
"Zi..sudah belum?"
"Ya..sudah..sebentar"
Zizi membuka pintu kamar ganti dan melihat Arick di depannya dengan penampilan yang terlihat santai namun menambah ketampanannya.
"Zi are you ok?" tanya Arick ketika melihat Zizi hanya melongo.
"Ah..ya..maaf"
"Baiklah ayo"
Mereka keluar dari hotel tempat mereka menginap menuju tempat tujuan mereka..sepanjang perjalanan mereka hanya diam..Arick memang tak banyak bicara dia tak suka keramaian atau kebisingan jadi dia memilih diam dan fokus menyetir.
Sedangkan Zizi..dia juga ikut diam takut mengganggu fokus Arick..ingin sekali Zizi berucap tapi lagi dan lagi dia tak mampu dan tak berani.
Sampailah mereka di tempat tujuan..taman dekat pantai yang memiliki pemandangan indah di malam hari karena banyak lampu hias di sepanjang jalan menuju pantai juga tamannya.
Zizi berbinar-binar melihat keindahan alam yang begitu memanjakan matanya..senyum cerah terlihat di wajahnya..wah begitu indah.
"Ayo..kau suka?"
"Suka..terimakasih Arick"
"Hm..ayo"
Arick dan Zizi menuju taman itu setelah memesan beberapa camilan untuk menemani malam indah nya.
Zizi erus melihat ke arah pantai dimana pantai itu terlihat sangat indah di matanya..lampu hias kerlap kerlip di setiap sisinya begitu memanjakan setiap pengunjung..romantis dan sangat cocok untuk melamar seseorang.
"Arick..terimakasih atas kebaikanmu padaku..maaf aku belum mengingat siapa diriku"
"Kau bicara apa..tidak usah di pikirkan nanti juga kau ingat..perlahan-lahan saja"
"Aku takut kau terbebani oleh kehadiranku"
"Tidak sama sekali"
"Benarkah?"
"Kau lapar?" tanya Arick mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah kau mau makan apa?"
"Terserahmu saja Arick"
"Baiklah"
Aricke memesan makanan untuk mereka berdua..dia hanya ingin mengalihkan perhatian Zizi dari perbincangan itu..sungguh dia ingin sekali membekap mulut Zizi tapi dia sadar gadis itu pasti akan ingat suatu sata nanti dia harus sabar.
*
*
*
"Ternyata pemandangannya indah seklai Arick"
"Ya..pulang sekarang?"
"Bisakah sedikit lebih lama lagi Arick?"
"Baiklah"
Akhirnya Arick dan Zizi menuju pantai dan duduk di pasir sambil sesekali melempar candaan ralat hanya Zizi karena tidak memiliki selera humor..maklum balok kayu.
Di saat mereka masih asik dengan duduknya di saat itu pula seseorang tengah mengincar mereka terutama Arick..orang itu sangat membenci Arick entahlah masalah apa antara mereka hingga Arick banyak di benci.
"Sekaranglah satanya pembalasanku bajingan" ucap orang itu sambil memegang tongkat besi di tangannya.
Orang itu mendekati Arick dan Zizi ketika melihat ada peluang kecil untuknya menyerang..pasalnya saat ini Arick tengah fokus pada panggilan telepon dari Zemi dan Zizi sendiri masih asik bermain pasir karena memang keadaannya terang meakipun malam karena lampu-lampu di sana begitu terang.
Orang itu mendekati Arick sambil mencengkram tongkat besi yang dia pegang..dia sudah sangat ingin melihat Arick mati di tangannya sendiri..dia akan membalaskan kesakitan orang yang dia sayangi.
"Kali ini kau tak akan lolos bedebah..kau akan mati di tanganku" batin orang itu yang siap mengayunkan tongkat besi itu pada kepala Arick.
Di saat bersamaan terlihat Zizi yang melotot tak percaya karena pemandangam di depannya yang begitu menengangkan..Zizi berlari ketika tongkat besi itu siap mendarat di kepala Arick namun sayang dia mengorbankan dirinya untuk melindungi Arick.
"ARICK AWASSSSS"
Bughhhh.....