
...***Luka tidak memiliki suara,...
...Sebab air mata jatuh tanpa bicara....
...Bagian dari diriku terasa sakit,...
...Mengingat dirinya yang sangat dekat, namun tak dapat ku sentuh***...
...........
"Enda bisa kok Yah" anak kecil itu menolak di antar ke sekolah.
"Oke deh" Ben mengelus kepala Enda.
"Lho, Enda nggak enak badan?" tanya Ben, kening anaknya terasa hangat.
Namun anak itu menggeleng cepat"Enda nggak pa-pa Ayah. Bye-bye" dia berlari meninggalkan Ben. Nggak lupa tangannya terus melambai kepada sang Ayah.
"Hmm, kok anget sih. Akh, perasaannku aja kali ya" Ben pun kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Trrtr!!, Danny Calling.
"Hei bro!" sahut Ben antusias.
"hai, gimana nih kabarnya?" tanya Danny.
"Yah begini lah. Ada apa nih pagi-pagi nelpon."
"Aku kemarin cerita sama bos kalau kamu pengen bekerja jadi Chef lagi."
"Terus apa kata bos?" desak Ben.
"Kamu ke restoran ya, jam delapan di tungguin Pak Lucas."
Sungguh Ben sangat bahagia"Siap bro!!.thank's ya!."
Ben sangat bersemangat. Kalau dia memang berjodoh lagi dengan restoran itu, maka akan sangat baik baginya, terutama untuk Enda.
Nggak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sebelum berangkat ke restoran, Ben mampir ke TK untuk berbicara sebentar dengan guru Enda.
"Maaf sebelumnya Bu. Saya harus keluar. Kalau jam sekolanya sudah berakhir tolong hubungi saya. Saya khawatir Enda akan kebingungan kalau pulang ke rumah tapi sayanya nggak ada."
"Baiklah Pak, nanti saya akan segera menghubungi anda" Ibu guru yang berbincang sebentar dengan Ben saat itu adalah wali kelasnya Enda. Dia seorang gadis berpipi chubby, dengan mata bulat nan cantik. mlMengenakan hijab, membuat kecantikannya semakin lengkap.
Setelah berpamitan kepada Enda, Ben pun lanjut berangkat ke restoran. Pak Lucas menyambut kedatangan Ben dengan tawa renyah.
"HAHAHHA!!!, kita memang berjodoh Ben. Aku sudah lama menantikan comeback mu di dapur ku lagi. Aku bahkan sudah lama nggak mengisi posisimu dahulu. Kepala koki yang sempat menggantikanmu waktu itu nggak cocok bersamaku."
Nampaknya Pak Lucas memang sangat merindukan Ben. Bagaimana tidak, Ben adalah koki terfavorit di restorannya.
"Masalah gaji, tenang bro!!. Sekarang aku akan memberimu gaji yang besar. Maafkan aku yang nggak peka waktu itu. Sehingga akhirnya kamu harus mencari pekerjaan yang berpenghasilan lebih besar."
Ben hanya melempar senyum mendengar ocehan Pak Lucas. Dia masih seperti dulu, pria yang ramah tamah.
Namun ben Nggak bisa langsung sepakat bekerja di sana. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya di Cafe. Dan dia juga mengatakan keadaanya sekarang kepada Pak Lucas.
"Its ok Ben. Kamu kan nggak bekerja sampai larut malam. Jam tujuh malam kamu akan sudah berada dirumah" ujarnya lagi.
Ketika sedang mendiskusikan pekerjaan itu ponsel Ben berdering"Ah ini panggilan dari sekolah anak saya Pak."
Lucas pun mempersilahkan Ben menerima panggilan itu.
"Pak Ben, Enda demam tinggi. Sekarang kami sedang dalam perjalan ke rumah sakit."
Ben kelabakan. Secepatnya dia pamit kepada Lucas. Dengan segera dia meluncur ke rumah sakit yang dia katakan Nana.
Kedatangan Mega ke perusahaan Zaid membuat beberapa orang terkejut. Bagaimana tidak, Trifam adalah saingan berat Zaid. Jelas saja orang-orang di dalamnya sangat menarik bagi petingi-petinggi di perusahan Zaid, nggak terkecuali Mega.
"Aduh, biasa aja dong!. Saya ke sini bukan mau bikin onar kok."
"Saya cuma mau makan siang dengan calon menantu saya" Mega berbicara dengan percaya diri kepada pegawai, yang bertugas di depan pintu utama Zaid Company.
Nampak beberapa karyawan memandang dengan berbagai komentar kepadanya.
"Maaf Nyonya, siapa yang anda maksud?" tanya mbak resepsionis.
"Mey sakura--- gitu deh. Aku lupa sama nama belakangnya."
"Oh yang dari Jepang itu."
"Yes!!'' sahut Mega bangga.
"Biasanya sebentar lagi beliau akan keluar kok Nyonya. Siilahkan menunggu di sofa sebelah sana Nyonya. Nanti kalau Ibu Mey muncul saya akan segera memberitahukannya" ke-sopanan sang pegawai di puji oleh Mega.
"Ibu Mey, calon mertua Ibu sedang menunggu di sana."
