
Baskoro berkali-kali menekan keningnya. fisiknya terasa tidak fit hari ini, di tambah tekanan dari para pemegang saham perusahaan yang terus mengeluh, karena turunnya harga saham mereka. Membuat kondisi kesehatan Baskoro semakin menurun.
Sedikit memaksakan diri, Baskoro tetap berangkat ke kantor. Mega menyiapkan minyak aroma terapi yang biasa di gunakan suaminya jika merasakan pegal atau kaku di tengkuk dan pinggang.
Dengan wajah tenang Baskoro bersandar di sofa ruang kerja. Seorang sekertaris memberitahukan bahwa pak Cahyo kembali berniat menemuinya. Rekan kerjanya yang satu ini juga berniat hengkang dari perusahaan, menyusul pak Subroto, Papah Juwita.
"Baiklah, suruh dia masuk" masalah nggak akan selesai kalau terus di hindari. Sudah tiga hari Cahyo menelponnya dan mengutarakan maksudnya.
Pak cahyo nampak khawatir melihat keadaan Baskoro. Dia memang nampak tenang, namun keringatnya terus bercucuran, sedangkan Ac di ruangan itu dalam keadaan menyala.
"Aku melihat keadaan perusahaan semakin terpuruk, Baskoro---."
"Bukan terpuruk!" sela Baskoro.
"Kita hanya sedang mengalami krisis sementara ini. Fatur dan Lian sedang mengatur pertemuan dengan investor asing. Bersabarlah sebentar lagi, Cahyo."
"Aku---- akan mendirikan bisnis sendiri, Baskoro" akhirnya dia bicara jujur.
"Aku nggak bisa terus bertahan bersama kalian. Aku harus maju dan berkembang" ucapnya lagi.
"Dan aku memerlukan dan yang besar pula."
Baskoro menyerngitkan keningnya, rasa ngilu di kepalanya semakin menjadi.
"Baskoro..."
"Baskoro.!!" sentak pak Cahyo.
Di pandangan Papah Fatur, Cahyo terlihat miring dan semakin miring. Hingga dia kehilang keseimbangan.
"Hei Baskoro!!" panggilan Pak Cahyo semakin jauh terdengar. Dia sempat melihat rekan kerjanya itu kalang kabut mencari pertolongan, dan nggak lama kemudian dia pun nggak sadarkan diri.
Suasana kantor mendadak riuh. Hermanto yang baru memasuki pintu utama perusahaan di kejutkan dengan anaknya, yang tengah menggendong Baskoro di pundaknya. Tanpa bertanya dia langsung berbalik dan membuka pintu mobilnya yang masih terparkir di depan pintu masuk.
"Vin, om kamu kenapa?."
"Nggak tau Pah, tadi lagi ngomong sama pak Cahyo, tiba-tiba hilang kesadaran begini."
"Buruan ke rumah sakit.!!" tanpa menunggu lama Vino langsung tancap gas ke rumah sakit.
Lian baru memarkir mobilnya ketika buntut mobil om Hermanto semakin menjauh dari pandangannya.
"Kenapa kenapa??" ujarnya bertanya pada karyawan lain, yang masih berkerumun di depan pintu utama.
"Pak Baskoro pingsan. Itu Vino sama pak Hermanto yang bawa ke rumah sakit" sahut seseorang.
Lian langsung menghubungi Fatur dan mengabari kejadian tersebut.
"Siapa yang bawa ke rumah sakit?" ujarnya terdengar panik.
"Vino sama Om Her--."
Fatur langsung berganti menelpon Vino namun nggak mendapat jawaban.
"Om ke rumah sakit mana??" dia langsung berganti menelpon Hermanto.
Setelah tau pasti tujuan mereka, Fatur mempercepat laju kendaraan. Hatinya ketar-ketir, Papah nya punya pengakit jantung dan hany itu yang dia tau. Fatur berharap semoga nggak ada penyakit lainnya lagi.
Meninggalkan Baskoro yang sedang jatuh sakit. Seorang pemuda yang telah menduda di buat terkejut. Saat itu Ben tengah menyapu halaman, ketika seseorang menekan bel di gerbang rumahnya.
"Yaa, segera datang!" teriaknya dari samping rumah.
Namun dalam sekejap dunia bagaikan berhenti berputar, tubuh Ben tiba-tiba kaku saat melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya.
Andara....
Wanita yang di meminta cerai darinya tujuh tahun yang lalu. Datang kembali dalam kehidupannya yang sudah sangat damai ini. Dia atang bersama seorang anak lelaki tampan, yang memiliki wajah sangat mirip dengannya.
Eh, mirip dengan nya?. Dengan wajah Ben?.
Tangan Andara bergetar, dia masih secantik dahulu di mata Ben. Namun ada raut kesedihan tersirat di kedua matanya.
