Meet You Again

Meet You Again
[S1] 27. Kayaknya PDKT



...Happy reading...


Ya saya bersedia


- Erni


"Ok sekretarisnya aku udah dapat tinggal bendaharanya ni" gumamku bersemangat setelah membaca chat dari Erni.


"Kak kalo aku mintain Yuli jadi bendaharaku ga papa?" tanyaku pada kak Nanda yang sedang duduk disebelahku.


"Boleh boleh aja kalo dia setuju" jawab kak Nanda sibuk dengan game diponselnya.


"Ya udah deh nanti aku ke kosannya aja nanyain langsung" gumamku.


"Nah gitu lebih baik" ucap kak Nanda masih setia dengan gamenya.


Tanganku kembali menari diantara keyboard laptopku seakan membuat novel yang akan diserahkan kepada pihak kampus.


kak Nanda mulai sibuk menguyah bakwan ditemani dengan sebotol coffe sedangkan tangan kirinya sibuk menunjuk kearah layar monitor yang ada dihadapanku.


"Typo tu benerin dulu" tunjuknya ke arah layar monitor.


"Iya" jawabku sambil membenahi typo.


"Itu harusnya huruf kapital, ini tu garis baru" Nanda terus mengoceh memandangi layar monitor tersebut.


"Iya bawel" gerutuku namun tetap ku lakukan sesuai intruksinya.


"Penggunaan katanya diperhatikan lagi Ran" protesnya lagi.


"Sekali berhubungan sama BEM ternyata dia bisa seberisik ini" gumamku kesal.


"Ngomong apa?" tanyanya berhenti mengunyah bakwan tersebut.


"Ga kok ga" ucapku pura-pura tak mengatakan yang aneh-aneh.


Ditengah kesibukan mempersiapkan proposal untuk pengadaan acara olimpiade, Yuli datang dan menghampiri kami.


"Ran, kak Nan" sapa Yuli dan bersalaman.


"Nah kebetulan ni Yul" kataku.


"Kebetulan apa?" Yuli mengangkat alisnya.


"Jadi bendahara Olim ya?" bujukku dengan memasang wajah seimut mungkin.


"Jangan gitu ih, jijik aku" ucapnya bergidik ngeri, aku memasang senyum lebar-lebar dan mengedipkan mataku beberapa kali.


"Boleh boleh aja tapi aku ada syarat ni" jawabnya dengan tatapan misterius.


"Apa?" tanyaku penasaran.


"Jadi bendahara juga di Semnas (Seminar Nasional)" perintahnya.


"Okeh, deal ya" ucapku mengulurkan tangan kearahnya.


"Deal" kami bersalaman menandakan setuju dengan perjanjian tersebut.


"Heoll" gumam kak Nanda menatap sinis ke arah kami berdua.


"Gimana bisa aku milih kalian berdua jadi staffku" ucap kak Nanda tanpa sadar.


"Eh gini-gini kita kerjanya becus ya kak" ucap Yuli sambil memukul punggung kak Nanda, dan aku hanya manggut-manggut tak berarti dan kembali fokus pada layar laptopnya.


"Tumben kok gazebo sepi ya?" Tanya Yuli tak berbobot.


"Eh bahlul ini tu hari sabtu ya wajar aja sepi" ucapku.


"Mahasiswa pada malas ngambil kelas saat weekend mending jalan, nongkrong atau mendep dikosan. Kalo aku si weekend mending mantai atau kemana gitu, kalian ga pengen kemana gitu?" tanya kak Nanda berbicara panjang lebar namun kami berdua sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.


"Weh, diajakin ngomong malah dikacangin" sergah kak Nanda tiba-tiba sambil memukul meja membuat kami terkejut.


"Eh anak ayam" ucapku latah dan menjatuhkan hpku.


"Apa kak apa?" tanya Yuli bingung.


"Udah lah malas aku" ucap kak Nanda merajuk.


"Tu kan hp ku jatoh kalian si berisik" gumamku sambil memperhatikan layar hpku kalau-kalau ada yang pecah.


"Lah kok kita" protes Yuli, aku hanya manyun-manyun kesal.


***


kugosok pelan rambutku bau sabun semerbak memenuhi ruangan menandakan bahwa aku baru habis mandi.


Drrttt


- kak Nanda


Ran besok sore ke hutan pinus mau ga?


"Tumben ni orang ngajak main sama temen-temen divisi" gumamku.


^^^- Rani^^^


^^^Ayok jam berapa?^^^


- kak Nanda


^^^- Rani^^^


^^^Okey^^^


***


- kak Nanda


Ran aku udah didepan


Aku bergegas keluar dan mengunci pintu, kutatap kearah gerbang namun tak kutemukan sosok kak Nanda disana melainnya hanya sebuah mobil yang terparkir.


