Meet You Again

Meet You Again
Ustadz muda



Perjalanan yang berliku terus menuntun mereka menjadi lebih dewasa dan menempa diri menjadi lebih baik.


Seperti Jova yang dingin akhirnya menjadi hangat setelah kehadiran Vino.


Seperti Kaila yang akhirnya melangkah di luar batas keberaniannya, dan bertunangan dengan Lian.


Seperti Mey yang akhirnya menyerah dengan dendam kesumatnya, dan kembali dalam pelukan Fatur.


Kali ini semesta memberikan penawaran sekaligus ujian kepada Juwita, janda muda beranak satu yang selama ini hidup dalam penuh penyesalan.


"Abah Ismail menelpon Papah. Dia berniat menjodohkan kamu dengan putranya."


Perkataan Papah Subroto melalui sambungan telepon dua hari yang lalu, terus terngiang di benak Wita. Semenjak bercerai dari Fatur tak sekalipun dia berpikir akan menikah lagi, dia hanya terfokus kepada Miya, putri kecilnya.


Pria yang di maksud Subroto adalah Ustadz Wahab. Seorang pemuda yang sering menggantikan sang Abah mengisi pengajian jika sang Abah berhalangan. Dari segi prilaku sudah tak di ragukan lagi.l, dia pria yang sangat paham Agama dan berprilaku baik.


Namun sampai sekarang Wita belum memberikan jawaban kepada sang Papah. Juwita nggak bisa langsung memberikan jawaban. Memang benar dia mengenal ustadz Wahab, namun sangat jarang sekali mereka bertegur sapa.


Siang ini pengajian akan kembali di gelar. Ada banyak warga berdatangan ke masjid untuk mengaji lmu dan mendengarkan ceramah Agama dari kiayi Ismail.


Namun nampaknya kali ini kiayi sengaja meminta Wahab saja yang mengisi pengajian, dengan alasan sekedar ingin beristirahat. Dan seperti biasa, dengan patuh Wahab pun menggantikan beliau.


Cukup lama Wita terhanyut menatap seseorang yang menarik banyak perhatian orang di pengajian itu. Pembawaannya yang tenang dan santai membuat ustadz Wahab tak kalah di kagumi seperti Abahnya.


"Wit" suara yang begitu akrab itu terdengar tak jauh darinya. Perempuan yang sekarang sudah mantap berhijab itu memalingkan pandangan ke arah sang empu suara.


"Iya bu Nyai" sahutnya dengan sopan.


"Sehabis pengajian jangan langsung pulang ya."


Wita menganggukan kepala. Juwita tau hal ini akan terjadi. Pihak Ustadz Wahab pasti menginginkan jawaban darinya.


Selesai pengajian di ajaknya si kecil Miya duduk di pelataran Masjid yang terbuat dari kayu. Bangunan tua itu sama seperti kediamannya sekarang, hampir seluruhnya terbuat dari kayu ulin. Selain memberikan kesan antik bangunan itupun sangat kokoh dan tahan lama. Kebanyakan bangunan di sana memang seperti itu. Mereka memiliki kolong rumah dan bertiang agak tinggi.


Kini sang Ibu nyai sudah berada di sampingnya dan Miya"Miya sayang, mau main sama kak Khadijah nggak?" tawar Bu nyai.


sikecil Miya tampak antusias. Dia memang sangat dekat dengan Khadijah, adik perempuan Ustadz Wahab.


"Mamah" panggil Miya seakan meminta ijin kepada sang Mamah. Dan Wita mengangguk dengan senyuman kepada Miya, tanda dia memberikan ijin kepadanya.


"Kamu sudah mendapat kabar dari Papah kamu?" pertanyaan pun di mulai dari situ.


"Iya Bu nyai, dua hari yang lalu Papah memberitahu saya."


"Bagaimana pendapat kamu?" sebaris kata yang sangat berat Wita jelaskan dan jawab.


Jemarinya beradu dalam pangkuan, tertunduk dengan lidah yang kelu.


"Di jaman Rasulullah, jika ada anak gadis di khitbah dan dia hanya diam saja, berarti dia setuju lho" goda Bu Nyai.


Juwita mengangkat pandangannnya. Hal itu membuta Bu Nyai tertawa kecil" itu di jaman Rasulullah. Tenang saja, Ibu nggak akan menganggap jawaban kamu seperti itu."


"Saya janda bu Nyai" ujarnya pelan.


"Iya kami semua tau" sahut wanita ramah berwajah teduh itu.


"Dan Ustadz Wahab seorang bujangan. Apa yang akan di katakan orang."


"Hidup ini kita yang mejalani, kenapa kamu harus bingung dengan pendapat orang lain!." Perkataan Bu Nyai ada benarnya.


