Meet You Again

Meet You Again
Cinta dalam diam



Tak terasa hari sudah menjelang malam. Wita dan para sahabatnya menggelar dua buah tikar di halaman rumahnya.


Setelah kenyang menyantap makan malam, tak menyurutkan niat mereka untuk lanjut ngemil dan bersantai di bawah langit malam.


"Suasananya damai banget. Pantesan kamu betah di sini Wit." Jova membuka obrolan mereka.


"Iya dong. Kalau pagi udaranya sejuk banget lho, aku suka jalan-jalan di pinggir perkampungan sambil beli sayur buat masak."


"Ya elah Wit. Anteng banget sih hidup kamu. Kami kalau pagi pagi harus berlomba dengan waktu. Kalau nggak, bakal kena macet di jalan. Telat deh ngantornya" celetuk Mey.


"Naahhh. Makanya kalau udah nikah sama Fatur cari rumah di sini aja" sahut Wita asal.


"Terus kerja apa coba?" balas Mey.


"Nggak usak kerja" sahut Juwita lagi dengan tawa kecilnya.


"Makan cinta say!!" sahut Lian.


Hihihihi mereka tergelak tawa.


"Aku bakal bangun rumah kontrakan di depan situ" Fatur menunjuk hamparan sawah nan luas di depan.


"Terus Mey jadi juragan kontrakan, begitu??" celetuk Kaila pula. Mereka mulai berandai andai.


"Hahahah, bisa juga tuh!. Entar kami deh yang jadi penyewa pertamanya. Secara kami kan yang paling ngenes di antara kita" Vino menyahut sembari curhat colongan.


"Wuih, jangan ngeluh bro. Banyak yang lebih ngenes dari pada kalian berdua." Nasehat Fatur.


"Aku sih selow aja. Yang penting sama kamu Sayang" ucapan Jova sontak membuat mereka ber cie-cie dengan mereka.


"Nggak jadi ngenes deh aku Tur. Selama sama dek Jova, hidup ku nggak bakal kekurangan suatu apapun deh!!" ralat Vino sambil mengedipkan mata kepada Istri tercinta.


"Aku bukan Jinny bang Vino" sahut Jova pula.


"BWEKK!!" ejek Lian"Kalian lama-lama makin lebay. Makin kayak cabe-cabean."


Trttt!!!trttt!!!. Deringan ponsel Wita sejenak menghentikan obrolan mereka.


"Aku permisi ya, kalian lanjut deh" ujar Wita sembari masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, Pah" sahutnya. Sejurus kemudian wanita ini berbincang panjang lebar dengan sang Papah. Sesekali dia menganggukan kepala, sesekali dia tersipu malu, bahkan kadang tertawa kecil.


"Jadi, kamu percayakan sama Papah nih?."


"Iya Pah, gimana baiknya aja" sahut Wita lagi.


"Hemm" terdengar gumaman Subroto"Papah yakin ini yang terbaik untuk kamu Nak."


Juwita pun meng-iya kan ucapan Subroto di ujung telpon.


Setelah panggilan di tutup Wita duduk sejenak di kamarnya"Semoga aku nggak salah langkah lagi ya Allah" gumamnya.


Tak lama kemudian dia pun bergabung kembali bersama sahabat-sahabatnya di halaman depan.


"Ehem!!" sindir Kaila. Sedangkan Wita tertawa. Dia memang sudah menduga hal ini. Kaila menatapnya tajam ketika pamit ke dalam untuk menerima telpon.


"Gimana gimana?" ranya Kaila to the point.


Melihat gelagat malu-malu Wita, mereka semakin menjadi-menjadi meledeknya. Jova dan Vino yang ketinggalan kabar berita buru-buru mencari tau perihal malu-malunya Wita.


"Waw, calon Pak Ustadz toh" ledek Vino lagi.


"Udah dong!!" seru Wita. Wajahnya sudah sangat memerah sekarang.


"Ciee, ternyata Pak Ustadz yang bikin suasana di sini adem ya Wit??" tanya Jova lagi di iringi gelak tawa.


Fatur dan Mey hanya menjadi penonton dan hanya ikut mentertawakan tingkal mereka.


...💗💗💗...


Di kediaman Kyai Ismail.


"Alhamdulillah, semoga lancar sampai hari H ya Pak Subroto" ujar Kyai Ismail yang sedang berbicara di telepon, dengan calon besannya.


Perkataan Abah mengundang rasa ingin tau Bu nyai. Dan melihat senyuman Abah kepadanya, nampaknya mereka akan kedatangan seorang menantu.