"Ben" ucapnya lirih.
Mata lelaki di hadapannya itu menatapnya penuh tanya.
"Bisakah kami masuk?, putraku sangat kelelahan" ujarnya penuh harap.
"Kenapa dia menemuiku??"
"Di mana Frans??"
"Kenapa mereka nampak ketakutan??"
"Yang pasti, dari mana dia tau keberadaan ku??".
Andara duduk di sofa ruang tamu Ben yang cukup nyaman. Meskipun nggak sebesar ruang tamu di kediamananya bersama Frans.
Rumah itu nggak memiliki banyak perabot. Ben memang nggak terlalu suka pernak-pernik. Menurutnya kalau nggak berguna barang itu hanya memakan tempat.
"Kalian mau minuman apa?" akhirnya Ben angkat bicara.
"Air putih saja, Ben" jawabnya pelan.
Andara sangat terpaksa menemui Ben. Sebab dia nggak punya tujuan lain di kota ini. Sudah lama dia mencari-cari keberadaan Ben. Beruntungnya dia bertemu teman kerja Ben waktu masih bekerja di restoran, dan dari dialah dia tau keberadaan Ben.
"Makasih om" ujar putra Andara setelah menenggak habis air di gelasnya.
"Iya, siapa nama kamu?."
"Saya Enda om. Umur saya lima tahun tapi kata Mamah sebentar lagi saya udah naik emam tahun" anak itu nampak menggemaskan. Dia sangat ceria dan sangat comel untuk anak seusianya.
"Apa maksud kedatangan mu Andara??" Ben kembali fokus pada maksud kedatangan mereka.
Wanita itu nampak menunduk. Andara nggak bisa menatap langsung wajah Ben, lelaki yang di tinggalkannya beberapa tahun lalu.
"Kami, kabur dari rumah Ben." Perkataan itu membuat Ben sontak terkejut"Dan sekarang pasti mas Frans sedang mencari-cari kami" sambung Andara lagi.
"Terus kenapa kalian ke sini?" sahut Ben pelan.
"Ceritanya panjang. Ben, sejujurnya ini menyangkut dirimu."
Kedua alis Ben menuking naik, ini masalah mereka kenapa bersangkutan dengan dirinya.
Pelan-pelan Andara mulai menjelaskan semuanya. Setelah perceraian mereka, Andara dan Frans langsung menikah siri. Dua bulan kemudian barulah mereka melangsungkan pernikahan yang sah di mata hukum.
Namun saat itu Andara sudah mengandung anak yang di yakininya adalah anak Frans. Namun Tuhan berkehendak lain, hidup bahagia dengan segala kemewahan yang di impikan Andara nggak menjadi kenyataan. Tuhan menghukumnya dengan kenyataan bahwa Enda bukanlah anak Frans.
Melihat raut wajah Enda yang sangat jauh berbeda dengan Frans, dan juga dirinya, membuat Frans mengambil keputusan sulit. Dia menguji DNA mereka dan hasilnya Negatif.
Ben terperangah mendengar hal itu. Jadi anak lelaki di hadapannya sekarang adalah darah dagingnya.
Gila aja ni kehidupan!. Baru kawin dua bulan tiba-tiba cerai. Dan sekarang tiba-tiba lagi punya anak, sudah berusia hampir enam tahun pula.
"Tuhan, skenario hidupku kau atur dengan sangat rumit" jerit Ben dalam benaknya.
"Terus gimana perlakuan Frans?."
"Dia menyayangi Enda, tapi semakin ke sini Enda semakin mengingatkan dia dengan dirimu."
"Nggak tahan sama hal itu dia meminta ku menitipkan Enda ke panti asuhan. Dia nggak sanggup melihat wajah Enda karena sangat mirip denganmu" tangis Andara pun pecah.
"Aku sangat menolak itu Ben, dia terus memaksa dan aku tetap bersikeras menolak."
"Semakin hari dia berubah menjadi kasar dan pemarah. Nggak ada lagi Frans yang dulu. Dia bahkan berniat memisahkan kami dengan paksa."
Ben memegangi kepalanya, pikirannya kacau.
"Tolong Ben, rawat Enda untuk ku."
Ben semakin kebingungan"Aku bekerja di jam malam Andara, siapa yang akan mengurusnya di rumah."
"Aku mohon Ben, lebih baik dia bersamamu dari pada harus ke panti asuhan" Andara memohon dan bertekuk lutut di hadapan Ben.
Di pandangi Ben anak kecil yang tak tahu menahu itu. Dia hanya terdiam melihat Mamahnya menangis, memohon kepada Ben untuk mengasuhnya. Tanpa dia tau bahwa lelaki di hadapannya sekarang adalah ayahnya kandungnya.
To be continued..
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.