
"Kalah cepet kan kalian!!!. Wita udah nikah mas bro, mbak bro. Hadeh!!..Kelamaan mikir sih kamu Mey!!" hardik Kaila.
Siang ini Kaila bagaikan guru BP yang sedang menginterogasi murid-murid bermasalahnya.
"Apa sih yang kamu takutin Mey. Nikah mah nikah aja. Masalah tante Mega kan bisa nyusul" ujung matanya menatap Mey yang sedang tacap sehabis menyantap makan siangnya.
"Dandan mulu. Jangan-jangan kamu ada gacoan yang lain ya Mey?!."
"Somplak!!. Mulut kamu nggak ada remnya nih" sehut Mey sambil menampol Kaila dengan tisu bekas me-lap lisptiknya.
"Jangan ngomel terus dong La. Sudah kayak emak-emak nggak kebagian barang diskon nih. Mencak-mencak gitu sama kita bedua. Lah kamu sama Lian kapan nikahnya??" Fatur balik ngomelin Kaila.
"Lagi dapet kali" sahut Daniel."
"Anak sultan jangan ikutan deh. Kamu ngapain ke sini lagi?."
"Yee, suka-suka aku dong. Mau ngecengin mbak Jova terkasih tersayang."
"Bini orang bocah!!" hardik Fatur.
"Bwekkk suka-suka aku. Kangen tau sama mbak Jova" dengan cueknya Daniel mendekati Jova yang berpura-pura tuli.
"Jangan dekat-dekat. Kalau kamu senggol bakal aku bacok nih!!."
"Wuuuuuu, bakal di sembelih kamu Niel" seru Mey.
"Jangan berpindah obrolan. Balik ke tema awal kita, kapan kamu ngelamar Mey?."
"Nggak pake lamaran. Langsung kawin deh" sahut Fatur menjawab pertanyaan Kaila.
"Terus, kok nggak maju-maju. Katanya pas di village Wita kemarin, Mey udah kasih lampu ijo" entah kesambet setan apa, Kaila tiba-tiba mendesak Fatur dan Mey untuk cepat-cepat menikah.
"Lampu ijo nya baru nyala setengah La. Please deh nggak usah kepo-in kami lagi. Kamu pikir aku nggak galau mikirin itu?."
Mey menyenggol kaki Fatur. dan Fatur balas menyenggol kaki Mey.
"Pulang yuk. Sudah jam kerja nih" ucapnya setengah berbisik.
Fatur berdiri dan membayar minumannya dengan Mey ke konter. Kami balik ngantor ya La. Kamu ngomel mulu, nggak di kasih Lian jatah ya?."
Sibuk menggesek kartu yang Fatur berikan, Kaila melirik tajam kepada Fatur.
"Eh, Lian sudah ngajakin aku nikah. Ayo barengan."
Fatur menyerngitkan kening. Tadi marah-marah. Sekarang ngomong pelan dengan suara lembut pula.
"La, kamu sakit?."
"Hu-um Tur" sahutnya lagi.
"Sakit jiwa?!" hardik Fatur sambil menyabet kartunya
His, Kaila cemberut"Ayo dong Mey,.biar barengan nikahnya!."
"Oooohhh, jadi kamu sudah di tagihin nikah sama Lian?."
Kaila mengangguk.
Mey menarik napas"Hupfh!!, Kalian duluan aja deh La. Kami pasti nyusul kok" berkedip Mey pada Fatur.
...........
Malam hari di kediaman Fatur.
Perkataan Kaila tadi siang menggelitik pikiran Fatur. Siapa sih yang nggak mau menikahi gadis yang di cintainya. Apalagi sudah ada lampu hijau dari masing-masing orang tua.
Jam menunjukan pukul 19:10.
"Sayang, aku kapan di lulusin??".
Mey yang sedang asik rebahan di sofa sambil nontoni acara buka aib, nggak menggubris pertanyaan Fatur.
"Yang, fokus amat sih. Itu acara gibah lho. Buka aib sendiri malah" tegur Fatur.
"Laper sayang. Bikin makan dong."
"Mentang-mentang aku ke dapur. Kan tadi udah makan!" Mey nggak berniat membuat makanan lagi. Dia hanya ingin mengambil jus dan membawanya ke depan Televisi.
"Bawain cemilan aja" pinta Fatur lagi.
