Meet You Again

Meet You Again
Insiden



Mey bersandar di sofa, mengatur napas sebelum akhirnya dia mulai bercerita kepada Fatur"Heeemm..."


Matanya kerling kesana dan kerling kesini. Gadis ini bingung harus mulai bercerita dari mana, sedangkan Fatur kayanya udah nggak sabar ingin mendengar ceritanya.


"Ayo cerita!" hardik Fatur.


"Selow dong bos" Mey mengatur napas kembali.


"Ih, dari tadi ngatur napas melulu. Sini aku kasih napas buatan aja" tangan Fatur menjulur, bersiap menangkap Mey.


"Heit!!" dengan sigap Mey menangkis serangan perlahan Fatur"Jangan modus dong, Sayang!."


Tersenyum, Fatur merasa senang. Jarang-jarang dia di panggil sayang oleh Mey.


"Kamu yang jangan pake modus. Sudah sepuluh menit tapi kamu nggak cerita juga. Aku penasaran, Sayang" duduknya bergeser lebih dekat.


Perlahan pula Mey mundur menjauhi Fatur"Waahhhh, kamu kenapa sih?, memang kalau mau dengerin cerita harus mepet-mepet begini!?."


"Ya elah Mey-mey Sayang. Jangan basa-basi terus dong, buruan cerita!" pria itu membetulkan letak duduknya.


"Aku bingung mau cerita dari mana" kedua tangannya menopang dagu. Gadis ini masih berpikir, apakah ini termasuk pengaduan??adu domba?, secara yang mau di gosipin ini emaknya Fatur. 1% kemungkinan akan menjadi Ibu mertuanya demudian hari.


Kenapa hanya 1%?? galaknya minta ampun. Nggak pernah sekalipun berpikiran baik terhadap Mey. Sangat jauh harapan mereka akan hidup berdampingan dan akur.


"Aduuhh, untung saja Tuhan menciptakan aku dengan hati yang tabah bin sabar. Oke deh, silahkan berbasa-basi dulu. Aku akan nungguin di sini sampai kamu siap untuk cerita" rambutnya yang hitam legam itu mengenai pipi Mey. Gimana enggak, dengan santai dia bersandar di bahu Mey yang kecil dan mini itu, otomatis tubuh gadis ini menjadi miring karena ulahnya.


"Aduh duh, tolong pak angkat kepalanya. Berat!!" dengan bergeser sedikit lebih jauh Mey mencoba menghindari kepala Fatur.


"Baru juga segini, gimana aku yang menahan beratnya rindu bertahun-tahun


nggak ketemu, nggak dengar kabar, nggak dengar suara. Asal kamu tau aja, hati aku kering kerontang bagaikan di landa musim kemarau saat kita berpisah dulu."


Hebat juga ini laki-laki. Bisa bertahan dalam musim kemarau sampai bertahun-tahun"Jangan berlebihan kalau ngomong, nggak masuk akal. Kira-kira dong!!"


"Lima belas menit berlalu~~~" ujar Fatur melirik arloji.


Mey merapikan letak poninya"Mendingan kamu kasih aku pertanyaan deh, apa aja akan aku jawab. Aku nggak bisa langsung cerita nih, bibir aku rasanya kaku kalau mau cerita masalah itu."


"Sini aku kasih pemanasan dulu bibirnya" dia menarik pelan-pelan dagu Mey dan semakin mendekat.


Plakk!! sebuah selentik jari tengah Mey mendarat di kening Fatur"Akhhhhhh!!!aku bisa balas koooookkkk!!" duda ini menjerit. Keningnya langsung merah merona ngalahin blush on di pipi Mey.


"Ahaha!!makanya jangan ganjen. Di suruh nanya malah mau nyosor" dia mengejek Fatur dengan memanyunkan bibirnya.


Kaki panjang Fatur leluasa dia letakan di pangkuan Mey, kepalanya pun rebahkan di tangan sofa"Hemmm, kenapa kamu ninggalin aku empat tahun yang lalu??" Q&A pun di mulai.


"Di suruh Mamah kamu" jawab Mey singkat sambil memijat kaki Fatur. Entah refleks atau sengaja, tapi yang pasti perbuatannya mengundang hasrat ke-lelakian Fatur. Bibir duda ini di gigit kedalam.


"Memang Mamah aku nyuruh kamu ninggalin aku?."


"Iya."


"Nyuruhnya gimana?."


"Kalau aku nggak mau ninggalin kamu dia bakal ngeluarin kamu dari anggota keluarga" jemarinya memijat semakin naik kepaha Fatur. Kedua mata sang pria berkedip-kedip, alisnya beradu turun naik. Bahaya nih, dirinya bisa lepas kontrol kalau di biarin.


Akhirnya Fatur menarik kakinya pelan-pelan dan menekuknya"Terus kamu langsung ke Jepang?."


