Meet You Again

Meet You Again
[S1] 7. Lingkungan baru



...Happy reading...


"Nomor antrian 19" ucap operator.


"Oh ya itu nomor antrianku" gumamku kemudian berjalan mendekati perempuan yang memegang kendali komputer pendaftran. Aku dapat melihat apa saja yang dilakukannya melalui monitor didepanku. Entah mengenai data diri atau mengenai prodi pilihanku, kali ini aku bertekad memilih akuntansi mungkin ini satu-satunya penghalang mengapa aku tidak pernah lolos di PTN manapun.


Aku kembali ketempat dudukku menunggu cukup lama menunggu giliranku untuk mengikuti test. Saat namaku di panggil aku berjalan ke salah satu bilik test yang bersifat CBT (computer basis test).


Setelah bergelud dengan soal-soal menyebalkan itu aku kembali duduk dan menunggu giliranku untuk mengikuti tes wawancara. Tak perlu menunggu lama namaku kembali disebut dan aku di arahkan ke suatu ruangan kecil dan terdapat seorang laki-laki tua mengenakan kaca mata, rambutnya telah memutih sebagian, biar kutebak dia pasti salah satu dosen disini.


Aku menjawab pertanyaan satu persatu, pertanyaan yang dilontarkan cukup sederhana, mengenai latar belakang keluargaku, keuangan keluargaku dan hobiku.


Setelah wawancara selesai aku kembali ke tempat dudukku menunggu amplop milikku diberikan untuk mengetahui apakah aku lulus atau tidak.


"RANI INDIANI PUTRI" setelah cukup lama menunggu akhirnya namaku dipanggil, aku berjalan mendekati operator yang menyerukan namaku dan mengambil amplop tersebut.


Aku tidak langsung membuka amplop tersebut aku lebih memilih melangkah keluar dari ruangan, segera memesan gojek dan kembali ke kosku.


...***...


Deg deg deg


Kubuka secara perlahan amplop yang telah aku terima tadi dan tertera didalam amplop itu aku diterima menjadi salah satu mahasiswa disana.


"Benar dugaanku, aku hanya diperbolehkan kuliah kalau memilih program study akuntansi, takdir memang tau mana yang terbaik untukku" gumamku. Aku meraih ponselku yang tergeletak diatas nakas, kemudian menelpon ayah dan ibuku untuk menyampaikan kabar yang cukup gembira. yah walaupun lulus di PTS aku benar-benar bersyukur karena bebas dari penjara tanpa jeruji itu.


...***...


Aku duduk dikursi tunggu, menunggu hasil tes urineku agar bisa mendapatkan surat keterangan bebas narkoba. Bukan, aku tidak dituduh memakai narkoba tapi surat itu merupakan salah satu syarat menjadi mahasiswa baru di Universitasku.


Setelah menerima suratnya dan berketerangan negatif aku, aku kembali ke kampus untuk mengurus semua administrasi serta biaya kuliah untuk semester pertama, memilih ukuran untuk almamaterku dan mengambil bukti pembayaran dibank kampus.


Setelah aku kembali dari kampus aku memutuskan untuk pindah kosan karena kosku yang sekarang dengan kampus memiliki jarak yang cukup jauh, jadi aku milih untuk pindah disekitar lingkungan kampus, dan juga sesuai janji ibuku dia tak mengizinkan aku menggunakan kendaraan disini jadi aku harus pastikan letak kosku cukup strategis dengan tempat makan.


...***...


Aku tengah berjalan menyusuri gang disisi timur kampusku mencari kos kosong yang bersedia menerimaku, aku menemukan satu kos-kosan khusus putri dan memiliki pekarangan yang luas juga fasilitasnya memadai. Aku memilih kos tersebut sebagai rumah keduaku aku membayar kosan tersebut sampai dengan enam bulan kedepan.


Setelah mendapatkan kunci kamarnya aku kembali ke kos lamaku, aku membereskan semua barang-barangku dan merapikan kamar tersebut sebagaimana aku datang dahulu.


...***...


Aku tak menyangka ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama hanya untuk membersihkan kamar kos saja aku menghabiskan waktu dari siang hingga malam. Setelah semuanya selesai aku bersih-bersih berhubung tubuhku juga sudah lengket karena keringat.


Aku mengetuk kamar kak Nada beberapa kali namun tak ada jawaban sama sekali, mungkin dia sedang keluar. Aku beralih dan pergi kerumah ibukosku, rumahnya cukup dekat dengan kosanku yang berada digang sebelah.


Aku berpamitan padanya sudah menerimaku kurang lebih selama tiga minggu terakhir ini. Aku memesan gocar dan tak menunggu lama ia tiba, aku mengangkat semua barang-barangku dan dibantu supirnya, kamipun melaju ke ke kos baruku.


"Oh ya, kak Nada" gumamku, aku tidak sempat berpamitan dengannya, karena merasa tidak enak pada kak Nada, aku merogoh tas selempangku dan menghubunginya melalui chat.


^^^- Rani^^^


^^^Kak makasih ya atas semua bantuannya, aku pindah kos deket kampusku, lain kali main lah kekos ku nanti ku share lock kalo mau ke sini kabarin aja.^^^


- Kak Nada


Eh kok pindah ga bilang-bilang, tiba-tiba banget?