"Dan bagaimana tanggapan Ustadz Bu?. Dia mungkin sudah memiliki gadis yang dia cintai" sahutnya lagi. Status janda yang melekat padanya, membuat perasaan minder begitu betah bersarang dalam pikirannya. Di tambah lagi dia sudah mempunyai seorang putri"Bagaimana Miya akan menghadapi Papah barunya nanti?" bisik hati Wita.


"Nah, betul kan Bu Nyai. Menilik dari pengalaman saya dahulu yang menikahi seorang pria yang mencintai wanita lain, hal itu sangat menakutkan Bu."


Di peluk Bu Nyai tubuh kecil Juwita. Dia tau semua derita wanita ini. Hingga akhirnya dia sampai memilih tinggal di kampung ini. Santi, sang Mamah telah menceritakan semuanya kepada Bu Nyai.


"Allah itu seperti prasangka manusia. Maka berbaik sangkalah kepada-Nya" ucapnya sambil menepuk pelan pundak Ibu satu anak itu.


Di teras rumah yang terletak di samping Masjid nampak Ustadz Wahab ketar-ketir menanti kabar baik dari sang Ibu.


"Hus!!!. Kalau tegang ya kamu bawa wudhu sana" resah dan gelisah Wahab tercium Abah Ismail.


"I--iya bah" sahutnya tergagap.


Perjodohan ini bermula dari sudut pandang Abah ismail terhadap Wita, yang mengalami banyak perubahan baik. Dia nampak benar-benar berniat memperbaiki akhlak dan prilakunya.


"Orang seperti Wita membutuhkan seorang pemimpin yang akan membantunya ke jalan yang semakin lurus. Dan hal itu Abah Ismail temukan pada diri sang Anak, yang sering tertangkap pandangannya sedang tertegun menatap Wita dari kejauhan.


Sebelum hal itu berujung fitnah dan dosa, lebih baik mereka di satukan dalam sebuah ikatan yang halal. Jika memang berjodoh.


Tak berapa lama Bu Nyai kembali ke kediamannya, di ikuti oleh Wita bersamanya. Wanita muda itu pamit diri kepada Abah Ismail dan keluarga. Dia nampak semakin menunduk ketika Ustadz Wahab datang dari tempat wudhu masjid.


"Ayo Miya, kita pulang dulu" ujarnya pada sang anak. Dan setelah berpamitan pula Miya kepada mereka, akhirnya Wita dan Miya pun undur diri.


Dengan raut wajah penuh tanya Wahab mendekati sang Ibu. Dan Bu Nyai tersenyum tipis kepadanya.


"Gimana konsultasi sesama perempuannya??" sebelum Wahab bertanya sang Abah telah lebih dulu bertanya pada sang istri.


"Wita meminta waktu tiga hari" jawab Bu Nyai.


"Hmmm, nampaknya Allah masih menguji kesabaranmu Nak."


"Kok kesabaran Wahab Bah. Kan Abah yang memulai perjodohan ini" ujarnya sambil duduk bersandar di kursi rotan teras rumahnya.


"Iya, memang Abah. Kamu lupa dengan pribahasa ada sebab ada akibat."


Pria berpeci putih itu melirik sang Abah. Dia mana berani menatap langsung wajah sang Abah. Dia ingin bertanya tentang pribahasa ala-ala Abah barusan, namun Wahab memilih mengurungkan niat itu, dia lebih memilih bersabar untuk tiga hari kedepan saja, dari pada harus membahas pribahasa itu bersama Abah. Akan sangat panjang nanti ceritanya. Sedangkan waktu sudah semakin sore, dia harus segera bebersih diri dan bersiap kembali ke Masjid untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.


"Hihihi" Bu Nyai masih saja tersenyum melirik anak sulungnya .


"Kenapa Bu?, ada yang aneh di wajah Wahab?."


"Iya tuh Bang, Khadijah juga bisa lihat kok" celetuk sang adik.


"Beneran De?, De kahdijah emang lihat apaan?" tanya Bu Nyai. Dia tau bahwa sang adik akan menggoda sang Abang. Dari gelagatnya saja, mereka sudah dapat merasakan ketertarikan Wahab terhadap Wita.


"Ada pelangi di matamu!!" sahut Abah ngeloyor berjalan, berbalik meninggakan istri dan anak-anak di teras depan.


Tentu saja perkataan Abah menimbulkan merah bersemu pada wajah Wahab.


"Hehehhehe, kan bener kan Bu!. Abah aja sudah tau" ledek Khadijah lagi.


Wahab mengulum bibirnya. Dia sangat malu sekarang. Nggak ada yang bisa dia katakan sebagai bentuk pembelaan kepada Ibu dan Adiknya. Pemuda ini lebih memilih masuk ke dalam rumah dengan niat awalnya tadi, mandi dan segera ke Masjid.


To be continued...


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like ,vote dan komen.


Salam anak Borneo.