Setelah berbicara panjang lebar, sampailah pada kesepakatan bahwa akhir pekan kaluarga Pak Kyai akan bertandang ke kediaman Subroto di kota. Kabar bahagia itu pun telah sampai kepada Wahab. Raut kebahagiaan terpancar dari wajahnya.


"Cie, abang keseringan wudhu nih" ujar Khadijah.


"Wajah Abang berseri-seri terus tuh" goda Khadijah lagi. Tangannya ikut menarik pakaian dan membantu Bu Nyai bekerja.


Gurauan Khadijah membuat merah wajah sang Abang.l"Bisa aja kamu Dek!!" terlihat jelas dia mulai salah tingkah.


"Benar kan Ummi, kalau sering-sering Wudhu bisa bikin wajah semakin bersinar. Iya kan."


"Iya sih. Abang mu emang sering wudhu-an kemaren-kemaren. Gara-gara keseringan mandangin anak perempuan orang tuh!."


Sungguh, wajah Wahab semakin merah dan terasa panas.


Wahab berdiri perlahan"Astaghfirullah, Wahab wudhu-an lagi deh Mi" ujarnya ngacir dari hadapan Bu Nyai dan khadijah.


Jelas saja mereka semakin tertawa melihat tingkah malu-malu Wahab. Ini kali pertamanya menunjukan rasa tertarik kepada lawan jenis. Meskipun di masa kuliah dia juga sering bertemu dan berteman dengan lawan jenis. Sangat berbeda rasanya ketika pertama kali dia melihat Wita, terlebih saat Juwita semakin hari semakin memperbaiki diri. Juga sikap sabarnya dalam mengasuh dan membesarkan Miya seorang diri. Hatinya semakin luluh. Nggak jarang dia merasa langsung berdebar ketika mendadak bertemu Wita. Saking berdebarnya dia sampai nggak sanggup menegur Wita. Inilah yang menyebabkan mereka jarang terlibat dalam sebuah obrolan.


Malam itu selepas sholat Isya, Wahab duduk di pelataran Masjid. Wajahnya menatap langit malam penuh bintang.


"Ya Allah, engkau sang maha membolak balikkan hati. Bantu hamba mengendalikan perasaan ini" gumanya pelan. Bahkan sangat pelan. Dia tak ingin seseorang mendengar ucapannya.


"Mau ikut tadarusan Pak Ustadz?" sapa kholid, sang sahabat dari kecilnya.


"Hemm, kamu duluan aja deh. Aku lagi pengen sendirian dulu" sahutnya. Nyaris saja gumamannya terdengar Kholid.


"Jangan melamun, kesambet setan perawan nanti!" hardik Kholid.


"Huus, sembarangan!!. Ayo deh tadarusan aja" ujar Wahab bergegas mengajak Kholid masuk ke dalam masjid.


...........


Jam sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Adem ya Yang. Malam-malam begini menatap langit berbintang. Ada yang ngaji pula di Masjid sana" ucap Mey .


"Calon Ayahnya Miya kali yang ngaji" sahut Kaila.


"Bukan!!" spontan Wita menjawab.


"Hahahha, lihat deh, suaranya aja udah kenal dia. Apalagi orangnya!!" godaan mereka berlanjut lagi.


"Ih, kalian berhenti dong. Aku bisa mati karena malu nih!!" seru Wita lagi. Mereka benar-benar mengerjainya malam ini.


Dan wita terdiam ketika suara yang mengaji berganti"Nah, kalau yang ini baru Pak Ustadz" bisik hatinya.


"Nanti kalau udah sah, Miya manggilnya apa dong?" tanya Fatur.


"Abah?."


"Abi?."


"Babah."


"Apa dong?."


"Papah muda!." Dengan gelak tawa Vino langsung ngakak, setelah memberikan panggilan untuk Ayah baru Miya.


"Kalian emang gesrek nih!!" Wita melempar bantal kecil ke arah Vino.


Berkelanjutanlah gurauan mereka. Semantara Miya sudah tertidur lelap di pangkuan Mey. Nggak berapa lama Fatur menggendong Miya dan mengantarnya ke kamar.


"Semoga langgeng ya Wit" tepuk Mey di pundak Wita yang di balas Wita dengan tepukan hangat di lengan Mey.


"Kalian juga ya." Ujarnya tersenyum tulus.


...........


...💗💗💗...


...***Mencintai dalam diam. Tanpa perlu takut kehilangan....


...Karena Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hambanya yang sabar dalam mencintai***....


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.