Meet You Again

Meet You Again
Merana



...**Jangan mencoba untuk mengukur cintaku......


...Jika kau tak berani untuk tenggelam dalam lautan**...


...๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ...


Keadaan Baskoro semakin mengkhawatirkan. Beruntung ada seorang yang cocok dan bersedia menjadi pendonor untuknya. Jadwal operasi pun sudah di tetapkan, yaitu dua hari ke depan. Namun atas permintaan sang pendonor, keluarga Baskoro nggak usah tau siapa dirinya. Niatnya tulus hanya ingin membantu.


Sementara masalah sang Oapah mulai mendapatkan titik terang, Fatur malah mendapat kabar nggak menyenangkan dari Mey. Jadwal kepulangannya di undur tiga hari ke depan.


"Huh, penipu!!" pesan terkirim kepada Mey.


"Ayolah Sayang, bukankah jarang bertemu akan menambah kerinduan?" balas Mey.


"Setiap hari ketemu aja aku selalu kangen, gimana kayak sekarang yang emang nggak ketemu. Kalau begitu kamu menyiksa aku Sayang."


"Sorry, kerjaan di sini belum selesai. Bersabarlah sebentar lagi. Ok?."


"Baiklah, tapi kamu harus menerima lamaranku kalau sudah balik ke sini" Fatur coba mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Hei, apa tante Mega yang cantik dan imut-imut itu sudah kamu taklukan untukku?."


Hehehhe, Fatur hanya bisa tersenyum membaca balasan pesan dari Mey. Sang Mamah masih tetap pada pendiriannya, apalagi Mey pergi ke Jepang di saat sang papah sedang terbaring nggak sadarkan diri di rumah sakit.


"Bisa-bisanya kamu merayu Mamah untuk menerima dia sebagai menantu" Mega melenguh kesal di hadapan fatur. Permintaan Fatur sangat nggak masuk akal untuknya. Mey adalah musuh terbesar dalam kehidupannya, gadis itu bagaikan rumput liar yang nggak pernah habis meskipun di basmi setiap hari.


"Kamu harus mencari pasangan yang setara dengan kamu!. Level kita berbeda dengannya Fatur!!" masih dengan keangkuhan dan kesombongannya, Mega terus mencaci dan memaki Mey.


"Mah, Mey wanita karir yang sukses di negeri orang. Sekarang aja dia harus kembali ke Jepang karena perusahaan di sana memerlukannya. Dia berperan penting dalam perusahaan besar itu, Mah!."


"Ih, segitu doang mau kamu bangga-banggain di depan Mamah, nggak sudi mamah. TITIK!!."


Fatur hampir frustasi menghadapi cerewetnya sang Mamah"Coba aja ada tombol kalem nya" gumam Fatur.


bibir Mega manyun, dia berbalik mengejar pandangan si anak tunggal.


"Jadi, kamu berharapnya Mamah ini robot?? kayak di drama drama korea gitu?."


"Ya elah peka amat tu telinga" batin Fatur berkata.


"Ngomong apa sih mah, nggak jelas deh" si anak ini berpura-pura nggak ngerti dengan ucapan Mamahnya.


"Kayanya kamu deh yang harusnya punya tombol untuk di jinakin, biar nurut sama orang tua!." balas Mega.


Di kediaman vino dan Jova.


"Vin, kasian deh si Ben tiba-tiba di titipin anak sama mantan istrinya."Si suami kaget dong, bertahun-tahun menduda dengan pengalaman nikah dua bulan doang, tiba-tiba di kasih tau punya anak.


"Itu cerita Ben atau cerita drama sedih yang bikin mewek sih, Yang. Ngenes amat hidupnya si Ben."


"Makanya, mana anaknya di bawa-bawa kerja pula. Itu anak juga anteng banget sama Ben, padahal mereka belum lama ketemu."


"Anaknya kek gimana, Sayang?."


"Mukanya emang jiplakan Ben deh. Anaknya penurut banget, oke-oke aja selama itu nggak jauh dari Ben. Ngomongnya juga pintar banget, kita kalau ngomong sama dia kayak lagi ngobrol sama orang dewasa" Jova terlihat bersemangat menceritakan nilai bagus pandangannya kepada Enda.


"Hemmm, kalau kamu sudah siap punya anak?" tatap manja Vino mulai menggelitik hati Jova.


"Hehehe, ya mau lah Vin. Lagian aku sudah berumur, harus segera dapat momongan."


Vino sekejap menarik Jova dalam pelukannya"Ayo kita bikin, kembar cewek atau kembar cowok nih?."


