
Arick masuk kedalam ruangan dimana Zizi berada..dia melihat Zizi yang tengah terbaring dengan wajah pucat namun tak sepucat tadi ketika dia membawanya ke rumah sakit.
Perlahan Arick mendekat pada ranjang Zizi..dia usap surai coklat Zizi..entahlah perasaannya saat ini sedang tak menentu.
"Kenapa aku harus kasihan padamu sedangkan orangtuamu sama sekali tak merasa kasihan pada ibuku..harus ku apakan kau Zi?"
Arick benar-benar tak suka dengan situasi saat ini.
"Cepatlah sadar karena balas dendamku belum selesai..kau tak ku ijinkan mati sebelum tanganku sendiri yang melenyapkanmu"
Arick duduk di sofa yang berada di samping ranjang Zizi..sebelumnya Arick mandi dan berganti pakaian terlebih dulu karena pakaiannya terdapat banyak darah Zizi.
Dia takkan membiarkan orang yang telah mencoba menghabisi Zizi tenang karena hanya dengan tangannya lah Zizi boleh mati.
Arick duduk di sofa merilekskan badannya yang terasa pegal dan lelah..belum sempat dia menyender pintu ruangan itu sudah terbuka dan terlihatlah Zemi sang asisten.
"Mister..maaf mengganggu"
"Katakan"
"Mister pelaku sudah di temukan dan sudah di amankan"
"Bagus..tunggu dia sadar barulah aku bermain"
"Baik mister"
Zemi meninggalkan kamar Zizi dan menutupnya kembali serta mengarahkan penjagaan ketat pada tuannya dan Zizi.
Arick kembali bangun dan mengunci pintu kamar ruangan Zizi..dia tak mau kecolongan kedua kalinya..dia tak suka.
*
*
.....Malamnya....
Tengah malam Zizi membuka matanya..dia melihat sekelilingnya..rumah sakit..ah ya dia baru ingat kejadian kemarin.
Zizi melihat seorang pria tengah berbaring di sofa ruangan dimana dia di rawat..kasihan dia harus tidur di sofa..pasti badannya sakit-sakit nanti.
"Kasihan..maafkan aku Arick"
Zizi berusaha turun dari ranjang karena dia ingin ke kamar kecil..perutnya mual dan kepalanya sedikit pusing..sebenarnya dia kenapa.
Zizi turun dengan perlahan agar tak menimbulkan suara dan malah membangunkan Arick..dia kasihan dan tak enak sudah merepotkan pria yang dia kira penolongnya.
"Hoekkk..hoekkk"
Zizi memuntahkan semua isi perutnya..mungkin efek obatnya..Zizi tak tau mengenai kondisi yang sebenarnya..dia akan menanyakan pada Arick nanti atau besok saja.
Suara Zizi membangunkan Arick yang memang tak tenang dalam tidurnya..dia membuka matanya dan melihat ke sisinya..kosong..dimana gadis itu.
Tak berapa lama Arick mendengar suara muntahan dari kamar kecil..dia bangun dan menuju dimana suara itu berasal.
Zizi menoleh dan melihat Arick tengah menatapnya di ambang pintu.
"Arick..maaf aku membangunkanmu"
"Tidak..sudah selesai?"
"Hm..kau mau menggunakan kamar kecil ya?"
"Tidak..ayo aku bantu"
"Terimakasih"
Zizi di papah Arick menuju ranjang..dia dengan telaten membaringkan Zizi dan membenarkan posisi ranjang Zizi agar lebih nyama.
"Terimakasih Arick"
"Tidak masalah..bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik..sebaiknya kau pulang saja Arick..aku tidak apa sendirian"
"Tidak mau"
"Tap__"
"Tidak ada bantahan"
"Huhh..baiklah"
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing..entah apa yang mereka pikirkan hanya mereka dan tuhan yang tau.
"Kau lapar?" tanya Arick membuka kembali percakapan.
"Tidak..perutku hanya mual"
"Itu efek obatnya..bersabar lah"
"Obat?"
"Ya..tidak usah banyak tanya sekarang fokuslah pada kesehatanmu"
"Huhh baiklah..kau,jika ingin berbaring di sini saja..kebetulan ranjangnya besar daripada di sofa nanti badanmu sakit semua"
Arick memang sengaja memesan kamar yang ranjangnya besar agar muat untuk 2 hingga 3 orang.
"Kau mau di peluk?" tanya Arick menggoda.
"Hah..ti..ti..dak..bu..kan..i..tu.mak..sud..ku"
"Iya aku tau..baiklah jika kau menginjinkan"
Arick menuju ranjang di sisi Zizi..sekarang Zizi merutuki mulut sialannya yang sudah mengijinkan Arick berbaring seranjang dengannya..jantungnya berdeguk-deguk ria bak marathon..oh tuhan perasaan apa ini.