"Rani buruan" teriak Nanda dari dalam mobil tersebut teriak kak Nanda membuyarkan lamunanku.


"Ehh, iya iya. Mobil siapa yang dibawanya" ucapku sambil menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal, berjalan memasuki mobil tersebut.


Ditengah perjalanan aku baru menyadari teman-teman devisi kok tidak ada didalam mobil.


"Lah yang lain mana?" tanyaku bingung sambil menoleh ke kursi belakang.


"Yang lain siapa?" tanya kak Nanda.


"Yuli, Lilis, Eka, Erni, kak Putra?" ucapku


"Aku cuma ngajakin kamu, biar ada waktu berdua" ucap kak Nanda, aku kaget dengan jawaban yang dilontarkannya barusan dan pipiku bersemu merah mendengar ucapan kak Nanda tersebut.


Kami menempuh sekitar hampir satu jam perjalanan akhirnya kami tiba di hutan pinus, kak Nanda memarkirkan mobil dan kami mulai berjalan menyusuri pohon-pohon pinus. Aku menyilangkan tanganku didepan dada meringkuk seperti orang yang kedinginan, dan untungnya aku menggunakan baju yang agak tebal.


"Kenapa? Dingin?" tanya kak Nanda cuek.


"Iya kak" aku menggenggam tanganaku dan menghembuskan napasku, melihat kearah langit benar benar pemandangan yang sangat indah.


"Padahal baru jam 5 tapi masih cerah ya"


"Emm" gumamku. Lagi-lagi aku berfikiran konyol berharap kak Nanda akan melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepadaku.


"Dasar ga peka" gumamku sinis.


"Emm?" gumam kak Nanda langsung menoleh kearahku.


"Gak kok" ulangku dengan jawaban yang berbeda.


"Ya udah kita kesana yok" ucap kak Nanda menunjuk sebuah bangunan kayu yang menjual makanan dan kemudian memesan dua buah popmie cup pedas.


Kami sedang duduk santai menatap pemandangan diufuk barat kulihat matahari mulai bersembunyi diarah keramaian kota.


Drrttt drrtt drrttt drrtt.


"Ran hpmu tu" ucap kak Nanda memberitahu.


"Eh Sania, halo san" ucapku mengangkat telepon.


"Ran ni aku Doni" jawab suara dari seberang sana.


"Emm" gumamku dengan perasaan campur aduk, dan masih duduk berhadapan dengan kak Nanda.


"Kamu apa kabar?" tanyanya lembut.


"Aku baik-baik aja" jawabku cuek.


"Aku udah duga Ran kamu masih sayang sama aku kamu masih peduli sama aku" racaunya tak jelas.


"Hah?" tanyaku kebingungan.


"Sania bilang kamu khawatir banget sama aku waktu aku kritis, Sania ngabarin kamu dan kamu langsung nelpon dia" jelasnya panjang lebar.


"Yah" sanggahku sambil menghela nafas panjang.


"Ngomong dong Ran jangan cuek-cuek gitu, aku rindu sama kamu Ran" pintanya terdengar memelas.


"Yah" ucapku kembali menghela nafas panjang.


"Ran tolong jangan cuekin aku kayak gini, aku ga kuat Ran kamu marah sama aku sampai sekarang dan ga bales chat dari ku, aku khawatir sama kamu" racau Doni lagi membuat telingaku panas, rasanya ingin ku jahit saja mulutnya agar tak berisik lagi.


"Sebenernya kamu mau apa lagi? Aku udah capek banget" tanyaku tak mau memperpanjang percakapan dengannya.


"Aku mau kita balikan? Kamu maukan?" tanya Doni dengan tak tahu malunya.


"sebenarnya apa isi otaknya itu, bagaimana bisa dengan entengnya dia mengatakan hal yang serumit itu kepadaku tanpa berfikir berulang kali" batinku merutuk.


"Balikan kamu bilang setelah semua ini? Kamu pikir aku.." kak Nanda tiba-tiba menarik lenganku dan membiarkan tanganku menjuntai dengan posisi telepon belum dimatikan.


"Ran ayok ke sana duduk diujung sana langitnya bagus banget" tunjuknya ke salah satu objek foto disekitar sana namun terlihat sepi karena terletak ajak jauh dan terpojok.


"Emm" gumamku sambil mengangguk pelan.


"Ran kamu lagi sama siapa? Ran, Rani" tanya Doni masih mengomel dari seberang sana, karena merasa terabaikan ia pun menutup panggilan tersebut.


Setelah kami sudah duduk ditepi tebing dan menatap kearah kota berkilauan cahaya lampu yang menutupi gelapnya malam, aku sangat menikmati pemandangan malam ini, ditambah lagi angin sepoi-sepoi bertiup membuat udara disekitarku semakin dingin.


"Yang tadi siapa?" tanya kak Nanda.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...