
...~Seandainya waktu bisa ku putar kembali,...
...akan kubuat kisah kita lebih berarti hingga, tak ada kata untuk mengakhiri~ Andara....
...❣❣❣❣...
Pintu rumah Ben kini terbuka lebar di hadapan Andara. Sang empu masih terdiam mendapati dirinya berdiri dengan ekspresi duka, bersama satu buah koper berukuran besar miliknya.
"Mamah!!" Enda berlarian menghampiri Andara. Ini kali pertama dia bertemu langsung, sejak dia meninggalkan Enda kepada Ben waktu itu.
"kamu----ada masalah?" tanya Ben. Dia bertatap mata langsung kepada Andara, dengan ujung mata yang melirik ke arah koper besarnya.
Andara mengangguk sedih"Aku minta cerai dari Frans. Aku sudah nggak bisa tinggal berjauhan dengan Enda."
Ben menutup pintu dan membantu Andara membawa kopernya ke ruang tengah. Pertanyaan itu sekedar berbasa-basi. Ekspresinya biasa saja. Dan sebenarnya dia nggak peduli dengan masalah yang tengah menimpa mantan istrinya.
"Jadi apa rencana kamu selanjutnya?. Mau aku carikan penginapan atau rumah kontrakan?" Ben bicara langsung pada intinya. Pria ini mengerti maksud kedatangan Andara dengan koper besar itu. Wanita ini pasti berniat menginap di kediamannya.
"Ben----."
Kedua tangan Ben membentuk silang di hadapan Andara"Maaf! aku nggak bisa menampungmu. Akan jadi gunjingan orang kalau kamu menginap di sini."
"Tapi hany---."
"Meskipun hanya satu malam Andara!!" tegas Ben. Dia nggak ingin bermain-main dengan hatinya lagi. Andara adalah cinta pertamanya, juga seorang Ibu dari anak yang sekarang tinggal bersamanya. Akan berbahaya bagi hatinya jika mereka tinggal bersama dalam rumah yang sama. Hatinya bisa baper, apalagi Andara bilang dia sudah meminta cerai dari Frans.
"Kok Mamah nggak boleh tinggal di sini Yah?. Kan Mamahnya Enda harus tinggal sama-sama Enda kan" dengan wajah polos Enda menanyakan hal yang membuat lidah Ben kelu, untuk menjelaskan.
Dia hanya bisa diam dan menghela nafas, mendapati tatapan penuh tanya dari Enda.
Andara mendekati Enda dan mencoba menjelaskan keadaan mereka yang sekarang sudah nggak bersama lagi.
"Enda Sayang, Mamah sama Ayah nggak bisa hidup bersama----." Nggak ada lagi kata-kata yang bisa Andara ucapkan. Dia juga bingung harus memberikan penjelasan seperti apa kepada buah hati mereka.
Mata Enda berlarian kesana kemari mencoba mencerna kata-kata sang Mamah, meski tak mampu dia selesaikan.
"Ooh jadi Mamah nggak boleh tinggal sama Ayah, karena Mamah cewek dan Ayah cowok?."
Dari pada pusing mencari alasan untuk Enda, Ben langsung meng-iyakan tanggapan Enda.
Otak pintar Enda terpikir kepada Nana, kalau sang Mamah nggak bisa tinggal bersama mereka, mungkin Mamahnya bisa menjadi roommate sang ibu guru idolanya.
"Mamah tinggal sama bu guru Nana aja, katanya bu Nana tinggal sendirian, kan Ayah."
"Duh!! masa aku harus ketemuin Andara sama Nana" ujar Ben dalam hati"Anu----nggak bisa lanjut ngomong lagi deh si Ben. Dengan terpaksa di menekan nomor Nana dan menjelaskan situasi mereka sekarang.
Nana yang berhati lemah lembut menerima kehadiran Andara dengan tangan terbuka. Meskipun tau bahwa dia adalah wanita di masa lalu Ben, dirinya tetap berbesar hati menerima Andara tinggal bersamanya. Toh cuman untuk sementara kan.
Jika Nana menerima dengan lapang dada, lain ceritanya dengan Ben. Hatinya ketar-ketir meninggalkan Andara yang sekarang telah berhadapan dengan Nana, di kos-kos an Nana. Hubungannya dengan Nana baru juga mau berkembang lebih manis, eh si Andara malah datang di antara mereka. Status duda Ben bakal berakhir bersama Nana atau kembali bersama Andara ya?."
