
Beberapa bulan kemudian setelah kejadian penyerangan itu kini Arick dan Zizi tinggal di mansion Arick yang ada di kawasan daerah dekat villa kematian.
Itu Arick lakukan agar semakin banyak penjagaan untuk Zizi apalagi sekarang Zizi sudah mengingat sepenuhnya siapa dirinya yang sebenarnya..Arick tak membiarkan Zizi pergi karena penderitaan Zizi telah dimulai dari sekarang.
"Permisi tuan muda nona Zizi tidak mau makan kami sudah membujuknya tapi nona masih kekeh tidak mau makan"
"Huhh..biarkan saja dan tinggalkan makanannya di kamar nanti juga dia makan sendiri"
"Baik tuan..permisi"
Arick masih asik di ruang kerjanya ya selama beberapa bulan ini dia tidur di ruang kerjanya karena Zizi pasti mengamuk ketika melihat wajahnya..sebenarnya Arick bisa saja menyiksa Zizi tapi entahlah tiba-tiba rasa iba menjalar di relung dadanya sungguh dia benci rasa itu.
"Jika kau masih berulah lagi maka aku tak akan tinggal diam Zizi..kau ingin melihatku menyiksa dirimu baiklah akan ku lakukan"
Arick beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar Zizi..dia sudha tak tahan melihat dan mendengar tingkah polah gadis itu..dia muak ingin mengakhiri namun tak bisa.
Sementara itu di dalam kamar sejak sadarnya dia dari bius waktu kejadian itu Zizi semakin menjadi pendiam..dia benci dengan Arick tapi hatinya berkata tidak mampu membenci pria itu.
"Untuk apa menampungku di sini..kenapa tidak membunuhku saja seperti dia membunuh orangtuaku hiks..aku membencimu Arick tapi aku juga mencintaimu..sial"
Zizi hanya memandangi luar jendela kamarnya..dia menjadi pribadi yang pendiam dan tak banyak bicara tidak seperti dulu yang masih bisa ceria.
Di saat Zizi tengah asik dengan lamunannya tiba-tiba pintu kamarnya di buka dan terlihatlah laki-laki yang sudah membuatnya kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya masuk kedalam kamar nya dan melihatnya dengan tatapan tajam nan menusuk.
"Sudah berani bertingkah kau ternyata?" ucap Arick tajam.
"Apa kau tak mendengarku Zi?"
"Hm"
"Jangan mengujiku gadis sialan"
"Lalu apa maumu?"
"Jangan banyak bertingkah dan habiskan makananmu jika tidak kau akan menyesal"
"Terserah kau saja"
Arick benar-benar terpancing oleh sikap dingin Zizi..dia mendekati Zizi dna menarik kasar rambut Zizi dan menyeret Zizi hingga Zizi terseok-seok mengikuti Arick.
Arick membawa Zizi ke suatu ruangan dimana dia sering menyiksa bawahannya jika lalai dan berani memberontak..dia membawa Zizi dengan masih menjambaknya hingga air mata Zizi mengalir tiada henti namun tak ada suara hanya pasrah akan nasibnya.
Sampailah mereka di ruangan khusus itu..Arick melempar kasar tubuh Zizi ke lantai..dia mencengkram rahang Zizi hingga Zizi meringis kesakitan..sudah kesekian kalinya Arick berbuat kasar padanya.
"Kau benar-benar mengujiku gadis sialan..harusnya aku membunuhmu di hari dimana orangtuamu menghabisi ibuku tapi aku tak melakukan itu karena aku ingin kau menderita dan memohon kematian padaku tapi sepertinya kau tidak takut mati ya, baiklah akan ku siksa kau hingga aku puas"
Zizi hanya diam mendengarkan..jika Arick tau bagaimana perlakua orangtuanya padanya apakah dia masih akan menyiksa dirinya.
Zizi pasrah akan nasibnya..salahkah dia menjadi anak dari orang yang sudah membunuh ibu Arick..dia bahkan tak tau ada masalah apa antara ibu Arick dengan kedua orangtuanya tapi memanglah nasibnya harus menderita..dia terima dan pasrah.