
Zizi dan Arick telah selesai dengan urusan ranjangnya..mereka kini tengah duduk di sofa ruangan Arick dengan tangan Arick mengelus dan sesekali me remas squisy milik Zizi.
Zizi tentu tidak tinggal diam saja..dia menepis tangan nakal Arick tapi tetap saja namanya Arick tidak kenal takut sebelum Zizi keluar taringnya.
"Honey kau mau makan apa hm?" Tanya Arick sambil membelai rambut lembut nan wangi Zizi.
"Aku mau makan yang pedas apa saja yang penting pedas" Zizi mengeluarkan pendapat nya.
"Tapi jangan terlalu pedas ya..kasihan baby" Arick mengingatkan.
"Iya" jawab nya singkat.
"Baiklah aku pesankan dulu ya..kau mau istirahat atau mengulangi nya lagi hm?" Tanya Arick menggoda Zizi.
Plakkkk.....
"Nggak usah kemesuman..cepat kerja atau nggak aku pulang loh" ancam Zizi
"Iya honey.. galak banget sih istriku ini" Arick mencolek dagu Zizi yang membuat Zizi merona.
"Tau ah" Zizi seolah acuh tak perduli.
Arick kembali ke meja kerjanya dan tertawa melihat wajah menggemaskan nya Zizi..astaga ingin sekali dia ciumi wajah Zizi tapi tidak mungkin karena nanti yang ada dia yang di hajar Zizi.
"Honey kau mau bikin teh tidak.. aku pesankan ya?" tawar Arick.
"No" jawab Zizi singkat.
"Baiklah" Arick.
Zizi merebahkan tubuhnya di atas sofa ruangan Arick..dia memejamkan matanya karena merasa ngantuk..gaun yang dia kenakan sedikit tersingkap bagian paha nya juga bagian kancingnya eebuka satu di bagian atas tanpa Arick sadari karena dia sedang fokus pada laptopnya dan menganggap Zizi tengah bermain ponsel.
Tak berapa lama kemudian Zemi datang dengan membawa seorang tamu yang memang jadwal nya hari ini akan melakukan pertemuan dan melakukan meeting juga.
Tokkk...
"Masuk " jawab Arick tanpa mengalihkan perhatian pada laptop.
Ceklek.....
Pintu terbuka terlihat lah Zemi dari balik pintu.
"Permisi misteri saya membawa tamu anda" Zemi.
Arick mendongak dan melihat Zemi tengah berdiri di samping pintu dengan seorang pria yang usianya sekitar 50 tahunan tengah menatap sofa yang dimana istrinya tengah tidur.
Arick mengikuti arah tatapan mata tamunya dan terjatuh pada Zizi istrinya..astaga berani sekali si tua Bangka itu melihat istrinya..oh shitt astaga kenapa dia begitu ceroboh.
Arick bangkit dan mendekati Zizi kemudian dia mengangkat Zizi dan memindahkan nya ke kamar dan menyelimuti nya setelah membenarkan gaun dan kancingnya.
"Sial..kenapa aku bisa ceroboh seperti ini sih..kurang aja berani sekali dia menatap tubuh istri ku..awas saja kau tua bangka" Arick membatin dengan geram.
Setelah memastikan bahwa Zizi aman..kini Arick keluar dengan raut wajah yang tak bersahabat..dia langsung menatap tamunya dengan tajam dengan tatapan membunuhnya.
Zemi juga tak menyadari bahwa di sofa ada Zizi matilah kau Zemi..dia hanya berharap semoga dia tak di pecat.
"Mister maaf saya tidak tau jika nona ada di sana tadi..maaf mister" jelas Zemi yang memang baru sadar setelah Arick memindahkan Zizi.
Arick tak menjawab namun tatapannya terkunci pada tamunya yang tak lain adalah kliennya sendiri..sungguh ingin sekali Arick menguliti kliennya itu.
"Kau boleh keluar Zemi" ucap Arick pada Zemi.
"Baik mister" Zemi patuh.
Setelah kepergian Zemi kini Arick mendekati sang klien..klien Arick juga salah tingkah di tatap begitu menyeramkan oleh Arick..astaga kenapa dia begitu menyeramkan sih.