Meet You Again

Meet You Again
Sahabat lama



Bersenandung kecil seraya menjalani aktivitas pekerjaan. Suasana hati yang semula ceria seketika berubah muram. Siang itu Kaila kedatangan tamu nggak undang. Mamasang tampang dingin wanita ini menghampiri pelanggan, dengan langkah gontai. Ingin rasanya mengabaikan, namun sang tamu memiliki tekad cukup kuat, dia pasti akan menunggu Kaila hingga datang padanya.


"Mau pesan apa?" ujarnya malas, terkesan jutek.


Membalas tatapan tajam Kaila dengan senyuman"Kamu sibuk nggak?, kita ngobrol yuk". Dialah Juwita yang kini hadir di hadapan Kaila. Sungguh, kehadirannya membuat suasana hati Kaila di naungi awan kelabu. Sang sahabat yang sudah di anggap mantan sahabat oleh Kaila, sangat pandai memilih waktu untuk berkunjung. Hari telah siang dan sebentar lagi jam makan siang, tentu Mey akan bertandang ke Cafe Ceria. Juwita seolah sengaja mengatur waktu jumpa mereka.


Kaila nggak mau Mey kembali terluka, Kaila lebih melindungi Mey ketimbang Juwita sebab di matanya Mey sangat terluka. Juwita memang pandai menyembunyikan luka, di balik senyum dan sikap yang selalu cerita ada luka yang teramat dalam. kesalahan di masa lalu telah menghancurkan kebahagiaan, baik itu kebahagiaan dirinya, Fatur, juga Mey. Andai waktu dapat di ulang kembali, teramat ingin Juwita menghapus kejadian di malam itu.


"Kamu mau ngomong apa?, aku nggak sibuk tapi aku harus berjaga di area konter" seperti terpaksa dia duduk di hadapan Juwita.


"Mey sudah kembalik, kan?."


Perasaan buruk di hati atas kehadiran Juwita, membuat Kaila mendengus, sebab menanyakan perihal Mey"Mau ngapain kamu nyariin Mey?, dia orang sibuk. Nggak punya waktu buat kamu."


"Aku cuman mau ketemu. Ada banyak hal yang ingin aku omongin sama dia. Aku boleh minta nomor ponselnya?" satu kesalahan Juwita di masa lalu membuatnya di benci Kaila seumur hidup. Membuat rasa sesal itu semakin menjadi.


Padahal di balik semua itu Juwita adalah pribadi yang baik. Juga sangat penyabar. Terbukti dia mampu bertahan menghadapi kekejaman Fatur bertahun-tahun lamanya. Wanita ini juga penyayang dan berhati lembut.


"Mey nggak akan setuju kalau aku ngasih nomernya ke kamu. Sudahlah! kalau nggak ada kepentingan lain aku permisi."


Kedua alis di ukir cantik itu perlahan menukik turun"Aku mohon, Kaila. Aku menahan rasa sesal ini selama bertahun-tahun. Aku pengen ngejelasin semuanya sama Mey" Juwita memohon agar Kaila sudi membantunya.


"Dalam waktu dekat aku akan tinggal jauh dari kalian. Aku akan membawa Miya pergi lebih jauh dari kalian" terdengar ada kesedihan di dalam suaranya.


"Kalian mau kemana??" tanya Kaila singkat.


"Aku akan pindah ke Villa keluargaku di pedesaan. Di sebuah kampung kecil" jawab Juwita. Tatap matanya penuh harap, seolah dia akan pergi dan nggak akan kembali.


Entah kebetulan atau memang takdir sang illahi. Semesta mempertemukan dua sahabat ini. Mey muncul dan memasuki Cafe dengan santai, seperti biasanya. Di iringi langkah Lian yang mengikutinya dari belakang. Mereka belum menyadari kehadiran Juwita, mungkin ketawa-ketiwi mereka akan sirna seketika kalau sudah melihat sosok Juwita yang lagi ngobrol sama Kaila.


"Sayang" Lain menyapa. Sama seperti Kaila saat melihat Juwita, Lian memasang wajah masam. Hati Juwita mencelos, sedih sebab para sahabat bersikap seperti itu padanya. Dulu mereka cukup akrab, sebelum tragedi malam itu.


Mey sudah meliat Juwita lebih dulu dari Lian. Di luar dugaan, seringan bulu mendudukan diri tepat di samping Juwita.


"Hai!! apa kabar kamu?" sapaan di iringin dengan senyuman manis.


Sambutan baik dari Mey, tetu saja membuat Juwita juga tersenyum manis kepada Mey"Alhamdulillah kabarku baik, boleh peluk?, aku sangat merindukanmu!." Sepasang mata indah Juwita nampak berkaca-kaca, wanita ini terharu.


"Tentu saja, peluk aku se-eratnya yang kamu bisa!" Mey merentangkan kedua tangan, siap menerima pelukan Juwita.


Pemandangan itu membuat Liian dan Kaila saling berpandangan. Seolah ingin mengatakan"Mey sakit jiwa?."


