Meet You Again

Meet You Again
[S1] 32. Perkara badai



...Happy reading...


Aku duduk didepan kosku menunggu kak Nanda dengan janji yang dikatakannya pada beberapa hari yang lalu.


"Ran ayok" teriak kak Nanda dari dalam mobil, Aku saja tidak yakin sejak kapan mobil itu terparkir didepan gerbang kosku.


"Iya" Aku berjalan dan menaiki mobil tersebut.


"Sekarang tentenya kemana lagi?" Tanyaku menyelidik.


"Kali ini aku sengaja minjem buat jalan sama kamu" ucap kak Nanda dengan senyumannya.


Aku tertawa geli mendengar jawaban yang entah mengapa membuat hatiku menjadi berbunga-bunga.


"Mau ke pantai mana?" Tanyaku.


"Pantai pasir putih mau?"


"Boleh" sanggahku.


Setelah menempuh waktu yang cukup lama kami tiba di pantai pukul 16.00, kulihat langit masih sangat biru dan ombak terus terombang ambing hingga ke bibir pantai.


"Makan dulu yok" ajak kak Nanda.


"Ayok" sanggahku.


Memang paling nikmat makan ditepi pantai dengan angin yang berhembus cukup kencang sore ini membuat suasana sangat mendukung kedekatan kami.


Hingga pukul 17.15 matahari mulai terbenam diufuk barat benar-benar pemandangan yang sangat indah untuk pandang. Kulihat banyak orang duduk dibibir pantai dan ada yang berfoto untuk mengabadikan momen tersebut, karena cuaca benar-benar cerah dan jarang bisa seberuntung itu jika menemukan awan orange diufuk barat saat kepantai.


Lama aku memandang kak Nanda dengan perasaan ingin tahu apakah orang dihadapanku juga menaruh hati padaku. Hampir setiap hari kamu menghabiskan waktu bersama dan saling berbagi cerita akhir-akhir ini.


"Do You love me?" Gumamku, membuat kak Nanda ikut menoleh padaku dan membuat mata kami saling beradu.


Seseorang terus bejalan kearahku namun arah matanya entah kemana menyadari hal tersebut kak Nanda langsung menarikku kepelukannya.


"Oh maaf" ucap kak Nanda langsung melepaskan pelukannya.


"Ma ma makasih kak" ucapku terbata-bata.


Udara mulai dingin membuat suasana tampak canggung karena kejadian tersebut.


"Diberitahukan kepada seluruh pengunjung bahwa terjadi Angin kencang disekitaran jalan menuju ke kota sehingga menyebabkan akses jalan menuju kota ditutup hingga besok, dikarenakan ada pohon yang tumbang mehalangi pengendara untuk melintas. Sehingga jika hendak ke kota kalian harus melewati jalan sebelah timur, terimakasih" ucap seorang pria setengah baya berbicara ditempat pengumuman dipantai.


"Kak? Gimana ni?" Tanyaku panik karena jalan timur membuat perjalanan memakan waktu lebih panjang karena sama saja mereka harus putar balik berpuluhan km, ditambah jalannya banyak yang rusak dan belum lagi langit sudah mulai gelap.


"Kalo nginap dulu semalam disini gimana?" Tanya kak Nanda tampak kurang yakin dengan hal tersebut.


"Hah?" ucapku ternganga.


"tenang kita pesan beda kamar kok" ucap kak Nanda menenangkan.


"lagian besok juga hari minggu" ucap kak Nanda lagi.


"Ya udah yok kita cari penginapan" ajaknya dan kami bangkit dari duduk masuk ke mobil mencari penginapan terdekat.


Sudah empat penginapan kami datangi namun ternyata banyak pengunjung dari kota memilih menginap dari pada harus pulang dengan kondisi yang demikian.


"Ya udah coba disana aja kak" tanyaku menunjuk ke salah satu penginapan yang kelihatannya mengeluarkan aura negatif.


"Kamu yakin Ran?" Tanya kak Nanda meyakinkan.


"Ya mau gimana lagi dari pada kita harus terus kebarat malah tau-taunya ga ada penginapan lagi" ucapku pasrah.


