikannya membuatku terbentur ketembok ditepi pintu dan tanpa sengaja aku sudah berada di rentangannya.
Beberapa pengurus menyadari kejadian tersebut langsung bersorak ria men-ciekan kami tanpa henti, wajahku terasa panas karena ulah para pengurus dan kulihat wajah kak Nanda ikut memerah.
"Maaf aku ga sengaja" ucap kak Nanda segera mengalihkan tubuhnya dariku, dan berdiri membelakangiku. Kutatap punggungnya bergerak cepat, dan kuyakin ia sedang mengatur napas yang baru saja tercekat karena tragedi barusan.
"Ayok Ran pulang" ajak kak Kusuma menarik tanganku tanpa ada aba-aba. Kak Nanda yang mendengarkan ajakan kak Kusuma langsung membalikkan tubuhnya kearahku dan kak Kusuma.
"Eh eh eh mau kemana?" Tanya kak Nanda, padahal ia sudah tau jawabannya kalau kak Kusuma menyeretku untuk pulang bersamanya.
"Mau ngajakin Rani pulang" jawab kak Kusuma enteng dan aku menepis tangannya dari lenganku.
"Aku duluan yang ngajakin dia bareng ga bisa gitu dong" sunggutnya terlihat gusar karena jawaban kak Kusuma.
"Lah Rani juga ga bilang dia mau pulang bareng lu" sanggah kak Kusuma tak mau kalah.
Aku bingung dengan tingkah kedua katingku, disatu sisi aku merasa senang karena diperebutkan oleh dua kadiv. Kak Nanda selaku kepala devisi Litbang sedangkan kak Kusuma selaku kepala devisi Jarkom (Jaringan Komunikasi).
"Ran sekang kamu pilih pulang bareng aku Kadivmu atau dia?" Tanya kak Nanda tiba-tiba, aku menggaruk tenggukku sejenak menatap keduanya kebingungan. Tiba-tiba saja Yuli datang diantara perseteruan untuk mengajakku pulang semakin terlihat memanas.
"Enak aja main bawak temen gua, ayok Ran kita pulang" ajak Yuli dan aku langsung mengekor dibelakangnya.
"Ga boleh" "Ga boleh" ucap kak Nanda dan kak Kusuma serentak, dan membuat keduanya saling bertatapan.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...