
...Happy reading...
Aku dan kak Uncum tiba diparkiran dan kulihat kak Nanda juga baru saja tiba, mataku memicing dan kulihat ia pergi bersama Tiwi.
"Banyak banget doi lu Nan" ucap kak Uncum.
"oh jadi ini urusan kakak" ucapku kesal.
Aku bergegas berjalan meninggalkan tiga orang menyebalkan itu diparkiran.
"Rani tunggu" teriak seseorang yang ku kenal itu suara kak Nanda, dan terdengar langkah seseorang berlari mendekatiku.
"Ran" ucap kak Nanda menahan lenganku.
"Gak kayak yang kamu lihat kok Ran, kami ketemu dijalan tadi motor Tiwi mogok jadi aku ajakin bareng, motornya masih dibengkel, soalnya kasian cewek malam-malam sendirian" ucap kak Nanda.
"bukannya kakak sendiri yang bilang ga mau bahas Tiwi sewaktu kita berdua" ucapku.
"maaf Ran aku gak bermaksud gitu" ucapnya, aku melepaskan genggamannya dan berjalan cepat menuju sekre, kak Nanda hanya mengekoriku tanpa berani mengatakan sepatah katapun.
***
Para panitia sudah banyak yang pulang sekarang hanya ada beberapa panitia yang tinggal didalam sekre.
"kak Nanda" ucap Tiwi, dan aku langsung menoleh ke sumber suara itu.
"ada apa?" jawabnya lembut.
"keluar bentar yok aku mau ngomong sesuatu" ucap Tiwi menarik tangan kak Nanda.
Tiwi dan kak Nanda berdiri dari duduknya, aku yang sedang menghitung jumlah soal-soal untuk acara besok menghentikan aktivitasku.
"Ran" ucap Yuli memberiku kode untuk ikut keluar.
aku bersembunyi dari balik tembok sedangkan Tiwi dan kak Nanda berdiri berhadapan disamping ruangan poliklinik.
"dia mau ngomongin apa? kenapa harus berjalan sejauh ini dari sekre" batinku, karena jarak sekre ke poliklinik memang lumayan jauh.
"kak Aku pengen ngomong sesuatu ke kakak" ucap Tiwi, terdengar oleh ku cukup jelas.
"ngomong aja" jawab kak Nanda.
"sebenarnya aku udah lama suka sama kakak" ucap Tiwi.
"maaf Tiw aku gak bisa" jawab kak Nanda, dan aku tersenyum bahagia mendengarkannya.
"karena kak Rani kan?" tanya Tiwi, kudengar dengan seksama kak Nanda tak menjawab apapun dari ucapannya.
"trus kita kencan kemarin maksudnya apa?" tanya Tiwi.
"kencan?" batinku.
Aku masih diam dibalik tembok, menguping pembicaraan mereka.
"dan juga tadi kakak bilang ke kak Rani kalau kakak ketemu aku dijalan jelas-jelas kakak yang jemput aku ke kosan" ucap Tiwi, aku menggepalkan tanganku.
"oh jadi yang katanya mau futsal ternyata pergi kencan sama cewek lain" ucapku.
"Ran bukan gitu" ucap kak Nanda mulai melangkah dan aku mundur beberapa langkah.
"dan yang katanya ada urusan dan ketemu dijalan ternyata urusannya jemputin gebetan" ucapku kesal.
"Rani gak gitu Ran" ucap kak Nanda menggelengkan kepalanya.
Aku berbalik dan berlari menuju sekre, ku toleh kebelakang tak ku lihat kak Nanda membuntutiku. Dadaku sesak dan langkah ku percepat.
"Yuli ayo pulang" ajakku mengambil totebagku.
"Tapi Ran kerjaanku belum selesai" ucapnya sambil memegang lembaran soal-soal.
"Udah Yul mending kamu pulang sama Rani, biar aku yang lanjutin" ucap kak Putra.
"Iya Yul kasian Rani" ucap Eka.
"Nanda kampret ngapain sih? kok Rani sampai nangis begini" ucap Yuli mengomel.
Tiba-tiba kak Nanda tiba dan menarik lenganku.
"Yul ayok buruan" ucapku sambil menghapus air mataku.
"Kasih dia waktu" ucap Yuli menarik tangan kak Nanda agar melepaskan genggaamannya dari lenganku.
Genggaman kak Nanda melemah, aku dan Yuli segera meninggalkan sekre, sesekali aku mencari keberadaan Tiwi dan kutemukan ia sedang duduk meringkuk balik tembok poliklinik. Kuabaikan dan kupercepat langkahku dan Yuli ikut mempercepat langkahnya dan kami berlalu dari parkiran.