"Ya udah ayok" ajak kak Nanda.


kak Nanda menyalakan mobilnya melesat menuju penginapan yang kumaksud.


"Permisi mbak masih ada kamar kosong ga ya?" Tanya kak Nanda.


"Masih ada satu kamar lagi" jawab penjaga counter checkin tersebut


"Ran gimana?" tanya kak Nanda ragu-ragu.


"emm?" gumamku menimbang-nimbang sejenak.


"Kamarnya cukup luas kok mbak untuk berdua" ucap penjaga tersebut meyakinkan.


"Ya udah lah ambil aja" balasku pasrah.


Front desk tersebut memberikan kunci kamar yang tertera nomor 202 yang terletak di lantai 2, aku dan kak Nanda menyusuri lorong dihadapan kami.


"Not bad" gumamku menenangkan diri sendiri.


Mataku terus was-was melihat disekelilingku, hingga akhirnya kami sampai diujung lorong dan terdapat tangga menuju keatas. Kupijakan anak tangga itu satu persatu hingga tiba di lantai 2 dan langsung menemukan nomor kamar yang ada pada kunci tersebut.


Aku masuk ke kamar tersebut di ikuti oleh kak Nanda, kuhempaskan badanku dikasur, kupejamkan mataku sejenak merasakan benda empuk di balik punggungnya.


"Waah nyaman banget ya, kupikir bakal sehoror tampilan halamannya tadi, ternyata gak seburuk itu." ocehku sendiri.


"Ran sini den liat" ajak kak Nanda menunjuk kearah jendela.


Aku bangkit dari kasur langkah kakiku agak gontai setelah pencarian panjang penginapan akhirnya kami menemukan penginapan ini.


"Apa?" tanyaku.


"Itu cantik banget ya" tunjuk kak Nanda kearah luar jendela.


Terlihat ombak terombang ambing tampak berkiauan karena pantulan cahaya bintang dan sinar bulan.


"Pengen mandi dah gerah" gumamku.


Aku hendak menanggalkan bajuku baru sebatas perut kak Nanda langsung berteriak.


"Ran kamu mau ngapain!?" teriak kak Nanda histeris


"Hah?" Sontak aku teringat ada kak Nanda disekitarku.


Buru-buru aku berlari ke kamar mandi aku berkaca sejenak melihat pipiku merah merona karena malu yang gak ketulungan.


"Haduh kok bisa lupa si" gumamku menghadap kaca.


Setelah mandi secara bergantian, aku duduk disofa sambil menatap ke luar jendela menikmati suara deburan ombak yang membuat perasaanku menjadi begitu tenang.


kak Nanda duduk disofa sebelahku, tangannya menari-nari sibuk dengan ponselnya, membuat kami berdua tak saling bicara.


"Eemm" gumamnya mengiyakan.


Cukup lama aku mencari posisi yang nyaman agar ia bisa tertidur, aku berguling kesana kemari namun tak juga menemukan posisi yang nyaman. kulihat kak Nanda berbaring disofa yang kelihatannya sudah tidur.


"Kak, udah tidur belum?" tanyaku.


"Belum" jawabnya.


"Ga dingin? Mau selimut ga?" tanyaku menawarkan.


"Ga usah kamu aja yang pakai" jawabnya.


Cukup lama kami saling diam suasana begitu sunyi yang terdengar hanya suara deburan ombak dan jangkrik.


"Kak" "Ran" ucap kaki berbarengan.


"Kamu aja dulu" ucap kak Nanda.


"Emm ga jadi" ucapku.


Suasana benar-benar canggung membuat kami berdua tak berani berbicara, hingga terdengar suara hujan turun aku melihat kak Nanda menyilangkan tangannya didepan dada menandakan bahwa ia mulai kedinginanan.


"Sini aja kak" ucapku menepuk kasur disampingku.


"Ga usah aku disini aja" tolaknya.


"Ga papa dari pada kakak sakit setelah pulang dari sini" ucapku mengingatkan.


"Kamu ga keberatan?" tanya kak Nanda berjalan dan duduk ditepi ranjang


"Keberatan? Dikira mau ngapain, nih pembatasnya awas kalo lewat ku tampol!" ocehku menaruh guling di antaraku dan kak Nanda, aku baring memunggunginya.


