
...Happy reading...
"Nyariin aku ya?" Ucap seorang laki-laki dengan percaya dirinya melangkah mendekatiku.
"Kenalin aku Kusuma Adi Pratama, aku salah satu staff di devisi kominfo BEM kepengurusan tahun ini" Sapanya ramah kepadaku sambil mengulurkan tangan, ku perhatikan sejenak wajahnya, mengingat-ingat sepertinya aku pernah bertemu dengannya.
"Aku Ratna kak temannya Rani" ucap Ratna bersalaman dengan Kusuma, aku mengerutkan dari dan menatap Ratna sinis, dan dia mengembangkan senyum kearahku. Aku saja tak tahu ia datang dari mana tiba-tiba saja muncul dan langsung bersalaman dengan orang asing dihadapanku.
"Oh, namanya Rani ya?" Ucap Kusuma tersenyum sinis membuatku bergidik ngeri memikirkannya.
"Em" aku hanya menggumam dan mengangguk pelan. Ratna menyikut lenganku memberi kode agar aku bersalaman dengannya. Aku pun menyalaminya dan tersenyum hampa menatapkan.
"Ayo Rat" ucapku menggandeng Ratna ke stand BEM untuk melakukan pembayaran, Ratna melambaikan tangan kearah Kusuma dan aku tersenyum tipis kemudian menarik Ratna dan berlalu dari hadapannya.
...***...
Drrrtt.
-Ratna
Ran, minggu depan jangan lupa kekampus TM Lapinsar (latihan kepemimpinan dasar) BEM.
Awas aja kalo ga datang ku jemput sampai ke rumahmu di sana.
Benar dugaanku BEM benar-benar akan menggangu waktu luangnya untuk rebahan. Jiwa rebahanku takkan bisa berubah dengan cepat, apalagi kasur posesif selalu menginginkanku untuk terus merebahkan punggungku diatasnya.
^^^- Rani^^^
^^^Iya Ratna aku udah baca di kuitansi ada jadwal TMnya kok^^^
...***...
Takut-takut aku melangkah menuju ke ruangan yang sudah siapkan oleh panitia Lapinsar, disana juga sudah disediakan snack kotak dan sudah dilengkapi dengan air mineral botol. Aku mengintip dari luar dan mendapati cukup banyak anak kelasku yang lolos menjadi calon anggota BEM masa depan, Rahman salah satunya.
Pukul 14.00 TM dimulai, TM meliputi pembagian kelompok dimana setiap kelompok harus menyiapkan yel-yel untuk diadu saat acara, selain itu kami juga diminta untuk membuat sebuah pertunjukan yang akan ditampilkan pada saat pentas seni. Kami juga diminta membawa barang bawakan pribadi berupa pakaian ganti, pakaian saat haiking, handuk, peratan mandi, obat-obatan pribadi bagi yang memiliki riwayat penyakit kronis, membawa perlengkapan seni untuk pertunjukan, serta membawa makanan teka-teki yang diberikan oleh panitia.
Uci menjadi teman satu kelompokku sekaligus salah satu teman akrabku dikelas, kelompokku terdiri dari delapan orang yaitu dua orang laki-laki dan enam orang perempuan. Aku berkenalan dengan anggota kelompokku agar aku tak canggung saat acara nanti tiba.
...***...
Pakaian, buku, dan tempat tidur yang berantakan membuat kamarku seperti kapal yang hendak berangkat, bahkan lebih rapi kapal yang hendak berangkat dari pada kamarku. Aku mempersiapkan segala perlengkapan untuk mengikuti kegiatan lapinsar. Awalnya aku ogah-ogahan untuk berpartisipasi namun dengan adanya pentas seni membuatku bersemangat untuk ikut serta. Aku memang tak jago bernyanyi tapi bisa menari, menggambar, melukis bahkan aku juga bisa teater.
Aku meraih ponselku diatas nakas, kugulir layarnya kulihat sudah menunjukan pukul 13.00 dan aku segera bergegas ke kampus, bersama dengan Ratna dan sepeda motornya.
Saat tiba di kampus kami langsung di absen saat menaiki bus agar panitia bisa tau peserta mana saja yang belum datang. Aku memilih duduk bersama dengan Uci yang merupakan teman satu kelompokku sedangkan Ratna memasuki bus yang berbeda denganku pasalnya dia juga berbeda kelompok denganku.
...***...
Tiba ditempat aku dan peserta lainnya diarahkan untuk berbaris sesuai dengan kelompoknya, saat berbaris kami diberikan intruksi apa saja yang tidak boleh mereka lakukan selama mengikuti kegiatan tersebut.
Acara akan dilaksanakan dari hari sabtu pukul 15.00 sampai dengan hari minggu pukul 17.00. Kegitan ini dilaksanakan di desa wisata dibawah kaki gunung hingga membuat udara disana lebih sejuk dari pada diperkotaan tempat tinggal baruku.
Kami diminta mengeluarkan makanan teka-teki yang diminta oleh panitia, dan semua kelompok membawa makanan dengan benar. Setelah itu kami diminta menunjukan yel-yel setiap kelompok, jika ada yang tidak hapal maka ia akan diminta meletuskan sebuah balon yang berisikan dengan kertas yang tertulis hukuman apa yang akan ia jalani entah itu ngerayu teman kelompoknya, kakak panitia ataupun diminta bernyanyi dan berjoget.
