Meet You Again

Meet You Again
[S1] 10. Ransel couple



...Happy reading...


- nomor tak dikenal


Kakak salah membawa ransel.


Aku terhenyak sejenak dan membaca kembali setiap kata yang tertera pada layar ponselku, aku bangkit dari kasur dan mengedarkan pandangan mencari ransel yang kubawa tadi sore.


Kutemukan ransel tersebut berada diatas lemari, aku bangkit dan kuraih ransel tersebut, kutatap sejenak aku cukup yakin bahwa ransel ini milikku, bagaimana mungkin aku membawa barang orang lain pulang kekosan.


Kurogoh isi ransel tersebut dan kutemukan sebuah binder yang terlihat sama sekali bukan milikku, kembali ku keluarkan isi dari ransel tersebut ku temukan beberapa pulpen dan sebuah dompet.


Kutimang-timang dompet tersebut, aku ragu untuk mencari tahu mengenai identitas pemilik ransel ini sebab pada binder tersebut tidak tertera nama ataupun identitas pemiliknya. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku yakinkan diriku, ku buka dompet tersebut dan ku temukan beberapa kartu identitas beberapa lembar uang kertas.


"Ananda Fathurrahman" ucapku saat membaca kartu identitasnya, kebetulan sekali ransel yang kami miliki sangat mirip dengan milikku. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, aku harus menukarkan kembali ranselku namun aku merasa sangat malu.


"Laki lagi, kok ga kuperiksa dulu tadi isi ranselnya" gumamku frustasi mengacak-acak rambutku. Aku bangkit meraih ponselku yang tergeletak diatas kasur dan mencoba mengirim chat ke pemilik ransel ini.


^^^- Rani^^^


^^^Aku minta maaf, aku ga sengaja bawa ranselmu, harusnya ku periksa dulu sebelum ku bawa.^^^


Aku menghapus kembali teks yang sudah ku ketik, sebisa mungkin aku menyusun kalimat dengan baik.


^^^- Rani^^^


^^^Ketemu dikedai kopi ditimur kampus aja.^^^


- nomor tak dikenal


Oke.


"Cih, cueknya" gumamku setelah mendapat balasan darinya, aku memasukan kembali isi ransel yang sudah ku bongkar tadi dan ku bergegas menuju kamar Lesi.


"LESIII" teriakku dari depan pintu kamar Lesi dan bertumpu pada sending pintu, tanpa tedeng aling Lesi langsung membuka pintunya dan aku terterungkup kelantai karena ulahnya.


"Sorry Ran, Sorry" ucap Lesi membantuku bangkit, aku bangkit dari lantai dan membulatkan mataku kearahnya, ia malah membalasku dengan senyuman sumringah.


"Kenapa kenapa?" Tanya Lesi tanpa rasa bersalah, akupun tersadar maksud dan tujuanku datang menemuinya.


"Oh ini Les, temenin aku ke kedai kopi depan yuk" ucapku memelas dengan seiba mungkin karena tanpa menunggu jawaban Lesi aku sudah bisa menebak bahwa ia akan menolaknya.


"Mau ngapain? Pakai bawa ransel lagi" Tanyanya, aku kaget dengan jawabannya, tak biasanya dia melontarkan pertanyaan terlebih dahulu sebelum kalimat penolakan keluar dari mulutnya.


"Ini aku kebawa ransel orang Les, mau dibalikin soalnya ransel aku juga sama dia" ucapku menjelaskan, Lesi hanya manggut-manggut meng-ohkan.


"Ayok" jawabnya tanpa berfikir panjang dan menunggu pertanyaan kedua keluar dari mulutku.


"Bentar siap-siap dulu" ucapnya mengambil sweter berwarna hitam dan mengucir rambutnya. Lesi mengunci pintu kamarnya dan kami mulai berjalan kearah kedai kopi tempat dimana kami janjian.


Diperjalanan kami dipertemukan lagi dengan dua orang laki-laki yang pernah kami kira ingin berbuat jahat pada kami, aku mempercepat langkahku dan Lesipun peka akan ketakutanku ikut menyeimbangi langkahku.


"Cewek" goda salah satu diantara dua laki-laki tersebut, bulu kudukku merinding ku genggam tangan Lesi dan kumantapkan langkahku untuk mempercepat kami sampai ditempat tujuan.


Merasa tak ditanggapi mereka pun mendahuluiku dan Lesi, aku menarik nafas lega begitupun Lesi. Aku pun teringat pada tujuan awalku datang ke kedai kopi itu, aku pun kembali mempercepat langkahku dan kami tiba di kedai kopi.


Aku menoleh kesana-kemari namun tak ku temukan sesosok laki-laki yang menunggu kedatanganku, dan yang kutemukan malah sepeda motor kedua laki-laki penggoda. Tanpa ku pikir panjang langsung saja kucoba menghubunginya melalui chat.


