Meet You Again

Meet You Again
[S1] 38. Dia lagi



...Happy reading...


"Bentar ya, aku mau ngobrol sama orang tercinta" ucap Tiwi tanpa mengalihkan pandangannya dari kak Nanda. Ucapan Tiwi tersebut membuatku otakku mendidih, aku menatap sinis kearahnya dan kak Nanda tampak bingung sambil mengangkat alisnya.


"Mbak tolong hargai panitia, kami sudah berusaha membuat acara ini sebaik mungkin, jadi tolong jangan menimbulkan keributan" ucapku tegas masih dengan wajah datar.


"Siapa juga yaangg.." Tiwi menggantung ucapannya dan membalik badan ke arahku, Ia terlihat kikuk ternyata yang menegurnya adalah aku.


"Ow kak Rani, Tiwi pikir tadi siapa" jawab Tiwi santai tanpa merasa melakukan kesalahan, aku memutar bola mataku kemudiah menatapnya jengah.


"Tiw duduk geh" perintah kak Nanda.


"Baiklah kalo itu perintah langsung dari kesayangan" ucap Tiwi mencubit pipi kak Nanda dan berlalu ke arah kursi peserta, hal tersebut membuatku jengah dan kembali memutar bola mataku.


"Ada hubungan apa sih sama Tiwi kok kayak akrab banget?" Tanyaku menatap kak Nanda lekat.


"Entah lah sejak kemarin dia nempel terus" jawab kak Nanda santai.


"Susah ya jadi orang baik, baik dikit ke cewek dikira naksir" ucap kak Nanda lagi.


Deg deg deg, Jantungku seakan berdegup semakin melambat, aku kaget dengan ucap kak Nanda barusan apakah selama ini kak Nanda baik padaku bukan karena Ia menaruh perasaan kepadaku atau Ia memang baik kepada semua orang.


"Maksud kakak?" Tanyaku menyelidiki.


"Iya, gak semua orang baik dengan kita tu karena punya hal yang spesial tapi bisa juga karena dia emang baik ke semua orang" tutur kak Nanda memperjelas, membuatku semakin yakin bahwa kak Nanda mendekatiku memang hanya kebaikan semata.


"Jadi kamu harus bisa bedain orang yang baik ke kamu karena kamu spesial baginya atau kamu hanya seorang manusia yang memang harus mendapat perlakuan yang baik" kak Nanda memperjelas lebih rinci lagi.


"Emm iya" aku melontarkan tersenyum kecut ke arah kak Nanda membuat kak Nanda mengangkat alisnya.


Aku mengalihkan pandanganku kekursi peserta yang hampir penuh hanya beberapa kursi saja yang masih kosong, kurogoh kantong rokku dan menggeser layar hpku ternyata sudah pukul 07.25 dan lima menit lagi seminar akan segera dimulai.


"Ka, aku ke toilet bentar ya" ucapku ke Eka agar orang-orang tidak kebingungan mencariku nanti.


Aku melangkahkan kakiku yang terasa tak bertenaga, aku masuk kedalam bilik dan duduk diatas closed mengedarkan pandanganku lurus kedepan. Aku masih bertanya-tanya mengapa kak Nanda mengatakan hal tadi kepadaku, apa benar kak Nanda tak menaruh perasaan padaku?


Memori dimobil saat kak Nanda mencium pipiku terlintas dan saat dibukit bintang juga bermunculan, dimana senyum kak Nanda mengembang begitu indah bagaimana bisa kak Nanda tidak menyukaiku dengan senyum manis yang sering Ia lontarkan kepadaku.


"Terserah lah" ucapku gusar menatap pintu bilik dihadapanku.


Suara microfon sudah mulai bergema dari arah ruang seminar buru-buru aku keluar dari toilet dan menuju ruangan seminar.


"Dari mana Ran?" Tanya kak Nanda tiba-tiba aku memberhentikan langkahku.


"Eh, dari toilet" jawabku seadannya dan kak Nanda hanya manggut-manggut mengiyakan.


"Haii selamat pagi" ucap MC yang menandakan acara akan segera dimulai.


Pembukaan berlangsung dengan hikmat dimulai dengan pembukaan oleh MC, menyanyikan lagu kebangsaan, kata sambutan dari ketua panitia dan rektorat, pembukaan acara secara simbolis, pembacaraan biodata pemateri dan penyampaian materi dari pemateri.