Aku tiba kamar kosanku, otakku terus berfikir tiada henti, menyusul puzzel atas semua kejadian yang pernah ditanyakan Uci kepadaku, aku yang terlalu cuek dengan sekitarku atau memang aku yang tidak peka dengan gerak-gerik kak Nanda akhir-akhir ini.
***
Semua panitia sibuk dengan jobdesknya masing-masing, berlalu-lalang dan mondar-mandir melakukan tugasnya. Tapi aku hanya duduk menatap selembaran kertas kosong yang tergeletak diatas meja, pikiranku mulai kemana-mana aku ingin bertanya kepada kak Nanda apa yang sebenarnya terjadi tapi aku urungkan karena rasa gengsiku lebih tinggi.
"Ran" sapa seseorang menepuk halus bahu kananku, aku menoleh menengok kearah orang tersebut, aku agak kecewa ternyata itu kak Uncum.
"Kamu mikirin apa kok menung? ntar kesambet loh" ejek kak Uncum.
"Gak kok, gak mikirin apa-apa" jawabku berbohong.
Kulihat semua pintu ruangan pelaksanaan acara sudah ditutup yang artinya acara bedah soal sedang berlangsung, semua tentor sibuk mengajar para pesertanya sedangkan panitia hanya duduk-duduk diluar dan hanya beberapa seksi saja yang bertugas saat acara.
Aku bangkit dari dudukku namun tanganku dicekal oleh kak Uncum, hal tersebut membuatku menoleh kearahnya dengan tanda tanya besar dikepalaku.
"Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu Ran" ucap kak Uncum.
"Mau ngomong apa?" tanyaku penasaran.
"Boleh aku ajak kamu pindah, disini terlalu ramai" ajaknya, aku menoleh kesekelilingku memang banyak panitia pelaksana yang duduk-duduk, mengobrol, memainkan ponselnya, dan ada juga yang tertidur.
Ditengah keramaian itu kulihat kak Nanda diam tanpa melakukan kegiatan apapun, dari dia datang sampai dengan sekarang dia bahkan tak menyapaku seperti biasa, abaikan saja mungkin memang benar ia telah berpindah hati ke Tiwi.
"Ya udah" ucapku pasrah, kak Uncum mulai melangkah sedangkan aku mengekorinya dari belakang dan sampailah kami dilorong kearah gudang. Tempat ini sepi jarang ada yang datang ke sini jadi aku bersikap waspada kalau-kalau kak Uncum mau macam-macam denganku.
"Kakak mau ngomong apa?" tanyaku.
"Emm, Ran, aku bukan orang yang pandai berbasa-basi, mungkin aku langsung ke intinya saja, eemm mungkin kamu sendiri juga sudah tau kalo sebenarnya aku punya rasa ke kamu, mau gak kamu jadi pacarku?" tanya kak Uncum gugup, kulihat beberapa tetes keringan muncul didahi dan diatas bibirnya.
Aku diam mematung memandangan wajah merah kak Uncum, terlihat lucu dan menggemaskan. Tapi aku sendiri tak yakin dengan perasaanku ke kak Uncum sedangkan kalian tahu sendiri kalo sekarang aku sedang bersama kak Nanda, walaupun semalam kami sempat bertengkar tapi belum ada kata-kata putus keluar dari mulutku maupun mulut kak Nanda.
Terdengar langkah berderap, seseorang berjalan kearah kami, aku segera menoleh dan mencari sumber suara tersebut.
"Ayo Ran ikut aku" ucap kak Nanda dan langsung menarik lenganku secara paksa, aku menyeret langkahku tanpa melakukan perlawanan terhadap tindakan kak Nanda.
"Ran kamu belum jawab pertanyaan aku!!" teriak kak Uncum. Aku dan kak Nanda meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata.
Kak Nanda terus menarik lenganku dan membawaku ke basement, sejujurnya aku takut dengan tatapan tajam kak Nanda saat ini matanya seperti elang, ekspresinya datar, dan mulutnya tak bergeming.
Kak Nanda melepaskan genggamannya pada lenganku, aku mengaduh kesakitan kulihat pergelangan tanganku memar karena tarikan paksa yang dilakukan kak Nanda tadi.
Kutatap disekelilingku temboknya basah dan baunya lembab, kulihat tak ada mahasiswa yang berlalu lalang melewati tangga yang berada diatas kami, karena ini hari sabtu dan juga ruangan dibasement jarang dipakai saat weekend.
Kak Nanda melangkah mendekatiku tatapannya benar-benar tajam bahkan wajah ini baru kali ini ia tunjukkan kepadaku. Aku mundur beberapa langkah dan akhirnya langkahku terhenti karena sudah berada dipojokan.
"Jadi sekarang kamu udah mulai nakal ya?"
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...