
Zizi dan yang lainnya telah sampai di rumah Fiora..awalnya Arick ingin membawa Zizi dan anak-anaknya ke rumahnya saja yang ada di negara M tapi setelah mendengar penjelasan dari sang Daddy Arick mengurungkan niatnya.
Arick hanya bisa menatap Zizi dan kedua anaknya dengan hati yang bahagia namun pilu.
Bahagia karena bisa melihat secara langsung bahkan merasakan genggaman anak-anaknya tapi pilu karena tak bisa tinggal bersama bahkan harus mendapatkan penolakan dari Zizi.
Arick tetap akan mengunjungi dan membujuk Zizi agar mau tinggal bersama bahkan Arick berjanji tidak akan menyentuhnya sebelum Zizi mengijinkannya sendiri.
Tapi sayang..Zizi tetaplah Zizi..dia tak mau bahkan menolak mentah-mentah tawaran dan janji manis Arick..Zizi masih belum bisa mempercayai Arick terlebih Arick adalah tipe pria tempramen.
Zizi tak mau anak-anaknya menjadi korban selanjutnya meski sebenarnya itu hanya pemikiran Zizi saja tapi demi keamanan anak-anaknya Zizi harus mengambil keputusan itu di tambah lagi mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Dad Zizi menidurkan anak-anak dulu ya..maaf Zizi tinggal" pamit Zizi pada tuan besar.
"Tidak apa-apa nak..Arick bantulah Zizi dia pasti kerepotan"
"Tidak usah dad"
"Jangan menolak nak..itu sudah kewajibanArick juga sebagai ayahnya"
"Baiklah"
Zizi melangkah ke kamar si kembar sementara Arick mengedipkan matanya pada sang Daddy sebagai bentuk terimakasih atas dukungan nya.
Arick melangkah menuju kamar si kembar..dia melihat sebuah box bayi besar di sisi kanan nya ada ranjang sepertinya itu tempat Zizi tidur.
Pikiran Arick sudah kemana-mana..dia bahkan sampai berpikir dia tidur di ranjang yang sama dengan Zizi di pelukannya dan ketika anak-anaknya terbangun dia dan Zizi akan menidurkan mereka dengan kehangatan astaga sungguh indah khayalan sebagai keluarga bahagia dalam benak Arick.
"Jangan hanya bengong di situ..gendong Darrel aku akan membuatkan susu untuk mereka" ucap Zizi datar dan dingin.
"Baiklah mommy" jawab Arick dengan senyum menggoda.
Zizi hanya berdecak sebal..dia kesal dengan sikap Arick yang sekarang..apa sebelumnya dia terbentur sesuatu hingga sikapnya menjadi berbeda.
"Jaga sikapmu Arick"
"Why honey?"
"Shut up"
"Jika ingin berdebat nanti saja setelah anak-anak tidur atau kau mau mengulang kembali malam itu hm?"
"Brengsek.. pergi"
Arick semakin mendekati Zizi..entah kenapa Arick sangat ingin memeluknya apakah terlalu dalam perasaan rindu yang Arick rasakan terhadap Zizi.
Grep....
Arick memeluk Zizi tanpa aba-aba..sebelumnya Arick sudah membaringkan Darrel di samping Darren lalu Arick bergegas mendekati Zizi dan merengkuhnya.
Zizi yang mendapatkan pelukan tiba-tiba seperti itu tentu saja terkejut..tubuhnya menegang bahkan kaku tak bergerak. tak lama kemudian getaran mulai Arick rasakan dari tubuh Zizi dan membuatnya melepas pelukan itu.
"Maaf..maafkan aku Zi..aku terlalu merindukan mu hingga lepas kendali..maafkan aku"
"Pe.. pergi.. pergi Arick"
"Zi are you ok?"
Arick melihat Zizi seperti kesulitan bernapas..Zizi terlihat memegangi dadanya dan sesekali memukul kecil dadanya..sungguh sesak sekali nafasnya.
"Hey Zi..kau baik-baik saja..astaga hey tenanglah tarik nafas perlahan lalu buang ayo Zi lakukan apa kataku"
Zizi melakukan apa yang Arick perintahkan..sial jika saja dadanya tidak sesak karena ketakutan berlebih seperti ini pasti dia akan menghajar Arick dengan tangannya sendiri.