
...***Ajarkan aku tentang cinta dalam diam....
...Pada kesendirian tanpa tersentuh haram....
...Pada kerinduan dalam doa-doa malam,...
...Demi kesucian cinta yang terpendam***...
...🦋🦋🦋🦋...
Jemari Fatur mulai berjalan kecil di lengan Mey.
"Jangan ngelunjak!!" tegur Mey.
"Kita sekamar lho sayang" sahutnya dengan raut bahagia.
"Belum tidur udah mimpi" celetuk Mey sembari memboyong bantal dan selimut ke kamar sebelah.
DOR!! DOR!!, gadis itu menggedor pintu kamar lain.
"Kamu ngapain sayang??."
"Tukeran partner bobo. Mereka sama kayak kita kan, belum sah!!" jelas Mey lagi. Senyum nakal dia tontonkan kepada Fatur.
"Alamak!!" pekik Fatur"Masa aku harus tidur sama Lian!!. Bisa mimpi buruk lho aku Yang. Sama kamu aja, aku janji nggak macam-macam kok."
Mey geleng-geleng manja.
"Kamu gemesin gini, tapi nggak mau tidur bareng. Kejam kamu!."
"Buah duku buah tomat" ucap Mey pelan.
"Bodo amat!!" sahut Fatur kesal.
Mey tertawa geli. Dia lanjut menggedor pintu kamar Lian dan Kaila.
"La..!!Kaila!!. Masa udah bobo La!!!" panggil Mey lagi.
"Heisshh!!, Mey nggak berperasaan banget deh. Kalau nggak di bukain pintu kan berarti lagi sibuk" ucap Lian kesal. Dia baru aja ******* dikit sama Kaila. Baru juga mau memanas nafsunya, keburu di gedor Mey.
Kaila melepaskan dekapan Lian"Lanjut di Apartemen aja ya, lain kali."
Agrrhh!, Lian tersungkur lemas ke tempat tidur.
"FATURRRRR!!. Kamu nggak bisa jinakin si Mey ya!!" dengan suara tertahan Lian menggerutu kepada Fatur, yang kini sedang berdiri tak kalah lemasnya dengan dia.
Kaila menyabet bantal dan guling"Simpen dulu hasratnya ya sayang" Cup"Selamat bobo Lian Sayang" Kaila mencium pipi dan kening Lian kemudian, ngacir ke kamar sebelah dengan Mey.
Sebelum Mey ikutan balik ke kamar mereka, Fatur menarik lengan kekasihnya dan meminta hal yang sama seperti Kaila berikan kepada Lian.
PLETOKKK!!. Sebuah jentikan jemari lentik Mey mendarat di keningnya"Hohoho, nggak usah ngarep. Entar malah bangun si ucup. Nggak Lihat betapa menderitanya Lian gegara ucup bangun. Modar kan nggak bisa di selesaikan" cibir Mey.
"His!!!, gila kamu Mey" Maki Lian"Nggak peka banget, coba datangnya satu jam kedepan, huh!!" lenguhnya kesal.
"Mandi sana sayang, guyur pake air dingin" seru Kaila yang kini menyusul Mey.
"Udah ngantuk aku Mey."
"Bye-bye sayang!!"Ucap mereka bersamaan.
Seperginya Kaila dan Mey, Lian duduk di tepi ranjang"Kamu nggak asik Tur!!. Masa jinakin Mey bentaran doang nggak bisa."
"Ya elah, aku juga pusing kali. Baru juga di belai dikit udah kabur aja dia."
"Lah mending. Aku udah mulai panas brooo!!!" pekik Lian frustasi.
"Kwkwkkkw" Fatur nggak bisa menahan gelak tawanya.
"Ademin ke kamar mandi sana."
"Hisss...!!" Lian nggak bergerak dari tidurnya.
"Eh ngomong-ngomong, emang kamu udah pernah nge-teh sama Kaila?" Fatur kepo.
Lian menggeleng.
"Owh" ujar Fatur.
"Paham kan sekarang!, dikit lagi padahal. Awas aja kamu Mey. Si Ucup jadi mumet sekarang!."
"Atas nama Ayang bebep ku tercinta, aku minta maaf yang begede-gedenya ya bro" ujar Fatur mengejek Lian.
Di kamar sebelah.
"Hampir kan?, apa udah kelar?" tanya Mey menginterogasi Kaila.
Kaila senyum-senyum dari balik selimut.
"Ngomong dong La!!" rengek Mey mengguncang tubuh Kaila.
"Ash,nhampir doang Mey. Belum kesampaian kok!!" wajah Kaila memerah malu.
"Iiiii, kalian udah sampai begituan. Tapi its ok lah. Sebentar lagi kalian bakal nikah kan"nMey merebahkan diri di samping sahabatnya.
"Kamu kapan nyusul?."
Mey menatap langit-langit kamar"Baru juga baikan sama Mamahnya. Tapi aku udah yakin kok sama Fatur."
"Barengan aja yuk. Hemat budget kan."
Mey menggeleng"Kalian duluan aja deh. Jalan kami masih panjang deh kayanya."
"Ekh ngomong-ngomong gimana ceritanya sampai mau ehem-ehem sih?" Mey mendadak kepo ke pembicaraan awal.
"Yaa, gimana ya jelasinnya. Emang kamu nggak sampai nge-teh bercintanya?. Jangan bercanda deh" mendelik Kaila .
"Pernah hampir juga sih La. Tapi aku kepikiran katanya sakit."
"Awal-awalnya sih" ujar Mey lagi. Kedua matanya masih menatap ke langit-langit kamar.