^^^- Rani^^^


Tanpa menunggu lama chat tersebut langsung bercentang biru bertanda sudah terbaca oleh pemilik akunnya diseberang sana. Kutunggu sepenggal kata seperti 'ok, iya' atau apalah, namun pemilik akun malah langsung offline setelah membaca chatku.


Aku mengurut dahiku berulang kali, pusing rasanya menghadapi manusia cuek sepertinya. Tak lama setelahnya muncul seorang laki-laki yang melangkah kearahku, aku mundur beberapa langkah.


"Rani ya?" Tanyanya, suaranya serak namun tetap terdengar lembut, aku mematung sejenak.


"Eh eh, i i iya" jawabku gelagapan menatap matanya, tubuhnya putih, tinggi, berlesung pipi, dan memiliki alis yang tebal. Sesekali dia tersenyum menampakkan lesung pipinya tampak dalam membuatku terpana karenanya.


"Ini ranselnya, lain kali lebih diperhatikan ya" ucapnya lembut sembari menyodorkan ranselku dan aku juga menyerahkan ransel miliknya.


"Aku duluan" ucapku kaku, dan segera mungkin menarik tangan Lesi, tanpa kusadari ternyata bukan hanya aku yang terpana tapi Lesi juga.


"Daaa" sahut Lesi sambil melambaikan tangan kearah laki-laki tersebut, tanpa bisa kutebak ia membalasnya dan tersenyum lagi kearah kami, bukan mungkin kearah Lesi lebih tepatnya.


"Apasih Les malu-maluin ih" segahku dan Lesi malah senyum-senyum sendiri tanpa menghiraukanku. Kami pun mulai melangkah untuk kembali ke kosan sepanjang perjalanan Lesi hanya memuji laki-laki tampan yang kami temui barusan.


"Ran kamu yakin ga mau coba-coba gitu sama yang tadi" tanyanya menggodaku, aku menatapnya malas dan ia malah menyengir kearahku.


"Coba-coba dikira beli baju apa" ucapku jengah karena Lesi tiada hentinya membicarakan laki-laki itu aku pun mulai muak dengan topik pembahasan ini.


"Udahlah Ran move on, yang tadi lebih baik kok dari pada mantan sialanmu itu" bujuk Lesi meyakinkanku, aku tersenyum kecut sambil menoyor kepalanya.


"Seandainya move on tu kayak ngebalikkan telapak tangan mungkin udah lama aku lakuin Les" gumamku sambil menendang kerikil yang berserakan dijalan.


"Aduhh, siapa yang ngelempar woy" teriak seorang bapak-bapak yang tengah mengendarai motor, aku membuang mukaku da pura-pura tak tahu saja saat orang itu bertanya. Dan untungnya Lesi cepat peka dan mengangkat kedua belah bahunya dan membuatku menarik nafas lega.


"Kamu sih bikin bete aja dah" ucapku kearah Lesi, Lesi menyengir lagi menutupi ketidakenakannya kepadaku. Kami menemukan gerobak bakso, Lesi menghentikan langkahnya sudah bisa kutebak pasti ia tertarik untuk membeli.


"Bentar Ran" ucapnya menarik lenganku dan menyeretku kearah gerobak penjual bakso tersebut. Aku memutar bola mataku, aku sudah duga ia mau diajak keluar kalau ada perlunya saja.


"Pantesan mau diajak keluar ternyata belum makan" tebakku sekenanya dan ia menyengir lagi kerahku.


"Hehe. Pak pesan baksonya dua ya" ucap Lesi memesankan dua mangkuk bakso, Rani mengernyitkan dahi tak habis pikir dia akan menghabiskan bakso sebanyak dua mangkuk sekaligus.


Kami duduk menunggu pesanan Lesi datang dan aku menyibukan diri dengan ponselku, geser sana geser sini namun tak ada yang menarik.


"Nih buat kamu" ucap Lesi tiba-tiba menyodorkan semangkuk bakso kearahku, aku menatapnya bingung dan ia mendekatkan lagi mangkuk itu kearahku.


"Iya buat kamu karena udah mempertemukanku dengan cogan" ucapnya tersenyum sumringah, aku menatapnya curiga jangan-jangan ada satu hal yang aku lupakan. Aku mengecek tanggal ternyata hari ini adalah ulang tahunnya.


"Happy birthday Lesii, maafin aku sempet lupa, kadonya nanti ya nyusul. Lesi tersenyum lagi kearahku dan ku anggap ini traktiran darinya.


...***...


Aku tengah duduk sendirian dihall menunggu Ratna untuk melakukan pembayaran lapinsar yang akan dilakukan dua pekan mendatang. Aku menoleh kesana dan kemari namun sepertinya Ratna belum tiba.


"Nyariin aku ya?"


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca***...