Rio mengadu naik alisnya"Calon mertua?."
"Etto---." Mey menjadi bingung. Niat makan siangnya pun harus batal. Gadis ini permisi kepada Rio dan menghampiri tamu yang mengunggunya.
"Eh---tante Mega." Lidah Mey mendadak kelu, nggak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kamu mau makan siang bareng??" keramahan Mega sangat nggak biasa bagi Mey. Gimana dong, mereka kan biasanya saling menghina..
"Anu, saya sudah makan siang tante" ujar Mey se-kenanya.
Mega pun merasakan hal yang sama terhadap Mey. Dia juga sangat canggung berduaan dengan Mey dalam kedamian, bukan sebuah pertempuran seperti biasanya.
Melihat mereka kikuk, Rio pun menghampiri Mey. Sekalian kepo dengan kata-kata calon mertua tadi.
"Nyonya Mega, ada yang bisa saya bantu" ujarnya sopan. Batinnya berkata-kata"Mungkinkah Mey akan segera menikah dengan Fatur?."
"Akh, nggak pa-pa. Saya hanya ingin makan siang dengannya."
"Namun sayangnya dia sudah makan, Kalau begitu bagaimana kalau kita ngopi saja." Nggak jauh berbeda dengan Fatur, Mega juga keras kepala dan pantang menyerah.
"Lho, makan siang di mana kamu?, kan kita baru selesai meeting" Rio emang nggak peka deh, perkataannya jelas membuat Mega tersenyum tipis.
Di raihnya jemari Mey"Kita harus menyesuaikan diri" ujar Mega mendekati Mey.
"Yuk kita makan siang" Mega cuek meggelayut di lengan Mey.
"Eh, siapa nama kamu??" ujarnya mengapa Rio sambil menarik Mey agar ikut bersamanya.
"I--iya tante, saya ikut kok." Mey mencoba melepaskan pegangan Mega.
"Sudah deh, nggak usah sungkan. Nggak lama lagi kan kamu akan jadi mantu saya" cengkeraman Mega semakin kuat.
Sedangkan Rio sangat terkejut dengan perkataan Mega barusan, jadi benar toh Mey dan Fatur akan menikah.
"Mey, ponselku ketinggalan. Aku balik deh. Kalian lanjut aja. Mungkin aku makan siang di kantin aja" raut kecewa itu nggak dapat bersembunyi di wajah Rio. Dia nampak sangat terkejut.
Namun akan lebih baik kalau dia nggak jadi ikut bersama Mey dan Mega. Saat makan nanti jelas Mega akan membicarakan perihal pernikahan lagi.
Rio memang berkilah dengan mengatakan ponselnya tertinggal. Jelas-jelas dia langsung menuju kantin dan duduk di meja dengan ponsel di tangannya.
"Ehem, Pak Rio. Mana partnernya?" sapa Rani. Kebetulan siang itu dia juga sedang malas makan siang di luar .
"Udah keduluan orang Ran. Dari SMA aku bucin-in dia, eh taunya di embat orang. Malah sekarang sudah mau nikah."
"Lho, saya nanyain Mey. Biasanya kan kalian makan siang bareng. Kalau Mey nggak makan di luar kantor sih" sahut Rani.
Rani mengenal Mey dengan baik. Namun sayangnya dia nggak tau kalau Mey sahabatan sama Lian, cowok yang membuatnya galau semingguan ini.
"Iya aku tau yang kamu maksud itu si Mey. Aku udah lama naksir dia, dari SMA malah. Eh nggak taunya aku kalah saingan sama Fatur."
"Fatur anaknya pendiri Trifam??".Tanya Rani.
"Fatur mana lagi" dengan malas Rio meng-iya kan perkataan Rani.
Rio menatap layar ponselnya lagi"Hah, ternyata si kaila juga bakal melepas masa lajang nih" ujarnya melenguh kesal.
"Haduh, nggak nyangka mereka juga bakal sampai ke pelaminan" Rio nampak sangat kecewa hari ini. Begitu banyak berita mengejutkan untuknya.
"Siapa lagi Rio?. Kalau kesal ngapain di liatin terus" ujar Rani
"Makasih bude" ujarnya menerima soto dari si bude kantin.
"Temennya Mey, si Lian nih malah lebih lama deketin ceweknya. Katanya sih dari masa kelulusan SMP. Tapi dia beruntung Ran, cintanya berbalas. Dan sekarang udah resmi bertunangan sama Kaila" Rio meletkan ponselnya bersiap menyantap soto pesanannya
"Lian mana lagi??" kali ini Rani semakin penasaran dengan orang-orang yang di kenal Rio.
"Liam Trifam lah, wmang ada Lian yang lain lagi?."
Rani menyabet ponsel Rio"Mana mana??aku pengen liat!" hardiknya.
"Ituuu" tunjuk Rio dengan memonyongkan bibir ke arah ponsel. Rani menekan tombol tengah ponsel Rio, nampak Rio belum meng-close bekas dia melihat pembaharuan status Whattsapp seseorang. Terlihat Lian dan seorang gadis berambut hitam sebatas bahu.
To be continued...
~~♡♡Happy reading.jangan lupa like ,vote dan komen ^,^
Salam anak Borneo.