Meet You Again

Meet You Again
Debaran hati



...****Aku berharap kamu mencintaiku......


...Jangan lepaskan tanganku seperti hari kemarin....


...Dan setiap waktu jantungku berdetak, ...


...berjalanlah bersamaku maka aku tak kan tersesat****...


......................


Mey terpana ketika keluar dari kamar mandi. Sosok pria yang dicintainya terlihat sangat menawan. Mey sempat tak menyangka lelaki inilah yang selalu setia menunggunya dalam waktu yang sangat lama. Memiliki ketampanan di atas rata-rata kenapa masih mau menunggunya? begitulah pertanyaan dari hati gadis ini.


Fatur mengenakan kemeja berwarna hitam, rambut hitamnya sudah tersisir rapi. Aroma khas seorang Fatur pun merebak memenuhi ruangan. Dia nampak sedang fokus mengetik pesan di ponsel seraya bersandar pada sofa di sudut kamar. Entah mengapa, dalam posisi seperti itu pun dia terlihat sangat menarik.


Beberapa detik telah berlalu dan Mey masih terpaku menatap pria itu.


"Hupffh!, tante Mega ngidam apa sih waktu hamil ini orang? itu hidungnya kenap mancung banget. Jauh sekali sama hidungku yang mancung ke dalam" gadis ini mengukur hidung yang di katakannya mancung ke dalam.


"Jangan ngomong sendiri, atau jangan-jangan kamu cewek indigo ya?" celetuk Fatur.


"Iya nih, lagi ngomong sama arwah" jawaban Mey membuat Fatur berpindah lokasi. mengambil duduk di samping tempat tidur, lebih dekat dengan Mey yang sedang bersiap mengaplikasikan make up di wajahnya.


"Hahahaha, kamu takut hantu?" ujar Mey meledeknya.


"Ngawur!! B aja kali sayang" dia berlagak sibuk mengetik pesan.


"Mau B atau C atau D, takut mah takut aja, nggak usah ngeles" masih saja meledek Fatur.


Sejujurnya, Fatur memang rada takut hantu. Demi mengusir suasana menakutkan, dia pun mengalihkan pembicaraan"Buruan dong Sayang, yang lain udah kumpul di lokasi."


"Sabar dong, sepuluh menit lagi kelar."


"Itu keningnya gimana??" Fatur menatap kening sang gadis yang sempat cidera.


"Aman, ketutupan poni kok, selow bos ku."


"Bukan masalah selow Sayang aku, lukanya masih perih nggak?, besok kita ke dokter aja ya."


"Iya bawelll" tmey mendorong tubuh Fatur ke luar kamar"Kamu tunggu di ruang tamu aja, ngoceh terus aku jadi lambang bersiap-siap."


Fatur tertawa kecil, tingkah gadis itu selalu bisa membuatnya tertawa"Ingat, calon istri nggak boleh galak sama calon suami."


"Baru juga calon. Jangan mulai deh Tur, mau cepet nggak?" kerlingan mata sipit itu melirik si duda.


Dengan tertawa kecil pria itu bersandar di sofa ruang tamu dan kembali menatap layar ponsel.


"Lama amat Tur!, bikin adonan bayi dulu ya??" bunyi pesan dari Lian.


"Sembarangan! belum sah nggak boleh mencoblos sebelum pemilu!" balas Fatur.


"Alasanmu tipis banget duda. Ngeles aja kayak angkot. Buruan akh, nggak sopan deh masa pengantin nungguin tamu."


"Cerewet, kamu cowok apa cewek sih ngoceh mulu. Ya usah kalian mulai aja acaranya, ini kami sudah mau on the way kok" Fatur meletakan ponsel di atas meja.


Sambil menunggu Mey keluar kamar, dia berjalan ke balkon. Menatap langit yang tadi di tatap Mey"Terimakasih Tuhan, sekarang semuanya sudah jelas dan kembali seperti sedia kala" gumamnya.


"Fatur...!" panggil Mey.


Yang di panggil nggak menyahut, ternyata dia terhanyut dalam lamunan.


"Faturrrr!!" Mey memanggil lebih keras. Itu anaknya tante Mega kemana sih?, Mey sampai guling-guling di tempat tidur menunggu Fatur menghampirinya.


"Sayaaaanngg!!" jerit Mey lebih keras.


"Iyaaa!!!" sahut Fatur akhirnya. Dia masuk ke kamar, mendapati Mey bermalas-malasan di tempat tidurnya.


Memberengut"Kamu kemana sih? di panggilin nggak langsung datang!."


"Ya elah, malah tiduran di situ. Ayo berangkat!! "Fatur menggendong Mey keluar dari kamar.