"Lihat deh, belum jadi istri aja perintahnya udah seabrek. Gimana kalau udah jadi istri??bisa-bisa aku jadi upik abu" meskipun ngedumel, Mey masih membawakan keripik kentang kesukaan Fatur dan minuman sodanya.
"Nggak gitu juga kali Yang. Entar aku jadi bucin kamu deh. Seumur hidup pun aku rela. Ya, kita nikah ya." Melas Fatur.
Dengan sangat tidak sopan Mey melempar cemilan ke pangkuan Fatur"Di racuni Kaila ya?."
"Kita udah kayak tinggal bareng lho Yang. Banyak waktu yang sudah kita lalui bersama. Semua hal juga sudah kita lakuin bersama, tinggal nikah aja kan. Beres dong!."
"Ada kok yang belum kita lakuin bersama" sahut Mey lagi. Dia duduk bersila di lantai sedangkan Fatur duduk selonjoran di sofa panjang.
"Iya, nikah itu kan."
"Bukan!" sambarnya.
"Jadi?" penuh tanya Fatur membenarkan letak kakinya, kemudian menarik Mey bersandar ke bawah Sofa yang dia duduki.
Mey mendongak dengan tangan menjulur ke atas. Jemarinya menarik kepala Fatur tepat di atasnya, dan kini hidung bereka bersentuhan.
"Kita belum pernah nge-teh kan, Sayang."
Dalam posisi begitu dengab ucapan nakal yang lolos dari bibir manis Mey, membuat gejolak hasratnya memanas.
"Jangan bangunin singa tidur dong" kini bibir Fatur benar-benar berdekatan dengan bibir merah Mey.
Gadis itu tak menjawab perkataan Fatur. Dia sibuk mencium lembut kekasih yang masih sangat setia meunggu ajakan menikahnya di terima.
Mendapat serangan lembut sang kekasih, Fatur menarik untuk Mey naik ke sofa, dan memeluknya hingga berada tepat di atasnya.
"Kamu nggak berhenti kasih aku ujian. Kapan kelulusannya sih" jemarinya menangkup pipi merona Mey. Eishh!!! ciuman begitu saja sudah membuat napas Mey beradu.
"Memangnya kuliah, pake ada kelulusan segala" jawab Mey.
"Makanya kasih aku jawaban pasti dong Sayang" Fatur memutus jarak bicara mereka. Menarik mey lebih dekat dan mulai bermain dengan daun telinganya.
"Bagaimana kalau kita kawin aja dulu."
Fatur kaget. Enggak biasanya Mey mengucapkan kata nakal seperti ini.
"Hei, segitu kagetnya" jemarinya kini bermain dengan kancing kemeja Fatur. Membuka dua kancing teratas, dan tangannya perlahan menelusup masuk.
"Mey, kamu nggak lagi ngerjain aku kan?. Kalau aku balik menyerang, kamu nggak akan aku lepasin nih" ancam Fatur dengan tatapan tajam.
Bukannya menjawab Mey malah semakin memanas. Gadis ini bermain di telinga Fatur dan mulai turun ke leher.
"Aku sudah kasih peringatan ya!!" Fatur bangkit dari sofa dan menggendong Mey ke kamar.
"Mau ngapain??" tanya Mey yang kini sudah Fatur letakan di ranjangnya.
Lelaki itu melepaskan kancing kemejanya satu persatu hingga akhirnya kemeja itu teronggok di lantai. Berlanjut tanpa permisi dia menjelahi setiap jengkal tubuh Mey"Jangan teriak" ujarnya lagi.
"Kamu berani membawaku ke ranjang. Kamu harus bertanggung jawab. Besok temui kedua orang tuaku. Kita bahas hari pernikahan kita.x
Fatur terperanjat"Beneran Sayang?" dia sampai menghentikan aktivitasnya dan beradu pandang dengan Mey.
"Heem" sahut Mey. Seharusnya ini nggak terjadi, tapi malam itu Mey telah menyerahkan segalanya kepada Fatur. Awalnya sedikit meringis hingga akhirnya mulai mengerjap menerima sentuhan lembut Fatur.
"Please, jangan ada perpisahan lagi" bisik Fatur dengan napas beratnya. Dia benar-benar menggilai Mey. Menikmati tubuh gadis itu dengan puas, begitu juga dengan Mey. Bahkan beberapa stempel kepemilikan nya telah melekat pada tubuh gadis itu.
To be continued...
~~♡♡Happy reading.jangan lupa like vote dan komen ^,^
Salam anak Borneo.