
"Ya jangan lengah"
"......."
"Hm..pastikan semuanya segera selesai"
"......"
Arick menutup panggilan dari anak buahnya..dia maaih terus menanti kabar tentang kemajuan informasi yang dia minta mengenai Zizi.
"Aku akan membuatmu menderita sampai kau memohon untuk mati padaku..kau hadus merasakan apa yang ibuku rasakan" ucap Arick dengan sorot mata tajamnya menatap lurus kedepan.
Sedangkan tanpa Arick sadari ternyata sedari tadi Zizi telah berdiri di belakang Arick dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Apa dia tak salah dengar..ingatan macam apa ini tuhan..apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupannya..dia benar-benar tak tau harus bagaimana dan harus apa.
Zizi menormalkan kembali nafasnya yang memburu..dadanya sesak,kepalanya berat sedikit pusing.
"Arick..maaf lama"
"Sudah..makanlah"
"Terimakasih"
Zizi tersenyum melihat sikap ramah Arick padanya..namun dalam hatinya dia masih terus bertanya-tanya rahasia apa yang Arick sembunyikan darinya.
Benarkah pria di depannya akan menghancurkan hidupnya dan membuatnya memohon kematian padanya..tuhan kenapa mencintainya harus sesakit ini.
"Makanlah Zi..kau butuh tenaga untuk esok"
"Ya..kau benar..aku butuh tenaga"
"Hahaha kau ini"
Arick mengusap kepala Zizi..dia berusaha seromantis mungkin pada Zizi hingga tak menimbulkan kecurigaan.
Arick makan sambil sesekali memperhatikan Zizi yang juga tengah makan..Arick peka ada sesuatu yang mengganjal pada Zizi..dia tau raut wajah Zizi sedikit berubah juga sorot matanya berubah tak seperti tadi sebelum dari toilet.
"Apa aku melewakan sesuatu..sepertinya gadis ini tengah memikirkan sesuatu" batin Arick menelisik.
Selesai dengan makan malamnya mereka memutuskan untuk kembali ke kamar hotel..wajah Zizi sedikit pucat dia juga kelihatan sedikit susah bernafas..Arick merasa aneh dengan gelagat Zizi.
"Ah..ya..im ok"
"You sure?"
"Hm..ya"
"Ok..istirahatlah..jika butuh sesuatu katakan padaku"
"Ya..terimakasih"
Arick menuju sisi ranjang di sebelah Zizi..mereka satu ranjang namun tak ada kegiatan lain hanya tidur..beneran deh.
"Arick..jika memang mencintaimu begitu menyakitkan aku akan berusaha menggapainya meski harus berdarah-darah demi kau..aku iklas karena hanya kau yang ku punya di dunia ini" Zizi membatin sambil menghapus lelehan bening di pelupuk matanya.
Skip.......
Pagi pun tiba..Arick terbangun tapi tak menemukan keberadaan Zizi..dia heran kemana gadis itu pergi pagi-pagi begini.
Suara pintu terbuka kemudian terlihatlah gadis yang dia cari tadi tengah memegang nampan yang berisikan kue.
"Kau sudha bangun..maaf aku tadi ke dapur hotel untuk membuat kue ini..maaf juga tidak izin dulu"
"Hm..jangan di ulangi"
Arick melihat Zizi yang seperti ketakutan langsung mengajaknya duduk..dia membawa Zizi duduk di sofa agar tak terlalu mencekam.
"Maaf..aku tak marah padamu hanya lain kali jangan begini lagi ya jika terjadi sesuatu padamu bagaiman..kau juga belum sehat betul"
"Iya maaf"
Zizi hanya tersenyum kecut mendengar cicitan Arick..entahlah meski ada rasa sakit tapi dia juga suka dan hangat ketika di perhatikan oleh Arick meski perhatian itu hanya bualan semata.
"Meski aku tau kau hanya ingin menyakitiku tapi aku suka dengan perhatianmu..biarlah aku berkorban meski aku sendiri harus merasakan berkali-kali lipat sakit itu seorang diri"
Zizi tersenyum dan memakan kue yang dia buat bersama dengan Arick di sampingnya..dia senang bisa melihat wajah tampan Arick.