Mey memang lagi nakal atau gimana sih, dia menjawab pertanyaan Fatur dengan meletakan dagunya di lutut Fatur yang di tekuk itu"Aku tinggal sama kakek di daerah pesisir, terus ketemu Mr.Arata di sana."


"Kamu nggak pernah kepikiran aku??" tanya Fatur lagi.


"Ya kepikiran dong, tapi aku nggak bisa apa-apa."


"Kadi kamu kepikiran tapi kamu tetap nggak kasih kabar ke aku?, aku hampir mati tau nggak??. Berkali-kali memohon perpisahan dari Juwita."


Melihat Fatur nampak kesal Mey sedikit khawatir"Bukan begitu, ponsel nya aku matiin. Aku simpan dalam kotak. Waktu itu aku juga hampir mati tau" spontan dia meraba-raba lengan Fatur, memainkan jemari-jemari lelaki itu.


Dan dia juga masih belum sadar kalau prilakunya itu semakin menghoda hasrat Fatur terhadapnya"Kamu ke sini deh"Fatur menarik tubuh Mey, berusaha memeluknya.


"Kamu udah kan nanyain nya?" seraya berusaha melepas genggaman Fatur.


"Ck! jangan mulai deh" Mey menarik lengannya kuat-kuat. Saat ini dia memang bisa melepaskan genggaman Fatur, tapi sekaligus melepaskan kancing baju Fatur juga dan....


"Omo!! sorry sorry. Mey buru-buru mencari kancing baju yang terpental entah kemana.


"Tanggung jawab, cariin kancingnya!" lelaki ini, bibirnya tersenyum tipis.


Selagi Fatur berusaha duduk, Mey berseru"Ketemuu!!."


Duk!"Aawwwwww!." Kening gadis ini kepentok meja


"Sayang!!" Fatur langsung memeluk Mey yang terduduk di lantai menahan sakit.


"Mana! mana??" tangannya meraba kening sang gadis.


"Ahh..darah!!" jeritnya dalam hati.


"Sayang, angkat kepalanya. Sini aku lihat."


Mey menggeleng"Sakitttii!!" suaranya bergetar. Dia melihat warna merah di kemeja biru muda yang Fatur kenakan.


"Darah??" batinnya. Pantas saja keningnya terasa panas, ngilu. Sakit!!.


"Berdarah??" Mey mengangkat wajah.


Fatur menyambar kunci mobil di atas meja"Ayo ke rumah sakit" segera menarik Mey.


"Akh, nggak mau!!" gadis kecil ini malah kembali jongkok di lantai"Di balut di sini aja!! "jeritnya.


"Darahnya banyak Mey!!" hardik Fatur. Dalam sekejap Mey sudah dalam gendongannya.


Rumah sakit adalah tempat yang sangat Mey benci. Aroma rumah sakit membuatnya pusing dan mual"Lihat!" dia menyibak poninya"Turunin, aku nggak mau ke rumah sakit!!."


Terpaksa Fatur menurunkan Mey yang langsung berlari ke kamar mandi, Fatur segera menyusul.


Tanpa rasa ragu Mey membasuh keningnya dan dengan tangan bergetar dia menyeka darah di wajahnya.


"Sini, biar aku aja!!" Fatur mengambil alih. Pelan-pelan dia meniup luka di kening itu.


"Besar lukanya??" tanya Mey. Dia khawatir kalau itu harus di jahit. Sumpah, dia sangat anti ke rumah sakit.


"Lumayan, kita harus ke dokter" Fatur terus menyeka darah yang semakin berkurang di kening Mey.


"Pegangin!!" meminta Mey memegang luka yang dia tutup dengan kain kasa.


"Aku nggak tau cara mengobati luka, kita harus ke dokter. Paling tidak itu harus di sterilkan. Kamu nggak mau kan luka di kening itu iritasi." Mey terlihat mengangguk samar.


Dengan pelan Fatur mengganti kain kasa di kening Mey dengan yang baru, dia menambahkan sedikit obat merah dan segera menutup lukanya.


"Aku nggak suka rumah sakit" Mey memandangi hasil kerja Fatur di depan cermin.


"Eh, kok di buang bajunya??" atensinya teralihkan saat Fatur melepaskan kemeja itu, dan melemparkanya ke dalam tempat sampah.


"Baju sialan!!"ujarnya kesal.


"Maaf, aku banyak tanya. Banyak meminta penjelasan kamu, seharus aku sudah melupakan kejadian di masa lalu itu. Dengan bertelanjang dada dia memeluk Mey.


"Nggak usah peluk-peluk! kita hanya berdua di sini. Ingat! yang ketiga adalah setan!."


Fatur tertawa kecil memandang gadis ini kembali membangun jarak di antara mereka.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.