ARICK THE MAFIA KING

ARICK THE MAFIA KING
Ep_24



1 jam berlalu Arick masih menunggu dengan cemas di depan ruangan penanganan..hingga tak berapa lama kemudian ruangan itu terbuka dan terlihatlah seorang dokter kwluar di barengi dengan sebuah ranjang yang hendak di dorong keluar oleh dua orang suster.


"Zizi"


"Tuan..jangan khawatir kondisi pasien saat ini sudah lebih baik..hanya saja sepertinya pasien sempat mengalami retak tengkorak belakang terlihat dari bekas jahitannya yanh kembali sobek..maaf sebelumnya apakah pasien sempat mengalami kekerasan atau benturan hebat di tengkorak bagian belakangnya tuan karena kondisi tadi sepertinya menimbulkan sedikit kesulitanbagi kami dalam menjahit kembali luka itu karena luka itu sepertinya cukup dalam"


(Author cuma ngarang ya gaes jangan di bully pissss).


Arick terdiam..dia tak tau harus berkata apa..luka iti di dapat Zizi karena dia yang memukul nya menggunakan balok kayu hingga menyebabkan Zizi koma dan hilang ingatan..sungguh itu tidak dia sengaja.


"Ya dia pernah mengalami nya dok..7 bulan yang lalu"


"Baiklah..sebaiknya untuk sekarang jaga kondisi pasien karena mungkin setelah ini pasien akan sering mengalami sakit di kepalanya bahkan sampai tak sadarkan diri..kalau begitu saya permisi dulu tuan tidak perlu khawatir pasien sudah baik-baik saja hanya menunggu sadar dari biusnya"


"Hm..terimakasih"


Setelah kepergian dokter Arick menuju ruangan dimana Zizi di bawa tadi..setelah sampai Arick melihat seorang suter tampak tengah merapikan selimut pada tubuh Zizi.


Arick mendekat dan suster itu undur diri karena pasien sudah ada yang menemani..Arick melihat keadaan Zizi entahlah apa yang harus dia rasakan dengan melihat keadaan gadis di hadapannya ini..bukankah ini yang Arick mau untuk membuat Zizi menderita lalu kenapa dia tidak bahagia..arkhhh sialan dia tidak suka keadaan ini.


"Seharusnya aku senang melihatmu menderita Zi tapi kenapa aku tak bisa..aku benar-benar jahat telah menghianati mommyku demi belas kasih ku padamu..aku semakin membencimu sialan"


Arick semakin tak terbendung lagi rasa bersalahnya pada sang mommy..dia seakan-akan menjadi penghianat yang merasa iba dengan anak dari si pembunuh ibunya sendiri.


Di saat Arick tengah duduk di sofa ruangan itu ponselnya berdering..Arick menjawab panggilan dari asisten kepercayaannya.


"Hm"


"......."


"......."


"Datanglah"


"...."


"Hm"


Arick meletakkan ponselnya di atas eja yang ada di depan sofa ruangan itu..Arick pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang tampak seperti benang kusut.


Zemi sudah sampai di depan ruangan dimana Zizi di rawat dia mengetuk pintu ruangan Zizi dan tak berapa lama kemudian pintu terbuka terlihatlah seorang pria yang sepertinya baru saja membuka matanya.


"Miater ada hal penting yang ingin saya sampaikan"


"Kita bicara di rooftoof saja"


"Baik mister"


Arick dan Zemi menuju rooftoof gedung rumah sakit itu agar lebih leluasa dalam berbicara..dia tak mau pembicaraan mereka di dengar orang lain dan malah merugikannya nanti.


Sampailah mereka di rooftoof..Arick bersandar di pinggiran di ikuti Zemi..Zemi mulai bercerita mengenai penyerangan yang terjadi di kediamannya..Arick awalnya terkejut tapi sudah terjadi juga dia bisa apa..di saat itu dia bahkan tak ada di rumah.


"Silahkan dengarkan iai rekaman ini mister"


"Baiklah jika memang ini petunjuk yang kita miliki maka simpan salinan rekaman ini Zemi..aku tak mau Zizi mendengar atau tau mengenai penyerangan hari ini".