Jaga diri ya Ran.


Belajar yang rajin.


Iya kapan-kapan kakak main kesana.


...***...


Aku tengah menyantap sarapanku, roti bakar dengan selai coklat kesukaanku dan juga ditemani dengan susu coklat. Kulihat seseorang tengah mengeret koper besar melewati kamarku, aku beringsut dari tempat dudukku dan memperhatikan perempuan tadi dari ambang pintu.


"Hei, penghuni baru ya?" Sapaku ramah padanya. Tubuhnya mungil tapi tenaganya boleh juga mengeret koper yang besarnya bukan main. Dia meraih kenop pintu kamarnya, karena aku menyapa dia menoleh kearahku.


"Eh, iya aku baru pindah, namaku Lesi, namamu siapa?" Ucapnya memperkenalkan diri, aku bahkan lupa menyebutkan namaku saat menyapanya tadi haduh dasar aku ini.


"Aku Rani, dari prodi S1 Akuntansi, kamu prodi apa?" Ucapku mulai berjalan kearah kamarnya, setidaknya aku punya satu teman yang akrab denganku dikosan, buat jaga-jaga kalo aku sakit aku bisa minta bantuannya.


"Aku juga prodi S1 Akuntansi, kamu kelas apa? Mana tau kita satu kelas? Ayok masuk" ucapnya kemudian melenggang masuk kekamarnya, yang kulihat kosong melompong. Dia membentang tikar berserat plastik membuka kopernya mengeluarkan barang-barangnya.


"Aku R.03, kamu kelas apa?" Tanyaku masuk kekamarnya, dan memposisikan diriku duduk bersandar ke dinding.


"Yah sayang banget aku R.04" jawabnya sambil merapikan baju-bajunya. Terdengar suara langkah berderap mendekati kamarnya, mungkin temannya karena tak mungkin anak kos melewati kamarnya karena kamarnya terletak dipaling ujung dekat dapur, oh atau mungkin ada yang mau masak.


"LESI!" Teriakan tersebut membahana, aku terkaget karenanya begitupun dengan Lesi.


"Iisshh Adel nih suka banget ngagetin" ucap Lesi kearah perempuan yang memiliki tubuh cukup berisi dan berkulit putih. Aku memperhatikannya dengan seksama, diapun demikian dan akhirnya kami saling bertatapan.


"Aku Rani, aku dikamar nomor 6" ucapku memperkenalkan diri dan dia melangkah masuk dan memposisikan duduk disebelahku. Sedangkan Lesi tengah sibuk menata kamarnya, mondar-mandir kesana dan kemari memindahkan barang-barangnya.


"Oh, aku Adel aku dikamar nomor 2, aku juga teman Lesi waktu SMA. Aku prodi Hubungan Internasional, kamu prodi apa?" Sanggah Adel dan kami bersalaman sejenak, dan aku mengalihkan pandanganku ke sudut-sudut kamar Lesi.


"Oh, aku juga Akuntansi sama kayak Lesi" jawabku ber-oh ria, aku mengobrol beberapa hal dengan mereka dan aku sudah punya dua orang yang munngkin bisa menjadi teman baikku sampai kami lulus.


"Aku balik kekamar dulu ya, aku lagi sarapan tadi soalnya" pamitku dan mereka mengiyakan. Aku melahkan kemarku kembali menyantap rotiku yang sudah dingin karena ku tinggal beberapa waktu lalu.


...***...


Aku baru saja kembali dari warung sayur didekat kosku, berhubung masih liburan warung makan masih pada tutup dan aku memutuskan untuk masak saja dari pada memesan gofood yang membuatku cukup boros. Aku membawa belanjaanku kedapur dan mulai memotong bahan masakanku.


Terdengar bunyi langkah seseorang mendekatiku ternyata Lesi, ia datang dengan sekaleng sarden yang sepertinya ia juga akan memasak siang ini.


Kami saling bersapa dan mengobrol sembari memasak, hitung-hitung pendekatan dirilah. Saat kami tengah asik mengobrol Adel juga datang dengan dua bungkus mie digenggamannya.


Adel meraih wajan dan memanaskan air untuk mencelor mienya, kami bertiga bercerita beberapa hal dan tertawa bersama, aku sudah mulai terbiasa dengan keduanya. Derapan langkah tedengar tidak satu orang tapi dua orang yang akan berjalan kearah dapur.


"Hai" sapa salah satu diantara keduanya, kami bertiga menoleh kearah kedua orang tersebut, wajah hampir sama persis yang membedakannya adalah yang satunya memiliki tahi lalat dibatang hidungnya sedangkan yang satunya tidak.


"Aku Diana dan ini kembaranku Diani" ucap yang memiliki tahi lalat dibatang hidungnya. Kami pun memperkenalkan diri satu persatu dan mengobrol sejenak dengan keduanya, sebagai pembedanya Diana memiliki tahi lalat di batang hidung, sedangkan Diani tidak.


Aku, Lesi dan Adel sibuk dengan masakan kami masing-masing sedangkan sikembar duduk ditangga menuju keatas yang merupakan tempat jemuran. Diketahui bahwa Diana prodi S1 Akuntansi sedangkan Diani S1 Manajemen.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca***...