"Artificial Intelligence adalah kecerdasan buatan yang mana kemungkinan suatu hari nanti kecerdasan buatan atau robot ini akan menggantikan profesi akuntansi dimasa depan, namun tidak semuanya bla bla bla" ucap pemateri menyampaikan materi pada acara seminar.


Peserta mengikuti acara dengan antusias yang mana pada sesi tanya jawab banyak sekali yang ingin bertanya namun karena jumlahnya dibatasi jadi hanya orang-orang beruntunglah yang diberikan kesempatan untuk bertanya.


Setelah itu pembagian dorprize yang mana akan diberikan kepada tiga orang penanya seorang pendaftar pertama dan dua orang beruntung yang mana dibawah kursinya terdapat tulisan dorprize juga akan mendapatkan dorprize berupa voucer pulsa sebesar 50.000 setiap orangnya.


Acara ditutup secara formal oleh rektorat dan penyerahan vendel dan juga piagam penghargaan kepada pemateri yang telah bersedia mengisi seminar nasional pada tahun ini.


Seperti biasa selesai acara pasti akan diadakan rapat evaluasi yang mana tujuannya permintaan pertanggung jawaban dari tugas yang kurang optimal dan segala bentuk kecacatan yang terjadi saat acara berlangsung.


Aku gelisah menatap ke arah pintu, wajahku mungkin tampak kontras dengan perasaanku membuat Eka bertanya-tanya ada apa denganku. Eka menatapku lekat tanpa mengalihkannya sedetikpun akhirnya mataku dan mata Eka beradu pandang.


"Apa?" Sergahku cuek.


"Eemm" gumamku sambil meringis.


Aku berusaha untuk tidak menatap kearah pintu namun sosok perempuan diambang pintu itu benar-benar menggangguku.


"Bodoamat dah" gumamku berusaha fokus ke Yuli yang tengah memimpin Rapat.


"Kenapa Ran?" Tanya kak Nanda yang tampaknya juga memperhatikan gerak gerikku sedari tadi.


"Gak" jawabku cuek.


"Oke, semua bentuk pertanggung jawaban dan verifikasi sudah saya terima, semoga diacara seminar nasional tahun depan bisa lebih baik dari tahun ini, karena mengingat waktu sudah siang, saya akhiri rapat pada siang hari ini cukup sekian dan terima kasih" ucap Yuli yang memimpin Rapat.


Aku menoleh kearah tempat duduk kak Nanda namun Ia sudah berada diambang pintu lebih dahulu, aku bergegas meraih tasku dan berjalan kearah pintu.


"Ran ga makan dulu?" Tanya kak Erni.


"Aku makan di kos aja" ucapku meraih sebuah nasi kotak dan terus berjalan kearah pintu.


"Ran mau kemana?" Tanya kak Nanda menoleh kearahku.


"Mau pulang" jawabku berbohong padahal aku keluar hanya ingin memastikan apa yang terjadi antara Tiwi dan kak Nanda.


"Aku anterin ya, bentar" kak Nanda bergegas mengambil tas dan nasi kotaknya dan kembali menghampiriku.


"Ga usah kak aku bisa pulang sendiri" ucapku.


"Kak ayolah" bujuk Tiwi bergelayut dibahu kak Nanda, yang tadi mengilang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Lain kali aja ya" ucap kak Nanda merain tanganku namun dengan sigap kutepis.


"Aku duluan kak" ucapku berlalu.


"Kak" Tiwi menahan kak Nanda, aku menoleh namun sepertinya tak ada perlawanan dari kak Nanda.


"Lepasin Tiw" perintah kak Nanda.


"Ran!" Teriak kak Nanda berlari mengejarku.


"Ran kamu kenapa sih?" Tanya kak Nanda saat berhasil menggapai tanganku dan aku menghentikan langkahku.


"Ga papa" jawabku kemudian membalikan badanku menghadap kak Nanda.


"Kamu cemburu ya kakak deket sama Tiwi?" Tanya kak Nanda.


"Ga" jawabku cuek.


"Terus kamu kenapa? Kalo ada apa-apa tu ngomong Ran, kakak bukan peramal yang tahu apa maumu, emm?" Tanya kak Nanda bingung sambil mengangkat alisnya.


"Kakak bilang kalo aku harus bisa bedain antara orang yang baik karena aku spesial bagi mereka atau mereka memang orang baik" aku mengulang ucapan kak Nanda tadi pagi.


"Iya bener" sanggah kak Nanda.


"Terus kakak yang mana diantara kedua itu?" Tanyaku lirih, namun kak Nanda hanya terdiam mematung dihadapanku.


"Jawab kak" sergah Rani.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...