Meet You Again

Meet You Again
Gadis manis



Suasana ramai di kediaman Ben dan Enda kini perlahan sepi kembali. Para tamu satu persatu pamit undur diri karena malam semakin larut. Tak terkecuali Nana .


🍃 Flashback beberapa waktu lalu 🍃


Gadis berkerudung itu menyita banyak perhatian para Ounty dan Uncle Enda.


"Calon emaknya Enda?" tanya Kaila di samping Jova yang hanya di jawab Jova dengan sepatah kata"Mungkin."


Mereka berdua melenggang ke dapur sembari membicarakan hubungan Ben yang baru terkuak.


"Manisnya" bisik Mey pada Lian. Dia lebih memilih ngumpul bareng cowok-cowok di ruang tengah .


Seringai senyuman nakal Lian suguh kan pada Ben. Alisnya turun naik dengan bibir manyun-manyun mengarah pada Nana yang sedang asik menyuapai Enda makan.


"Awas kalo nggak ngundang. Bakal kami bom acara nikahannya!" hardik Fatur dalam bisikan.


Ben sebagai tersangka berkali-kali menggeleng dalam diam. Memberi kode pada mereka bahwa Nana bukan siapa-siapanya.


"Aku bantuin cuci piring" Mey mengajukan diri sebagai asisten dadakan Ben. Dapurnya nampak sedikit berantakan ketika hidangan Ben selesai di masak.


"Eh eh!. Ntar aja cuci piringnya. Makan dulu aja" sanggah Ben pada Mey yang siap memasang celemek karakter. Ben ikutan nimbrung di ruang tengah setelah menyerahkan sisa pekerjaannya pada Kaila dan Jova.


"Saya aja yang cuci piring nanti mbak Mey" Nana tanpa canggung menawar kan diri sebagai asisten dadakan Ben juga. Banjir asisten si duda malam ini. Ini tentang duda Ben ya, bukan duda Fatur lho!!.


"Oh, oke deh" Mey sumringah melirik Ben.


"Laku banget kamu malam ini Ben. Apa besok aku ngaku ulang tahun aja ya biar laku keras kayak kamu" lirikan nakal Vino menggelitik humor garing Ben.


"Jova, ada yang ganjen.",


"Sikat aja!!" sahut Jova dari ruang makan.


"Katanya mau laku keras Va" lanjut Ben beradu domba pada sang penjinak Vino.


"Obralin aja sayang. Kalau perlu gratisin aja" lirikan maut kini keluar dari mata Jova pada Vino.


"Demen banget goyahin kapal aku Ben" gerutu Vino kesal. Kesal begitu mulutnya comot cemilan Ben mulu tapi.


"Ngomong-ngomong ceweknya udah ngasih kode keras tuh. Jangan di anggurin napa" tegur Lian.


"Anggurin pala peang!!. Anak orang paling berharga tuh. Penampilan nya aja solehah begitu. Orang tua nya pasti menginginkan jodoh terbaik buat anak gadisnya kan."


"Kalian lupa, aku duda guyss!. Ada Enda pula. Gile aja tiba-tiba datang mau halal-in anak orang." Mental kerupuk Ben kambuh lagi nih. Mereka bener-bener gemes dengan mental kriuk si duda satu ini.


"Ini nih, yang bikin malu bangsa lelaki. Belum perang udah ngacir duluan. Kamu awewek kali Ben, lemah banget." Cibiran Lian nggak di sanggah Ben. Dia memang minder. Terserah mereka mau bilang apa. Lagian dia sama Nana emang nggak ada Chemistrynya kok


"Ayolah genk's. Makanan udah tersedia nih" panggil Kaila dari ruang makan.


Nana beranjak dari sisi Enda dan membawa piring kosong ke dapur, ternyata Enda sudah selesai makan.


"Sini Na" di tarik Jova sebuah kursi untuk Nana dan dia pun duduk di samping kursi itu.


"Iya mbak" sahut Nana.


"Duh jangan panggil mbak dong. Aku kok kayak tua banget yah" celetuk Jova senyam-senyum .


"Nggak kok mbak, mbak Jova cantik begini masa di bilang tua."


"Makanya jangan manggil mbak. Panggil Jova aja kayak mereka-mereka."


"Tapi apa nggak lancang?."


"Emang kamu usia berapa?" Kaila balik bertanya.


"23 Mbak Kaila."


Sontak mereka yang sudah pada ngumpul ber-uwwwooo. Mendengar usia Nana yang jauh di bawah mereka.


"Akh, keliatan kok dari wajah kamu yang imut-imut begini."


"Umur segitu udah pernah pacaran belum?" tanya Mey dengan gamblang. Terkadang Mey kehilangan rem dalam berkata-kata kalau lagi kepo.


"Hehe, boro-boro pacaran mbak. Hari-hari saya di sibukan dengan sekolah dan mengurus adik saya. Baru beberapa tahun belakangan saya sedikit memiliki waktu untuk diri sendiri" ujarnya dengan wajah menunduk .


"Oh kamu punya adek?. Kenapa nggak di ajak. Kan bisa temenan sama Enda. Atau udah gede ya adeknya?" Lian juga kehilangan rem dalam berkata-kata nih.