"Jawab dulu kamu kemana tadi??aku panggil-panggil juga" Mey masih meminta jawaban Fatur.


"Oh gitu. Tapi kalau di apa-apain juga nggak pa-pa kok, gurau Mey semakin sering menggoda Fatur. Membuat duda beranak satu ini salah tingkah menanggapi perkataan Mey.


Dengan wajah bersemu Fatur menurunkan mey sebelum keluar dari apartemen. Mereka berjalan bergandengan menuju parkiran. Dua pelayan restoran cepat saji yang terletak di depan gedung apartemen Fatur, sedang memperhatikan gerak gerik mereka.


Mereka adalah mata-mata yang di suruh Mega memberikan info ter-update tentang anak tunggalnya.


"Lapor Nyonya, baru saja mereka meninggalkan apartemen den Fatur" lapornya kelada sang majikan.


Nggak perlu waktu lama. Keributan tengah terjadi ketika Mey dan Fatur sudah sampai di kediaman si pengantin baru.


Lian dan Kaila rebutan memperebutkan stik PS.


"Siniin!!'' pinta Kaila.


"Mendingan Kamu ke dapur deh, cewek-cewek itu harusnya di dapur aja yang main ginian cuman cowok-cowok" tolak Lian atas keinginan Kaila.


"Ayang kok gitu sih!?. Kamu mau aku tabok ya kepalanya" ancam Kaila.


"Oh mau nabok, ya udah ini tabok aja" ujar Lian menyodorkan pipinya kepada Kaila.


"Ih kamu nggak asik" sejurus kemudian Kaila meninggalkan Lian sembari menggerutu.


Sementara Vino sang pengantin pria menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah tamunya. Bukannya membantu, Lian justru membuat ruang tamunya berantakan.


"Kalian kalau cuma mau berantem, kalau cuman mau bikin keributan, kalau cuman mau bikin rumah kami berantakan, mending gak usah datang aja deh. Semua kekacauan Ini akhirnya aku yang akan membereskannya."


"Kamu kan sudah punya istri, seharusnya dia yang beresin semua ini, bukan kamu?" sahut Lian tanpa menatap ke arah Vino.


"Kamu salah!. Istri itu harusnya di manja, di sayang. Supaya punya tenaga ekstra pas lagi bikin adonan bayi."


Lian melengos, mentang-mentang sudah sah jadi bebas mau bercinta kapan saja. Sementara Fatur meledek"Hilih!! sejantan apa sih kamu sampai segitunya, meminta tenaga ekstra sama mbak Jova."


"Eh duda. Lama amat sampenya. Olah raga dulu ya kalian"tatap penuh kecurigaan menghujani Mey dan Fatur.


"Kaila, otak Lian harusnya kamu cuci. Di rendam pake pemutih. Mikirnya jorok melulu."


"Dasar Lian!" gerutu Mey seraya menyimpan tas jinjingnya, dan membantu Jova menyiapkan hidangan.


"Aku nggak kenal dia Mey. Makhluk paling egois sejagad raya, mau jadi suami tapi stik game aja nggak di kasih. Pelit!."


"Awwww!!!" seru Vino dan Fatur berbarengan, meledek Lian.


"Lian, nggak seharusnya kamu begitu. Bagaimana kelangsungan hidup kamu nanti, Kaila ngambek tuh" wajah sumringah Vino semakin mengejek Lian.


"Sini sayang, maafkan abang. Jangan ngambek dong sayang, abang khilaf tadi" melepaskan stik dan bergegas menghampiri Kaila.


"Idih kok ke sini?, entar nikah sama stik game aja" Kaila menghindari Lian.


Lian nggak tinggal diam, dengan pelan menghampiri Kaila, di peluknya gadis galak bin judes yang sekarang sudah menjadi kekasih hati"Sorry Sayang."


"Nggak usah sok romantis."


"Sorry, becanda doang tadi." Sudah meminta maaf, namun Kaila tetap mengacuhkan dirinya. Seketika rasa rendah diri itu memeluk hati Lian. Lantas tanya itu pun hadir di dalam hati. Kaila beneran sayang nggak sama dia?


Kaila pernah kangen nggak sama dia?


Kaila pernah cemburu nggak sama dia?


Memikirkan hal itu di sepanjang pesta, mereka bercanda dan bergurau, tentu saja Lian juga ikut bersenang senang dan banyak ngebacot kaya biasanya. Mereka nggak tau bahwa sejak malam itu Lian merasa bahwa perasaanya kepada Kaila mulai turun dan naik.


Dia memang pandai menyembunyikan rasa sakit. Di balik keceriaan dan nyablak nya Lian, adalah sosok yang lemah lembut penuh perhatian dan sensitif.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.