"Jadi abis itu enak Mey?."
BLUSH!!. Baik Kaila maupun Mey mendadak merona dengan imajinasi nakal mereka masing masing.
...****************...
Pagi hari di kediaman Juwita.
"Morning guyyysss, siapa yang mau ikutan jalan-jalan ke perkampungan" seru Wita dari muara dapur.
Kala itu Lian dan Kaila sudah duduk manis di beranda. Menghirup udara segar yang sangat jarang mereka dapatkan.
Mey sedang menyirami tanaman milik Juwita. Dan Fatur nampaknya masih betah berada di pulau kapuk.
"Nampaknya nggak ada yang berniat ikut nih?" tanya Wita.
"Hmmmm" sahut mereka bersaman.
"Hummm, ya udah nggak jadi deh" ujar Wita lagi.
Tapi kok personilnya kurang nih. Di mana pasangan sah suami istri?."
Dua sejoli itu sudah jalan-jalan duluan menyusuri kampung.
"Ohh, jadi maksud Wita beli sayuran itu langsung dari kebunnya toh" Jova terpana melihat hampir di setiap halaman rumah warga memiliki kebun sayur kecil.
"Nggak juga kali Yang. Tuh ada tukang sayur kok" sahut Vino.
Mereka sekalian mampir ke tukang sayur yang sedang parkir di depan Masjid. Nampak para emak-emak sedang memilih sayur sambil bergibah-ria.
"Eh, kayanya tamu pendatang nih" ujar Netizen 1.
"Selamat pagi ibu-ibu" sapa Jova ramah.
"Wuihh bening sekali. Pacarnya ya?. Baru ya di kampung sini" ujar Netizen 2.
"Suami bu" sahut Jova.
Vino menebar senyum kepada mereka.
"Kekar sekali suami kamu mbak."
"Dimana?, dimana tinggalnya??."
"Nginap di Villa ujung sana Bu. Sama teman-teman yang lain'' jelas Vino.
"Oh, sama janda cantik toh. Temennya dari kota ya. Ih pantas sama kinclongnya. And bla bla bla, berkepanjangan lah gibah mereka.
Vino dan Jova sampai merasa nggak enak hati mendengar celotehan emak-emak jaman sekarang, yang nggak mengenal rem itu.
Di saat seperti itu lewatlah Ustadz Wahab yang baru pulang dari jogging, dan mampir di perkebunan sayur miliknya.
"Asslamualaikum Ustadz" sapa emak-emak.
"Waalaikumsalam ibu-ibu" sahutnya ramah. Kali ini dia nggak mengenakan peci putihnya. Sama seperti kebanyakan pemuda-pemuda lainnya, dia mengenakan kaus oblong hitam dengan celana training joger hitam, dengan lis putih di sebelah lututnya.
"Suka deh kalau lihat Pak Ustadz pake baju biasa gini. Nggak kalah ganteng kalau lagi pake baju koko" duelieehh, lancar jaya banget kata-kata manis itu lolos dari bibir netizen 3, yang nampaknya sudah emak-emak banget.
"Duh Ibu. Jangan bilang begitu. Kasihan jantung saya Bu" gurau Wahab lagi.
Jova ikutan tertawa mendengar ucapan Wahab"Ustadz juga manusia ya Yang" ujarnya berbisik pada Vino.
"Hmm" sahut Vino datar. Lumayan cakep sih itu Ustadz. Vino sampai merasa tersaingi sedikit. Tapi kalau adu otot, jelas menang dia dong ya.
Wahab menoleh kepada Vino dan Jova, dia menyapa dengan melempar senyum.
"Ini temennya mbak Wita Tadz" jelas emak-emak. Mendengar nama Wita, Ustadz rada-rada grogi.
"Ah, selamat datang di kampung kami " ujarnya.
Vino pun menyahut sambutannya dan berkepanjanganlah obrolan mereka. Dari tentang suasana kampung yang asri, sampai ketertarikan mereka dengan kampung ini.
"Ngomong-ngomong Ustadz masih sendiri?."
"Eh??" Wahab terkejut dengan pertanyaan Vino.
"Dengar-dengar sahabat kami di lamar sama Ustadz muda di kampung ini. Katanya anak Pak Kyai."
untung saja tadi Wahab mengajak Vino dan Jova ngobrol di teras rumahnya. Kalau masih di depan gerobak sayur tadi bisa berabe. Kabar lamarannya belum banyak yang tau.
Bu Nyai keluar dengan nampan berisi minuman segar dan beberapa kue.
"Jadi kalian temennya Nak Wita ya. Saya kirim salam ya" ujarnya.
"Ummi!!" senggol Wahab.
"Akh, Ummi jadi terlalu bersemangat kalau ngomongin Nak Wita. Maaf ya, ini silahkan di nikmati" Bu nyai menyodorkan hidangan ringannya kepada pasangan suami istri itu.
"Makasih bu" sahut Jova sopan.
"Anu, saya masih penasaran deh. Mengenai ustadz yang melamar Wita itu lho bu."
"Lah, ini orangnya!!" ringan sekali tangan bu Nyai menepuk lengan Wahab.
Jova dan Vino terperangah. Ternyata si cakep ini toh, gumam hati Vino.
Mereka berdua tertawa malu, dari tadi nggak menyadari bahwa sudah bertamu ke kediaman Pak Kyai, calon mertua Wita itu.
To be continued...
~~♡♡Happy reading.jangan lupa like vote dan komen ^,^
Salam anak Borneo.