"Jiahhh, memang bisa request dari sekarang ya??" balas Jova menatap manja. Si brondong memang cepat cara berpikir dan bekerjanya. Langsung pengen bikin adonan debay kan dia, mana maunya kembar pula.


"Gaya begini bakal dapat cetakan cowok, gaya begitu bakal masuk cetakan cewek" dengan lincah dia mempraktekan adegan bercinta di hadapan Jova.


"Kwkwkkwkw." Jova ngakak"Terus kalau mau kembar pengantin gimana?, kan satu cewek satu cowok tuh! "


๐Ÿ‘€๐Ÿ‘€๐Ÿ‘€..


"Hm...kayanya ilmu bercinta kita belum sampai tahap itu deh, Yang. Gimana kalau kita coba-coba aja dulu" ujarnya memasang kuda-kuda, siap menerkam Jova. Wahh, memang somplak pasangan ini.


Jova menyelinap kedalam selimut"Kamu lama-lama makin mesum, Vin. Bahaya nih" ejek sang istri.


"Kalau nggak mesum kamu nggak bakal luluh sama godaan aku kan Sayang" ujarnya menata Jova, dengan sepasang bola mata yang berkedip-kedip nggak jelas.


"Oh Tuhan, punya suami centil amat ya" pekik Jova dari dalam selimut.


Di Negeri Jepang.


Mey sedang berkemas di kediaman MR.Arata. Setelah pemakaman Nenek Haruka dia, kembali fokus pada tujuan lainnya kembali ke Jepang.


"Mey, sepertinya kita akan kembali melakukan pertemuan dengan perusahaan Trifam" ujar Mr.Arata.


"Kwalitas sarang burung walet mereka cukup bagus, bukan?" tambah Mr.Arata lagi.


"Saya belum memeriksanya Mr. Tapi kenapa anda melirik Trifam lagi, sedangkan kita sudah bekerja sama dengan Zaid Company?." Mey menerka, mungkinkah kinerjanya kurang memuaskan bagi Mr.Arata.


"Kamu kan tau, permintaan produk kecantikan kita semakin meningkat. Nggak ada salahnya kan kalau kita harus bekerjasama dengan Trifam juga" jelas Mr.Arata.


Seulas senyum terukir naik di bibir Mey, dia mungkin bisa membantu Fatur mempertahankan perusahaannya.


"Oke, sepulangnya dari sini saya akan bekerja lebih keras lagi Mr." Ujarnya penuh semangat.


"Bagus, saya suka semangat dan kerja keras kamu Mey. Untuk sementara biarlah ini sebatas rencana kita, kamu lakukan penelitian tentang produk mereka dahulu. Kalau memenuhi syarat, saya akan bertindak lebih lanjut kepada mereka.


"Siap Mr.!!" sahut Mey penuh semangat.


Kembali ke Negeri kita tercinta.


Si duda dan si galau berkumpul di meja kantin, dengan tampang menyedihkan bin menyeramkan. Lian yang biasanya ganteng pake bingit, kali ini tampil culun dan cupu. Kalau biasanya model rambutnya tersisir rapi, dengan bermacam gaya yang menunjang penampilannya. Kali ini dia hanya menyisir rambut lebatnya layaknya anak magang, yang baru masuk kerja beberapa bulan yang lalu.


"Mana jambul super kece yang selalu bikin kamu kelihatan makin kece itu, panci??" tegur Fatur.


"Jangan banyak ngomong deh duda. Syukur-syukur aku masih kuat ngantor di tengah kegundah-gulanaan hati ku" sahutnya mulai menampakan kesedihan.


"Hadeh, kita nggak jauh beda kali Lian, sama-sama di tingalin. Cuman ibarat penyakit nih, penyakit kamu lebih kronis aja."


"Kamu mah enak sudah baikan sama Mey, kalian juga sudah barengan lagi. Lha aku, selingkuh juga enggak, duluan mau di putusin. Dunia memang kejam" Lian mulai mengeluarkan keluh kesahnya.


"Ngomongin si Mey, dia ke jepang lagi. Sudah empat hari ini nggak pulang-pulang. Janjinya tiga hari doang, gimana aku nggak galau lagi coba."


"Hahaha, se-enggaknya aku punya teman menderita." Lian pun senang.


"Ngomongin pengakit, om Baskoro kapan di operasinya?" tanya Lian.


"Besok sore" sahut Fatur lagi.


To be continued...


~~โ™กโ™กhappy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.