"Imut banget" gumam kak Nanda pelan dari balik punggungku.


"Hah?" tanyaku berbalik.


"Gak" elak kak Nanda.


"Awas kalo berani macam-macam" ucapku cuek dan mengepalkan tangannya di acungkannya kearah kak Nanda dan kembali memunggunginya.


***


Matahari menyeruak masuk dibalik tirai, membangunkanku dan kuperhatikan disekitarku.


"Astaga, aku yang bilang jangan macam-macam malah aku yang meluk dia, aduuhh Ran" aku berusaha untuk meloloskan diri namun tangan kak Nanda melingkar di punggungku, akhirnya aku berpura-pura belum bangun saja biar malunya gak kelewatan.


"Ehh, Rani" gumam kak Nanda dan aku buru-buru aku memejamkan mataku berpura-pura belum bangun.


agak lama kunantikan kak Nanda membangunkanku namun sepertinya ia melakukan hal lain, kemudian kak Nanda beranjak dengan sangat hati-hati tak ingin gerakannya membuatku terbangun dan berjalan Pergi kekamar mandi.


"Huh, nyaris aja aku mati ga tau malu" gumamku menarik napas lega.


Setelah agak lama kulihat kak Nanda keluar dari kamar mandi.


"Mandi gih, habis ini kita cari makan baru pulang" perintahnya.


"Emm" gumamku mengiyakan dan beranjak ke kamar mandi.


***


"Gimana?" tanyaku.


"Revisi dong anggarannya katanya masih bisa di press lagi jadi ya kita harus perbaiki anggarannya" ucap Yuli menjelaskan.


Aku, Eka dan Yuli berjalan ke Gazebo tempat biasa mereka berkumpul atau membuat proposal, dari kejauhan Nanda datang dan mendekati kami.


"Lagi pada ngapain?" Tanya kak Nanda basa-basi.


"Punya mata dipakek dong jangan jadi pajangan doang" sergah Yuli yang terlihat sensi.


"Selow aja dong ditanyain kok malah nyolot" sanggah kak Nanda membela diri.


"Pak Kadiv kita lagi revisi proposal Semnas" ucap Eka dengan nada manjanya.


"Ran kresek dong mual dah aku" ucap kak Nanda tak berselera melihat Eka.


"Udah berapa bulan om?" Tanya Yuli.


Seketika kak Nanda menatap ke arahku mungkin ia teringat kejadian pagi kemarin, aku yang sedang menyedot teh kotak tiba-tiba tersedak karena lirikan mata kak Nanda seolah mempertanyakan apa aku baik-baik saja setelah kejadian dipenginapan tersebut.


"Weh weh kayak mbah dukun nih nyembur-nyembur, aku bukan pasienmu" ucap Yuli kesal karena sebagian air tersebut memercik ke arah wajahnya.


kak Nanda tersenyum geli melihat kearahku yang salah tingkah.


"Kau kenapa Ran?" Tanya Yuli


"Gak ga papa" jawabku.


"Lah itu tiba-tiba nyembur waktu Yuli bahas hamil" timpal kak Nanda lagi membuatku mencubit lengan kak Nanda.


"Apa sih mulutnya kok enak bener ngomongnya, dicabein kali ya baru mau diam" jawabku kesal.


"Rani" sapa kak Uncum mendekat dan bersalaman denganku dan juga yang lainnya.


"Nanti malam bisa temenin aku belanja ga?" Ajak kak Uncum.


"Oh boleh, jam berapa?" tanyaku, kak Nanda melihat hal tersebut menyikut lenganku namun tak kuhiraukan.


"Jam 19.30 aku jemput ok" ucapnya tanpa menunggu persetujuan dariku.


"Eh eh enak aja Rani udah ada janji mau nonton sama aku, ga ga ga boleh" larang kak Nanda terlihat kesal dan kak Uncum melirik kearahnya.


"Kapan kakak bilang, kayaknya ga ada bilang mau nontoh deh" jawabku polos.


"Sama aku aja mau?" ucap Eka mengajukan diri.


"Heooll" Uncum menghela napas.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...