"Mana anak gadisnya?, aku pengen banget lho ketemu anak kamu" entah enggak berperasaan atau memang sudah mati rasa. Mey dengan santai menanyakan Miya, buah hati Juwita sama Fatur.


Juwita sedikit tertegub, beginikah Mey sekarang?. Yang Juwita tau dia memang gadis periang, tapi sikapnya sekarang terlampau santai menyikapi dirinya.


"Miya aku titip Nenek nya" jawabnya.


"Oh, namanya Miya?."


Juwita mengangguk"He-em, Miya Baskoro." Jawaban Juwita sangat mengingatkan akan Fatur. Wajah saja, dia kan akan Fatur.


"Sudahlah!. Kita sudah berada di masa kini, kita memang perlu menengok ke belakang, untuk sesekali. Kalau terus-terusan menengok ke belakang kapan hidup kita akan maju."


Cara Mey menanggapi perkataannya, membuat rasa penyesalan itu semakin dalam di hati Juwita. Memegang jemari Mey dengan erat"Kalau kamu mau marah, marah aja Mey. Aku ikhlas menerima kemarahan kamu. Kamu nggak perlu menahannya seperti ini."


"Juwita, aku benar-benar nggak marah. Semua itu telah berlalu." Ada kesungguhan dalam tatapan Mey, dua sahabat itu saling beradu pandang.


Rasa penyesalan yang telah lama singgah di pundak Juwita perlahan memudar. Meski hubungannya dengan Fatur belum juga membaik, setidaknya sang sahabat masih bersedia memaafkannya"Terimakasih, Mey!. Demi dia sang maha pencipta, aku sangat iklhas kalau kamu dan Fatur bersama kembali." Manik indah itu kembali terlihat berkaca-kaca. Beban yang selama ini mengusik hati akhirnya menguar, membuatnya dapat bernapas lega.


Lian dan Kaila yang berpindah ke meja bar mengawasi mereka sambil berkomentar.


"Banyak cing-cong! kalau aku jadi Mey sudah dari tadi aku ninggalin Juwita!."


Selama dua wanita itu enggak terlibat percekcokan apalagi jamak-jambakan, bagi Lian semuanya baik-baik saja"Jangan marah karena hal nggak jelas. Mendingan kita makan. Aku sudah lapar, Sayang" ujarnya memegangi perut dengan kedua mata berkedip-kedip pada Kaila.


"Oke deh, kamu pesan makanan di depan aja ya. Aku takut mereka jambak-jambakan, kalau di sini kita masih bisa jagain mereka" berucap tanpa memalingkan pandangan dari Mey dan Juwita.


Lian yang selalu patuh akan perkataan Kaila, segera melangkah menuju pintu keluar. Namun, saat melewati meja Mey dan Juwita, Lian menyempatkan diri bertanya"Kami mau pesan makanan cepat saji didepan. Kalian juga mau? biar aku pesankan."


Kaila nampak mendengus melihat kepolosan sang kekasih"Ya elah Lian, orang lagi tegang juga pakai diajakin ngobrol" dengan tangan menepuk kening.


"Nggak usah, aku udah kenyang" jawab Mey singkat dengan tatap kosong. Bagaimana nggak kenyang. Mendapati Juwita di hadapannya membuat luka lama berdenyut kembali. Beruntungnya dia masih bisa menutupi rasa sakit itu dengan tawa dan canda.


"Aku juga nggak deh Lian, udah mau balik kok" sahut Wita. Wajahnya nampak lega, pertemuan dengan Mey membuatnya yakin bahwa Mey baik-baik saja.


Dia nggak tau bahwa dampak kesalahannya bersama Fatur dahulu membuat Mey banyak berubah.


Setelah kepergian Lian menuju restoran cepat saji di depan Cafe tersebut, Wita mengabari perihal kepindahannya dengan Miya. Dan tanpa rasa ragu Mey bertukar nomor telepon dengan Juwita.


"Nanti Video Call sama Miya ya, dia kemaren nanyain kamu."


Tau dari mana Miya tentang Mey??. Wajahnya seolah bertanya seperti itu.


"Kemaren aku nanyain kamu ke Fatur pas dia Video Call sama Miya. Biasalah, anak kecil keponya kebangetan. Aku bilang aja kamu Bundanya dia" Juwita menjawab pertanyaan hati Mey. Dan dengan gampangnya mengatakan Mey adalah Bunda Miya.


"Bunda dari Hongkong!!" celetuk Mey.


"Mey, kalian kan bisa bersatu lagi, ayolah! aku dukung banget " sahutnya. Ck! nggak semudah itu Juwita!.


"Dan setiap hari aku bakal di gempur Mamahnya Fatur" Mey tergelak. Membayangkan dirinya menjadi Bunda Miya betulan, rasanya menggelikan. Akan seperti apa reaksi Mega kalau hal itu terjadi??.


"Jangan berkata seperti itu. Masa depan siapa yang tahu."


Mey mengendikan bahu menanggapi perkataan Juwita.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.