"Seumuran Enda mas. Hm, terakhir bersama saya sih. Saya sangat menyayanginya tapi Allah lebih menyayanginya" ujar nya mengangkat wajah. Nampak gadis ini mengukir senyum ketegaran di hadapan mereka.


Melihat tatap penuh tanya mereka Nana pun mulai bercerita. Dia adalah anak yatim piatu yang di besarkan oleh sang Nenek. Ayah nya meninggal ketika Nana masih kecil, sementara sang Ibu meninggal ketika melahirkan sang adik. Di bantu sang Nenek yang sudah berusia senja Nana merawat sang adik layak nya ibu-ibu muda.


"Saat itu adik saya menderita demam tinggi. Nenek membawanya ke puskesmas terdekat. Katanya harus di rujuk ke rumah sakit. Di sana dia sempat di rawat selama tiga hari. Namun semakin hari kondisinya semakin lemah, hingga Allah berkehendak lain. Dia pergi dengan riwayat sakit demam berdarah."


"Kamu ngirisin bawang Ben?" tanya Mey lirih.


"Kaga!."


"Kok mataku perih ya."


"Wooo alasan setipis tisu. Bilang aja minta di peluk A'a Fatur. Kamu mewek kan dengar ceritanya Nana" Vino melempar tisyu ke arah Mey yang senyum cengengesan.


"Maaf ya Na, jadi ngingetin masa lalu" Lian jadi nggak enak hati. Kepo banget sih, Nana jadi ngirisin bawang kan.


Jova menghela napas, ternyata garis hidup mereka pada sedih-sedih semua ya"Oi tuan rumah, kita nggak si persilahkan makan nih?" Jova memecahkan momen sedih itu.


"Wei silahkan di makan. Habisin ya, tapi piringnya jangan" Ben menyahut ucapan Jova di iringi rawa.


Dia yang duduk berhadapan dengan Nana memberikan sepotong ayam keju kepada Nana"Kata Enda kamu suka keju ya."


Dengan rona malu Nana mengangguk dan tersenyum pada Ben.


Kaki-kaki mereka berkecamuk di bawah meja makan. Senggol menyenggol tendang menendang. Ben menahan ekspresi di hadapan mereka. Kedua bibirnya di tutup erat-erat. Dia ingin menjerit merasakan sakit, karena kakinya mendapat serangan bertubi-tubi dari para sahabat somplak itu.


"Tipe suami Nana kayak gimana?."


UHUK UHUK!!. Nana kaget karena pertanyaan nggak ber-akhlak Kaila.


"Minum minum!!" Ben dengan cekatan menyodorkan minum kepada Nana.


Jova mengelus-elus punggung Nana.


"Kalau lebih dewasa dari Nana mau nggak?" Mey ikutan bertanya.


"Langsung punya anak satu malah lebih seru kali ya rumah tangganya. Lebih rame gitu kan?" Vino nggak mau ketinggalan mencecar Nana dengan pertanyaan gila.


"Eh, tipe suami idaman Nana?."


"Yang pasti harus laki-laki kan" jawab Nana asal. Dia sadar mereka semua mulai menjahilinya.


KWKWKWKKW !!! Mereka terkekeh dengan guyonan receh Nana.


"Masuk hitungan. Bolehlah gabung sama genk kita. Kamu somplak juga Na!" Fatur tertawa melirik Ben.


Kaki Fatur kembali menendang kaki Ben"Aw !!" pekik Nana. Rupanya Fatur salah sasaran.


"Bisa roboh lho meja makannya kalau persilatan para kaki di bawah sama terus berlanjut" celetuk Nana lagi.


Niat mereka mengerjai Ben sukses terlaksana. Ben terpojok di kandangnya sendiri. Di tambah Nana yang ternyata nyambung dengan para sahabatnya, alhasil Ben di goda habis habisan malam itu .


...🐧🐧🐧...


"Saya anterin aja ya" tawar Ben ketika Nana pamit diri.


"Enda udah bobo, sini nebeng kami aja" seru Jova. Dia senang bukan kepalang, ternyata Vino tadi sore pulang bareng si hitam beroda empat. Best friend nya Vino nih. Akhirnya balik sama sang empunya deh itu mobil.


"Saya pamit ya Pak Ben" ujar Nana lagi.


"Heem" sahut Ben.


"Oi, jangan di racunin ya!" pinta Ben pada pasangan halal yang doyan ngeracunin otak mereka, dengan embel-embel indahnya pernikahan.


"Suka-suka kami dong" sahut Vino.


"Kuat-kuat iman ya Na. Banyak-banyak nyebut. Kalau perlu baca yassin kalau dekat-dekat mereka" pesannya mengantar Nana memasuki mobil Vino.


"Yee, Devilnya kan kamu."


"Aku racunin beneran lho" ancam Jova.


"Pake headset aja Na" ujar Ben lagi.


"Hehehe, saya kuat iman kok Pak Ben."


"Tau nih Ben, buruan balik sana. Awas kalau Enda di gigitin nyamuk, aku kuras habis darah kamu!."


Obrolan random ini membuat Nana sumringah.


To be continued..


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^ .


Salam anak Borneo.