Sepintas aku mengedarkan pandangan dan berhenti ke arah seorang lelaki, sepertinya pernah kulihat disuatu tempat, namun Rani lupa pernah liat dimana.
"Ga tau ah bodo amat" gumamku, laki-laki itu menjadi ketua kelompok yang berbaris disebelah kelompokku mengenakan papan nama berwarna biru, sedangkan kelompokku menggukan papan nama berwarna merah.
Setelah semua kelompok menunjukan yel-yelnya kami diarahkan oleh kakak pembimbing untuk ke home stay untuk beristirahat. Aku melangkahkan kaki ke salah satu homestay yang tampak sederhana dan pemiliknya ramah sekali kepada kami.
Aku meletakan barang-barangku bersama dengan barang anggota kelompokku yang lain, aku membaringkan tubuhku dikasur dan memejamkan mataku sejenak untuk melepaskan penatku agar tubuhku kembali segar saat acara nanti malam.
...***...
Kami duduk melingkar dan ada sebuah nampan bulat yang sudah berisikan nasi tumpeng, yang dikelilingi gorengan tempe tahu, ayam goreng, sambal, rebusan sayur, bihun dan telur rebus. Menatapnya saja air liurku sajanya sudah mengalir, mengapa aku harus menunggu lebih lama untuk menyantapnya.
Setelah mendapatkan intruksi kami dipersilahkan menyantap hidangan yang berada dihadapan kami bersama dengan air mineral botol berukuran 1500 ml. Semua anggota kelompokku makan dengan lahapnya bahkan nampannya bersih dengan menyisakan tulang-tulang ayam saja.
Setelah acara makan malam ada juga sesi sharing sesion yang mana para mantan pengurus BEM akan memperkenalkan diri dan memberi nasihat-nasihat dan motivasi untuk calon penerus BEM di periode berikutnya.
...***...
Aku merogoh saku celanaku mendapati ponselku dan kuusap layarnya, kulihat menunjukan pukul 22.30 tapi belum juga menunjukan akan ada pentas seni. Aku mulai bosan menunggu hal yang kunantikan, aku mengantuk dan menguap berulang kali.
"Ran kamu ngantuk ga?" Tanya Uci menatapku sayu, aku menantapnya balik dan mengangguk pelan.
"Iya ci ngantuk banget, mana disini dingin banget lagi" jawabku sembari memasukan kedua tanganku ke kantong hodie dan menggepalkan keduanya disana.
Tiba-tiba disekelilingku mendadak gelap gulita, sepertinya lampu dimatikan daaann
Buaaa... api menyala dari halaman pendopo membuat beberapa peserta kaget karena hal tersebut terjadi tanpa ada aba-aba.
"Halo adik-adik udah ngantuk belum?" Sapa seorang MC yang berbicara tanpa kami ketahui dimana keberadaannya.
"udah" "belum" jawab peserta bersorakan riuh tak karuan.
"Jangan ngantuk dulu ya karena sebentar lagi akan ada pentas seni dan akan kita adakan sampai api unggunnya padam, okee?" Saut MC yang masih belum kami ketahui keberadaannya.
"Okeee" jawab peserta riuh gempita menyambut dengan gembira sesi pertunjukan pentas seni yang dinantikan.
Kelompokku mendapat nomor urut 2 untuk penampilan pentas seni, kelompokku mempersiapkan sebuah musikalisasi puisi yang mana kami latihan hanya 2 jam saja. Mungkin kelompok kami akan kalah karena persiapan yang matang dari kelompok-kelompok lawan.
Isda bernyanyi membawakan lagu mengenai seorang ayah yang sudah meninggal dan anaknya mengenang apa saja yang pernah mereka lalui semasa sang ayah hidup, sedangkan aku membacakan puisi yang menceritakan hal yang senada dengan isi dari lirik lagu tersebut. Sedangkan anggota yang lain berdrama dimana ada anak yang patuh dan anak yang berandal.
Mengisahkan bagaimana anak yang berandal memperlakukan ayahnya sembarangan dan suka melawan, sedangkan anak yang baik membela sang ayah agar saudaranya sadar. Namun apalah daya takdir berkata lain dan akhirnya ayahnya meninggal dunia sebelum anak berandalnya memohon maaf kepada ayah.
Dengan penampilan yang sederhana dan seadanya kelompok kami tak berharap banyak untuk bisa jadi juara karena waktu latihan yang hanya sedikit karena anggota kelompok memiliki kesibukannya masing-masing.
...***...
Aku tengah duduk bersama dengan anggota kelompokku yang lain menyaksikan kelompok yang lain tampil dan menikmati hangatnya api unggun ditengah dinginnya udara malam hari ini.
Sewaktu kelompok keempat tampil lagi-lagi aku mendaratkan perhatianku kearah laki-laki yang aku lupa pernah melihatnya dimana. Kuperhatikan dengan seksama dari kejauhan saat laki-laku itu mulai memetik gitarnya dan anggota kelompoknya yang lain bernyanyi.
Aku masih saja mencoba mengingatkan dan mencari tahu siapa lelaki tersebut, saat aku mencoba mengingat sosok yang tengah memegang gitar datang seorang lelaki yang lainnya menghampiriku.
"Hai Rani, masih ingat aku?"
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...