
Hari yang terang telah berganti gelap..Zizi masih di atas ranjang dan tak sedikitpun beranjak..dia hanya beranjak ketika hendak mengganti pembalut nya juga kencing.
Arick selalu sigap menemaninya kadang jika Zizi terlelap dia akan bermain sebentar dengan kedua anaknya..dia tak boleh egois melupakan anak-anaknya.. bagaimana pun mereka juga butuh perhatian nya menggantikan Zizi.
"Ya dad"
"........"
"Tidak dad..Zizi hanya nyeri datang bulan saja"
"........"
"Iya dad..tidak udah khawatir"
"......."
"Akan Arick usahakan secepat mungkin dad..setelah si brengsek itu habis maka Arick akan menikahi Zizi"
"........"
"Iya dad..Daddy persiapkan saja..Arick akan ikut kalian saja"
"......"
"Ya sudah tutup dulu"
"....."
"Iya dad"
Arick menutup saluran telepon nya..dia meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian dia berbaring memeluk Zizi..dia usap perut Zizi hingga mulai tenang.
Arick jadi berfikir apakah rasa sakit yang Zizi alami saat melahirkan lebih sakit dari nyeri haid..dia jadi bertanya-tanya bagaimana rasanya mendampingi Zizi ketika melahirkan.
Mengingat itu dia jadi kembali merasa bersalah karena ulahnya Zizi harus menderita dan berjuang melahirkan kedua anaknya.. bagaimana kalau saat itu Zizi tidak selamat..astaga pikirannya melayang entah kemana.
"Cepatlah sembuh honey..aku khawatir dan merasa bersalah"
*
*
"Arick..sejak kapan kau ada di sini?"
"Hm.. sejak kau terlelap honey..apa masih sakit?"
"Sedikit..maaf aku merepotkan mu"
"Hey jangan berkata begitu..aku tak suka honey..kau segalanya bagiku..apapun akan aku lakukan untukmu..kau dan twins adalah prioritas utama ku..aku mencintaimu saat sehat maupun sakit..takkan pernah aku berpaling darimu honey"
"Thanks Arick sudah merawat ku"
"Sama-sama sayang"
Arick membantu Zizi turun dari ranjang..dia membantu Zizi ke kamar mandi setelahnya menggendong Zizi ke bawah untuk makan..dia tak mau Zizi bertambah lemas karena tidak terisi makanan.
Selesai makan Zizi dan Arick duduk di depan ruang tv..mereka bercerita sejenak..Zizi memandangi Arick dengan tatapan kagum.
"Arick"
"Hm?"
"Maukah kau menyanyi untukku?"
"Menyanyi?"
"Hu'um..mau?"
"Sedikit saja..bagian reff juga tidak apa-apa.. please"
"Suaraku jelek honey..aku bahkan tidak pandai menyanyi"
"Tapi aku ingin mendengar kau menyanyi"
"Astaga..baiklah tapi jangan marah jika suaraku jelek"
"Tidak apa-apa"
"Mau lagu apa?"
"Emmm..lagu apa saja yang kau bisa"
"Benar.. bagaimana jika twinkle twinkle Little star?"
"Ck..jangan bercanda"
"Hahaha baiklah"
*
*
"Bagaimana suaraku?"
"Bagus..aku suka"
"Jangan meledek honey"
"Serius Arick..suaramu enak di dengar"
"Benarkah..kau tidak bohong?"
"Tidak..lain kali nyanyikan lagi lagu yang lebih romantis"
"Haha baiklah nyonya"
Mereka terus bercerita dan saling menggoda satu sama lain kadang Zizi kesal dengan ocehan Arick yang tak jauh dari ranjang..astaga dia sangat mesum.
"Arick"
"Ya honey?"
"Apa sebelumnya kau pernah memiliki kekasih?"
"Never"
"Jangan bohong"
"Serius honey..aku tak pernah memiliki kekasih..baru kau wanita yang dekat dan mampu meruntuhkan tembok yang ku bangun dengan kokohnya"
"Ck..gombal"
"Hey aku serius..kau yang pertama dalam segala hal yang pernah aku jalani"
"Benarkah.. bagaimana jika kau berbohong?'
"Untuk apa aku berbohong honey?"
"Entahlah"
Arick hanya tersenyum menanggapi Zizi..dia memang tidak pernah berkencan sebelumnya..yang dia lakukan bersama Zizi adalah yang pertama untuknya.
"Kau yang pertama dalam berbagai hal baru yang pernah aku lalui bersamamu..sakit,takut kehilangan,kesepian, keceriaan, bahagia,sedih dan banyak hal lainnya sejak aku memiliki kalian dalam hidup ku..kalian adalah yang paling berarti untukku"