
"Fiora aku titip mereka padamu.. jagalah mereka layaknya keluarga mu sendiri..jika bisa bantulah Zizi bersatu dengan Arick aku tau mereka masih memiliki perasaan satu sama lain"
"Anda tenang saja tuan besar saya akan berusaha semampu saya untuk menyatukan mereka kembali"
"Terimakasih atas bantuannya selama ini Fio..kau wanita hebat"
"Terimakasih kembali tuan besar..suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa mengabdi dengan anda"
"Kau dan ibumu benar-benar tidak ada bedanya..astaga aku jadi merindukan nya..dia sudah seperti adikku sendiri..huhh takdir manusia tidak ada yang tau..bisa jadi besok aku yang meninggalkan kalian terlebih dulu kan hahahaha"
"Tuan besar ini bicara apa sih.. takdir hanya tuhan yang tau tuan..manusia hanya bisa menjalani dan mengikuti kemana takdir akan membawanya"
"Kau benar..aku pulang dulu nanti jika Arick keluar katakan aku sudah kembali karena ada urusan..biarkan dia menginap"
"Baik tuan besar"
Tuan besar meninggalkan rumah Fiora..Fiora sendiri memilih masuk kamar nya karena sepertinya Zizi akan tidur dengan Arick biarkan saja..semoga mereka bisa bersama lagi.
Di Kamar Twins........
"Kau tak apa?" tanya Arick masih khawatir.
"Pergilah" usir Zizi pelan.
"Kau sakit tapi kau masih keras kepala..astaga"
"Lalu aku harus apa hah..aku harus mengiba di depanmu dan bersujud meminta bantuan begitu..cukup sekali dan tak akan ada lain kali..pergilah sudah malam"
"Tidak sebelum kau benar-benar sehat..terserah kau mau menghajar ku juga aku terima saja"
"Sialan kau Arick..apa maumu hah?"
"Mauku...dirimu" bisik Arick di telinga Zizi.
"Si..sia..lan"
"Sudah lebih baik kau tidur saja aku tau kau lelah biar aku yang menjaga mereka"
"Pu..lang lah"
"Sekali lagi kau mengusirku aku akan mencium mu"
"Jangan melantur pula__mmmmmpp"
Arick benar-benar mencium Zizi dan membuat Zizi bergetar hebat..namun kali ini bukan getaran ketakutan melainkan getaran di hatinya yang semakin menjadi.
Arick melepaskan pagutannya ketika Zizi mulai sesak nafas..Arick kembali mendekatkan bibirnya guna untuk memberi nafas buatan karena Zizi kesusahan dalam bernafas.
"Sudahlah Zi istirahat lah aku tak mau kau sakit lagi"
"Huhh"
Zizi memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang..Zizi menarik selimut sebatas leher sebagai bentuk pelindung diri karena seperti nya Arick akan menginap mengingat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan mereka berdebat tanpa mengenal waktu.
Arick memandangi Zizi yang membelakangi nya dengan gemas..ingin rasanya dia peluk dan di uyel-uyel saking gemasnya dengan tingkah ibu dari anak-anaknya.
"Good night honey..have a nice dream" ucao Arick sambil merebahkan tubuhnya di samping Zizi.
Zizi masih belum tidur bisa mendengar suara Arick..jujur dia tak bisa berdekatan terlalu lama tapi dia akan mencoba untuk membiasakan diri berdampingan dengan Arick demi anak-anak.
Arick memejamkan matanya dan mengarungi alam mimpi dengan senyuman di bibirnya..dia sudah bahagia bisa tidur satu ranjang dengan wanitanya..ah wanitanya bahkan Arick sudah mengklaim Zizi wanitanya.
"Aku benar-benar gila hahah" batin Arick terkekeh mengingat ciuman tadi.
"Rasanya masih sama seperti dulu..astaga otak ku kemana-mana..shitt"