...❣❣❣...
Berkali kali jempol Kaila mengulang panggilan kepada nomor Lian, dan berulang kali pula Lian menolak dengan panggilan dari Kaila. Hingga sampai di batas kesabaran Lian, dia pun mematikan ponselnya dan membenamkan diri dalam kesendirian lagi.
Lian sedang berada di luar kota, melarikan diri dari kenyataan pahit bahwa sang kekasih menutupi perselingkuhan sang Papah. Hatinya remuk berkeping-keping, ibarat jatuh tertimpa tangga Lian merasa benar-benar di bodohi mereka. Oang-orang yang sangat dia percayai.
"Udah dong neng, udah abis dua kotak" tegur Mey menarik puntung rokok yang tersemat di dua jari Kaila.
Kaila merampas rokok itu dari Mey, kembali menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara lagi.
"Buset dah!. Kamu kayak kereta api, Kaila!" Jova menepis kepulan asap rokok.
"Suka-suka kalian deh mau ngomong apa. Bantu cariin Lianku dong. Tolong" tiba-tib tepian mata Kaila berair, dia menangis....
Jova dan Mey panik, ini seperti bukan Kaila mereka.
"Oi setan perawan!!, kabur kamu dari tubuhnya Kaila!"bentak Jova menggoyang tubuh Kaila.
Mey juga bertingkal seperti Jova, matanya terpejam dan komat-kamit kemudian meniup ubun-ubun Kaila.
"PUH!!pergi kalian para setan galau, demit perawan, mbak-mbak gentayangan!!" sudah kayak mbah dukun, Mey tiup sana tiup sini di sekitaran kepala Kaila.
Merasa di perlakukan eksentrik oleh kedua sahabat gendengnya, Kaila malah semakin larut dalam kesedihan.
"Hick hick LIANNNNNN!!!." jeritannya membuat Mey spontan membungkam mulutnya.
"La!! sadar dong!. Nanti aku suruh Fatur nyariin Lian. Diam dong, malu di liatin orang lewat."
Kaila yang putus asa nggak mengindahkan ucapan Mey. Jova geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah Childkids Kaila.
"Aku coba telponin deh!" tak berapa lama panggilan Jova masuk ke ponsel Lian. Ternyata Lian gertak sambal doang matiin ponsel buat menghindari Kaila. Bagimana juga dia kangen berat kali sama tu cewek.
" GENDENG, GILA, SOMPLAK, ORANG UTAN, ONTA ARAB, CEBONG SAWAH!! BANCI KAMU LIAN!!KALAU ADA MASALAH JANGAN KABUR. PUNYA OTONG NGGAK SIH KAMU!!!." Jova sekalinya ngomel bikin orang lewat kaget, terpana mendengar nyanyian umpatannya.
"Jov----."
" AKU TUNGGUIN DI CAFE, BURUAN!! KALAU NGGAK KAILA AKU KAWININ SAMA COWOK LAIN!!." ancam Jova.
" Selow dong Va, aku lagi nenangin diri doang. lagian omelan kamu apa nggak kelewatan tuh?" akhirnya Lian punya kesempatan buat ngomong.
Jova menarik nafas dalam-dalam kemudian menghela pelan"Kaila nangis jejeritan kayak orang gila. Kira-kira dong kalau mau ngambek" omelan mbak Jova terus memenuhi telinga Lian.
"Sudah deh buruan!!. Kalau nggak datang, habis kamu!!." Jova memutus panggilan. nafasnya berlomba menahan emosi. Sambil berkacak pinggang dia lanjut mengumpat dan memaki Lian.
"Otaknya minta di pepes tuh cowok, masih jaman ya ada masalah main ngumpet kek anak ingusan."
"Sangar amat bininya Vino" celetuk Mey.
"Awas aja kali Lian nggak nongol, maaf-maaf nih ya La, aku bakal bikin dendeng calon suami kamu."
Ocehan dan umpatan Jova membuat Kaila tergelak tawa. Sadis banget mulut si Jova.
To be continued..
~~♡♡ Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya guys.
Salam anak Borneo.